Ekspedisi Satonda 2008, Sumbawa (BPMIGAS)

satonda-2

Pulau Satonda dengan danau seluas 0.8 Sq Km di tengahnya

By : Awang Harun S

Ilustrasi : RDP

Menyelami sebuah danau kecil di sebuah pulau kecil bernama Satonda adalah seperti melihat awal kehidupan di planet Bumi. Minggu lalu, kami berempat belas dari BPMIGAS, bersama dua dosen geologi dari UGM (Pak Agus Hendratno dan Pak Salahuddin Husein) dan seorang pejabat sekaligus geologist dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) (Pak Heryadi Rachmat) mendatangi pulau di seberang kaki Gunung Tambora, Sumbawa ini.

Mengapa kami jauh-jauh dari Jakarta mendatangi pulau kecil yang gambarnya belum tentu ada di setiap atlas anak sekolah ini ? Untuk mencapainya saja dibutuhkan angkutan udara, darat, dan laut selama 18 jam.

Target utama kami adalah ingin mempelajari “stromatolit” – struktur terumbu gampingan berlaminasi yang tersusun oleh mikroba bakteri dan ganggang (suka disebut sebagai sembulan mikrobialit). Stromatolit mendominasi lautan di planet Bumi pada kurun PraKambrium. Ia adalah bentuk pertama struktur kehidupan yang masif. Organisme mikroba prokariotik yang melakukan fotosintesis ini telah membuat atmosfer Bumi pada PraKambrium yang miskin oksigen menjadi berangsur kaya oksigen. Tragisnya, semakin kaya oksigen, kehidupan multisel semakin berkembang di lautan PraKambrium, dan organisme multisel inilah yang memakan bakteri dan ganggang pembuat stromatolit. Maka, memasuki masa Paleozoikum Atas, struktur stromatolit hampir tidak pernah ditemukan lagi. Lalu mengapa tiba-tiba stromatolit ini muncul di danau modern (Kuarter) Satonda ?

Jawaban pendeknya adalah karena air Danau Satonda secara kimiawi menyerupai lautan PraKambrium. Semakin dalam menyelam, seolah pintu ke kurun PraKambrium semakin terbuka lebar. Tidak pada setiap zaman geologi hadir hewan karang (scleractinian coral) pembentuk terumbu karang seperti pembangun reservoir-reservoir migas Miosen di Indonesia dan terumbu karang yang indah di wilayah tropis. Pada masa Paleozoikum Bawah (Kambrium-Ordovisium-Silur), terumbu gampingnya adalah bukan terumbu karang, tetapi terumbu stromatolit yang disusun mikroba bakteri dan ganggang. Nah, karena telah terjadi kecenderungan bahwa eksplorasi migas mulai bergerak ke masa Paleozoikum Bawah, kami dari BPMIGAS memandang perlu mendatangi analog modern lingkungan PraKambrium-Paleozoikum Bawah yang telah tersedia secara unik di sebuah pulau volkanik kecil bernama Satonda. Di sana kami mempelajari lingkungan pembentukan stromatolit dan kemungkinannya sebagai reservoir migas. Kami berharap
bahwa setelah mempelajarinya, kami akan dapat membangun model prediksi di mana di Indonesia dapat berkembang terumbu stromatolit Paleozoikum Bawah, sekaligus kemungkinannya sebagai reservoir migas.

satonda-1

Pulau Satonda yang terletak di sebelah utara Gunung Tambora yang merupakan gunung dengan letusan terbesar yang tercatat (tertulis) dalam sejarah manusia. Letusannya menyebabkan Eropa kehilangan musim panas dalam satu tahun. A year without summer

Dari Jakarta, kami berangkat hari Kamis 4 Desember menggunakan Garuda GA 430 pukul 11.15. Kami tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 14.00 WITA. Setelah bergabung dengan Pak Agus dan Pak Udin (UGM) dan Pak Heryadi Rachmat (Pemda NTB) di Mataram, rombongan melintasi jalan tengah Pulau Lombok menuju Kahyangan, nama pelabuhan penyeberangan ke Pulau Sumbawa yang terletak di bibir pantai timur Pulau Lombok. Di sepanjang perjalanan, tubuh gunungapi Rinjani dan endapan piroklastikanya membuat lahan Lombok menjadi subur. Kapal ferry yang akan membawa kami ke Sumbawa penuh dengan mobil pribadi, truk, dan bus yang akan menyeberang. Pukul 19.00, bus yang kami sewa baru dapat giliran menyeberang. Sebagian dari kami ada yang tidur di dek yang bersusun, ada juga yang ngobrol-ngobrol dan bercanda di geladak kapal sambil menikmati angin laut yang berhembus di atas Selat Alas – selat yang memisahkan Lombok dan Sumbawa. Pukul 21.00, kapal berlabuh di Pototano, lalu
bus dengan kecepatan tinggi memacu jalannya menuju kota Sumbawa Besar. Di luar gelap dan hujan turun rintik-rintik. Pukul 23.00 kami tiba di sebuah hotel di dekat dermaga penyeberangan ke Pulau Satonda. Meskipun cukup melelahkan, sebagian besar dari kami tak dapat tidur sampai pukul 02.00; padahal pukul 05.30 esoknya kami harus bersiap-siap menyeberang ke Satonda.

