Hardi Prasetyo : KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’

Dalam menyambut setahun BPLS, PAk Hardi Prasetyo dari BPLS kembali menuliskan makalah sains. Walaupun kali ini Pak Hardi Prasetyo berbicara soal Tampomas di Segitiga Masalembo, namun semangat bahwa didalam setiap kebencanaan akan muncul pemikir-pemikir baru yang akan bermanfaat.

Beliau sebagai anggota BPLS mengajak kita untuk tidak berhenti berpikir pada apa penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo saja tetapi juga meneliti fenomena alam ini sebagai wacana ilmiah

😦 “Wah Pakdhe, Sepertinya penelitian ilmiah dengan tragedi Lusi ini memang diteruskan ya Pakdhe ?”
😀 “Betul Thole, Pak Menteri Teknologi Kusmayanto yang secara politis menyatakan Lusi sebagai bencana alam jtidak boleh brenti disini saja. Beliau justru menjadi orang yang bertanggung jawab untuk meneruskan dan mendukung penelitian ilmiah soal Lusi ini, Thole”

Kali ini Pak Hardi melakukan flash back atau klias balik bagaimana beliau selalu dihadapkan pada tragedi ketika sedang berpikir ilmiah.

KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’ DALAM UPAYA MENCARI ‘MIGAS’ SEBAGAI SUMBER DAYA ALAM TAK TERBARUKAN DI KAWASAN FRONTIER
Baca lebih lanjut

Rodinia, Pangaea, Laurasia dan Gondwana – Bagian 2

Dongengnya Cak Min – Minarwan

Ini artikelnya tapi terbagi 2 bagian, pertama mengenai Alfred Wegener & Teori Continental Driftnya dan kedua mengenai informasi umum tentang Pangaea. Saya perlu baca lebih banyak untuk masuk ke level yang lebih detil.Maaf enggak ada gambar, soale attachment juga enggak bisa masuk ke milis kan? 🙂

Salam
Minarwan
++++++++
Alfred Wegener & Teori Continental Drift


Tiga abad sebelum ALFRED LOTHAR WEGENER (1880-1930) membuktikan bahwa
kemiripan garis pantai sebelah timur benua Amerika Selatan dengan
pantai sebelah barat benua Afrika terjadi karena kedua benua itu
pernah “bersatu”, ABRAHAM ORTELIUS pembuat peta asal Belanda telah
mengamati fenomena yang sama dan berpendapat bahwa Amerika dipisahkan
dari Eropa dan Afrika oleh gempa bumi dan air bah (1596). Baca lebih lanjut

Rodinia, Pangaea, Laurasia dan Gondwana – Bagian 1

Dongengnya Cak Min – Minarwan

Seberapa sering kita membaca atau mendengar istilah seperti Rodinia, Pangaea, Laurasia dan Gondwana? Hanya sesekali? Kemungkinan besar memang demikian, karena sejarah geologi Indonesia, terutama di bagian
barat, lebih didominasi istilah-istilah seperti Kenozoik; Tersier dan Kuarter; Paleosen, Eosen, Oligosen, Miosen, Pliosen, Pleistosen dan Holosen. Kebetulan, umur geologi batuan-batuan yang sering kita jumpai
pada saat masih kuliah dan ketika bekerja berkisar antara 60 juta sampai sekitar 2 juta tahun yang lalu, kira-kira Paleosen =96 Pliosen, saat Gondwana sudah terpecah dan dipisahkan oleh Samudera Hindia.Sebagai selingan diskusi di milis, saya buatkan tulisan berseri (mudah-mudahan bisa 1 minggu sekali), mengenai ke empat nama beken di atas. Dalam cerita pendek kali ini, kita akan fokus pada Rodinia, superkontinen Proterozoik (Mesoproterozoik sampai Neoproterozoik) hasil gothak-gathuk lempeng tektonik yang dilakukan oleh para ahli geologi. Baca lebih lanjut

Sumatra : Living on the Edge

Belum seminggu berlalu sejak wilayah Simeulue digoncang gempa pada 20 Februari 2008, sektor sebelah selatannya, Mentawai, digoncang gempa pula pada 25 Februari 2008. Kedua gempa merupakan gempa besar >7.0 Mw dan dangkal < 60 km. Tsunami tidak terjadi di kedua gempa tersebut. Korban tewas di bawah sepuluh orang. Beberapa bangunan rusak dan hancur. Wajar kalau penduduk sepanjang pantai barat Sumatra dan pulau2 di sebelah baratnya kuatir terus-menerus sebab wilayah ini tak pernah aman dari ancaman gempa dan tsunami, lebih-lebih lagi setelah gempa besar berkekuatan 8,9 SR dan tsunami masif menghancurkan wilayah utara Sumatra menewaskan korban sekitar 150.000 orang. Baca lebih lanjut