Kiamat di Babo (Papua Petroleum Exploration 1930s)

Ini kisah lama, sekitar 75 tahun yang lalu, mungkin masih menarik untuk diketahui lebih luas sebab selama ini hanya tersimpan di buku-buku lama, yang sulit terbuka untuk umum.

Ini kisah eksplorasi minyak di Papua, pulau terakhir yang dieksplorasi Belanda di Indonesia.

Tahun 1935, NNGPM (the Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij) mulai mengeksplorasi bagian barat Papua (Vogel Kop – Bird’s Head, alias Kepala Burung) seluas 10 juta hektar.

Baca lebih lanjut

Ekspedisi Satonda 2008, Sumbawa (BPMIGAS)

satonda-2

Pulau Satonda dengan danau seluas 0.8 Sq Km di tengahnya

By : Awang Harun S

Ilustrasi : RDP

Menyelami sebuah danau kecil di sebuah pulau kecil bernama Satonda adalah seperti melihat awal kehidupan di planet Bumi. Minggu lalu, kami berempat belas dari BPMIGAS, bersama dua dosen geologi dari UGM (Pak Agus Hendratno dan Pak Salahuddin Husein) dan seorang pejabat sekaligus geologist dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) (Pak Heryadi Rachmat) mendatangi pulau di seberang kaki Gunung Tambora, Sumbawa ini.

Mengapa kami jauh-jauh dari Jakarta mendatangi pulau kecil yang gambarnya belum tentu ada di setiap atlas anak sekolah ini ? Untuk mencapainya saja dibutuhkan angkutan udara, darat, dan laut selama 18 jam. Baca lebih lanjut

Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo

Kali ini aku crosspost tulisan Pak Dosenku di Geologi UGM sehubungan dengan penambangan pasir besi di Kulon Progo.

Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo
OLeh : Sukandarrumidi

PERLU penyadaran bersama, zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Kekayaan pasir besi di Kulonprogo yang terhampar di lahan seluas 3.000 hektar bukanlah barang yang harus ditelantarkan. Bila tanah seluas itu dikelola dengan baik, masyarakat menyadarkan pengusaha dan pemerintah membudidayakan masyarakat, bukan tidak mungkin keinginan untuk menambang pasir besi masih ada peluang. Tergantung bagaimana kita. Baca lebih lanjut

Capetown : Perbenturan dan Perpisahan Antarbenua

capetownWalaupun bukan melulu khusus tentang geologi. Pak Awang cerita tentang perjalanannya ke CapeTown Afrika.

Ini cerita tersisa dari Capetown, sebuah kota nan indah yang terbuai di tiga bukit dan pegunungan Paleozoikum : Devil’s Peak, Table Mountain, dan Lion’s Head. Kota ini pun menjadi saksi di mana Samudra Atlantik bertemu dengan Samudra Hindia. Mungkinkah menyelam sekaligus di dua samudra ? Mungkin saja, salah satunya di perairan sekitar Tanjung Harapan di sebelah selatan Capetown. Bagaimana uniknya ikan-ikan dari dua samudra bertemu di satu tempat ditunjukkan oleh aquarium besar di Waterfront sea world, suatu kawasan wisata yang paling banyak dikunjungi turis di Capetown. Dulu (1488) Bartolomeus Dias dan para pelautnya dari Portugal menamai tanjung di ujung selatan Afrika dekat pertemuan kedua samudra itu sebagai Tanjung Badai akibat kondisi cuaca dan laut yang ganas, tetapi raja Portugal menggantinya sebagai Tanjung Harapan (Baik) -Cape of Good Hope sebab justru penemuan Dias berguna untuk membuka jalan ke wilayah tropika. Baca lebih lanjut

Mencari Kebenaran Ilmiah

Tulisan Pak Koesoema dibawah inimenggugah kita untuk terus mencari kebenaran. Perlu diingat bahwa kebenaran science pasti akan sementara. Hampir semua scientist akan mencoba mengungkap kebenaran versi dirinya. Perjalanan yang saya beri judul “Mencari Kebenaran Ilmiah” ini dicatat Pak Koesoemadinata dibawah ini dalam pengungkapan fakta terlahirnya Lusi (Lumpur Sidorajo.

Mencari Kebenaran ilmiah

oleh Prof Dr RP. Koesoemadinata

Saya kagum atas keteguhan dari Sdr. Awang ini dalam mempertahankan pendapat ilmiahnya. Ini mengingatkan saya pada A.A. Meyerhoff, salah seorang editor AAPG tahun 70-han yang sangat terkenal sebagai geoscientist kaliber dunia, yang sampai akhir hayatnya (di tahun 90-an?) tidak dapat menerima teori Plate-tectonics, walaupun lebih dari 90 % (bahkan mungkin lebih dari 99%) geoscientist di seluruh dunia telah menerima plate-tectonics sebagai suatu fakta ilmiah atau kenyataan. Beliau bahkan sempat mempublikasikan suatu teori tandingan berjudul “Surge Tectonics” (yang dapat menerangkan gejala-gejala tektonik dunia yang kelihatannya hanya dapat dijelaskan dengan plate-tectonics) yang setelah ditolak oleh editor2 di majalah-majalah ilmiah terkemuka di dunia akhirnya diterbitkan pula oleh Journal of SE Asia Geosciences. Baca lebih lanjut

East Indies Episode (Fabricius, 1949) : Bumi Hanguskan Minyak !

Monumen Bandung Lautan Api

Monumen Bandung Lautan Api

Tulisan Pak Awang H S

“East Indies Episode” adalah judul sebuah buku tulisan Johan Fabricius tahun 1948. “Bumi Hanguskan Minyak !” adalah instruksi resmi Pemerintah Hindia Belanda dari Batavia ke seluruh lapangan minyak di Borneo, Sumatra, Papua dan Jawa pada 8 Desember tahun 1941 beberapa jam setelah pecahnya Perang Pasifik. Ada apa ini ?

😦 “Wah Pakdhe, mosok kok trus aneh-aneh gini ya manusia itu. Gimana kok bisa muncul pikiran lebih baik mati ketimbang malu”

Baca lebih lanjut

Teknologi Petrobras: Buah Riset selama sekitar 50 tahun

No ImageMungkin ada yang penasaran Petrobras yang mulai jadi belalang akhir-akhir ini (maksudte naik daun). Ya Petrobras adalah perusahaan minyak Brasil yang sudah mulai merambah dunia, memperkuat jajaran NOC (National Oil Co) dalam bersaing dengan IOC (International Oil Company).

Cak Min, adalah seorang Geologist Indonesia lulusan Geologi UGM, yg saat ini bekerja di YPF di Spain (Spanyol) mendongeng tentang Petrobras. Cak Min merupakan salah satu candidate Doctor di bidang Geologi dr Monas University. Baca lebih lanjut