Jumat 5 Desember pagi hari sambil sarapan kami mendapatkan cerita dari dua teman kami yang kamarnya diganggu ”penunggu” hotel ini (hm..). Ranjangnya diangkat dan dimiringkan, pintu pagarnya digoyang-goyang, pintu digedor-gedor, dll. Antara sadar dan tidak, teman itu bercerita apakah ada gempa semalam. Kami bingung menanggapinya sebab tak ada seorang pun yang merasakan gempa semalam. Pukul 06.15 kami memulai perjalanan laut menuju Satonda menyeberangi Teluk Saleh dan Selat Batahai yang sangat indah. Suasana laut yang begitu biru dan teduh karena terlindung oleh Pulau Moyo dari gelombang Laut Flores di sebelah utara, membuat kami yang umumnya ngantuk karena kurang tidur menjadi semangat. Semua kawan ingin merasakan terpaan angin laut pagi hari, maka kami duduk di puncak anjungan kapal atau di geladak depan kemudi. Sejauh mata memandang adalah laut biru dan biru. Awan putih berarak di langit yang juga biru. Di kejauhan nampak Pulau Moyo yang dibentengi
terumbu karang modern yang terangkat. Siapa yang menyangka kalau di tepi pulau ini ada sebuah resort internasional yang memasang tarif 1000 USD per malam dan pernah dikunjungi Lady Diana semasa hidupnya. Pukul 10.15 kami tiba di depan Pulau Satonda. Kapal membuang jangkar beberapa ratus meter dari bibir pantai agar tak kandas. Dengan perahu motor kami diantar menginjak Pulau Satonda.

Hampir empat jam kami gunakan mengeksplorasi pulau ini. Dari luar, pulau ini tak berbeda dengan pulau-pulau lain di sekitarnya. Siapa yang menyangka, begitu kami masuk ke dalamnya mengikuti jalan setapak naik dan turun, tiba-tiba kami disuguhi pemandangan yang spektakular : Danau air asin Satonda yang berwarna hijau kebiruan dikelilingi tebing berhutan lebat yang dibangun oleh lava dan tuf. Danau ini baru terbuka kepada ilmu pengetahuan ketika pertama kali ditemukan tahun 1984 melalui ekspedisi Snellius II. Buat penghuni di sekitarnya tentu saja danau ini sudah diketahui keberadaannya seumur penghunian di wilayah ini, tetapi ia baru diketahui sangat berharga untuk ilmu pengetahuan setelah ekspedisi Snellius II. Ternyata, Danau Satonda adalah satu dari hanya sekitar lima tempat di Bumi yang menyerupai lautan PraKambrium. Di Indonesia, ia diketahui satu-satunya.

satonda-lakeBegitu mendekati bibir danau, kami disuguhi singkapan stromatolit Kuarter di atas permukaan danau yang tentu saja organismenya sudah mati dan membangun struktur terumbu masif. Gambaran kasat mata, terumbu stromatolit ini menyerupai terumbu karang yang dibangun scleractinian coral, tetapi ia sama sekali tak mengandung koral. Kesan kemiripannya berasal dari semen dan matriks gampingannya. Perbedaan yang segera bisa terlihat adalah struktur laminasi yang bisa ditemui di beberapa bagian singkapan. Keunikan stromatolit Danau Satonda adalah bahwa ia bersatu tempat lingkungan dengan endapan piroklastika berupa lava andesit basaltik dan tuf. Tidak mengherankan sebab Danau Satonda sesungguhnya adalah danah kawah gunungapi.

Kesan bahwa ini merupakan miniatur laut pada Kurun PraKambrium akan diperoleh bila kita melakukan snorkeling dan menyelam. Seorang teman kebetulan membawa kamera digital bawahair, maka sambil melakukan snorkeling foto-foto bawahair diperoleh. Perahu motor yang mengantar kami dari kapal tadi diangkut banyak awak kapal melalui jalan setapak naik turun menuju danau. Baru kali itu saya melihat perahu berat diangkut ramai-ramai naik-turun bukit. Tadinya memang kami akan menggunakan perahu karet, tetapi sobek saat diturunkan dari kapal. Dengan perahu itu, sebagian dari kami mengelilingi seluruh kawasan danau mengamati stromatolit yang tersingkap maupun yang masih hidup mulai dari kedalaman sekitar 5 meter. Bagaimana makhluk hidup di danau ini ? Sepi sekali. Hanya stromatolit, ganggang hijau yang mengambang sampai permukaan, keong gastropoda kecil berwarna hitam yang tak lebih besar dari ujung pinsil, dan ikan-ikan sebesar teri berwarna hitam. Itu saja yang
sempat kami saksikan. Air danau adalah air asin, air laut. Hasil penelitian para ilmuwan yang pernah mendatangi danau ini dan menyelaminya sampai dalam (sayangnya seluruhnya adalah ilmuwan asing), kimia air ini sangat basa (alkalin) dengan salinitas yang semakin tinggi semakin dalam. Kondisi ini ekstrim untuk kehidupan normal saat ini, sehingga yang bisa bertahan hidup hanya organisme yang cocok dengan kondisi itu atau yang telah mengalami perubahan evolusi (spesiasi terhadap lingkungan). Karena stromatolit berlimpah pada kurun PraKambrium, maka lautan pada kurun itu dipikirkan juga sebagai lautan yang alkalin mirip analognya sekarang (”the present is the key to the past”). Diskusi tentang stromatolit PraKambrium dan lingkungannya serta kimia air laut Satonda dapat dilihat di bawah.

Bagaimana peluang stromatolit sebagai reservoir migas ? Sangat baik – istimewa. Dari contoh-contoh singkapannya di Danau Satonda kami melihat bahwa porositasnya sangat berkembang baik secara primer melalui batas-batas struktur laminasinya, maupun sekunder melalui diagenesis ganggang dan struktur bakterinya. Secara mineralogi, kedua mikroba ini disusun oleh Mg-Ca dan aragonitik, sehingga mudah terdisolusi mengembangkan porositas. Maka, kalau di Indonesia ditemukan lapisan terumbu stromatolit di Paleozoikum Bawah, potensinya sebagai reservoir akan baik.

Setelah puas meneliti Danau Satonda, kami kembali mengikuti jalan setapak naik dan turun menuju bibir pantai yang berhubungan dengan laut lepas tepi Laut Flores. Di jalan pulang kami berpapasan dengan sekitar sepuluh turis asing (Amerika) anak-anak dan dewasa, lelaki dan perempuan, yang hendak berenang di Danau Satonda. Hm, tempat seterpencil Satonda masih juga diketahui mereka. Tentu saja, sebab Satonda adalah salah satu aset pariwisata Sumbawa di samping Tambora. Dan, ia pun aset penting ilmu pengetahuan. Beberapa turis asing ini berbaik hati saat pulang ikut mengangkat perahu motor kami dari Danau Satonda.

Di pantai Satonda yang berhubungan dengan laut lepas Laut Flores, kami melakukan snorkerling dan pemandangannya sungguh luar biasa. Betapa indahnya terumbu-terumbu karang yang masih hidup itu, dengan berbagai bentuk dan warna, berkedip dan berdenyut atau melambai bergerak-gerak oleh godaan air laut. Sementara itu puluhan jenis ikan karang yang warnanya sangat indah dan kontras berenang-renang di antara bunga karang. Ini tak berbeda dengan pemandangan terumbu karang di Kepulauan Seribu, atau di Bunaken, atau di Taka Bone Rate, atau di Raja Ampat, dan di tempat-tempat lain.

Bandingkan, dalam jarak yang tak sampai satu km, kehidupan di dalam Danau Satonda yang juga diisi air laut, dengan kehidupan di tepi pantai Satonda, sangat jauh – ibarat tanah dengan langit. Kehidupan di Danau Satonda sangat sepi dan suram, sementara di tepi pantai Satonda sangat ramai dan ceria. Apa yang menyebabkannya ? Kimia air laut dan lingkungan geologi kedua wilayah berjarak tak sampai satu km itu sangat jauh. Saya baru percaya bahwa Danau Satonda benar-benar merupakan analogi lautan PraKambrium yang alkalin, kehidupan bersel tunggal, sepi, didominasi stromatolit, evolusi awal kehidupan setelah membandingkan dua kontras ini. Boleh dibilang bahwa dalam jarak tak sampai satu km dari Danau Satonda ke pantai Pulau Satonda kita melangkah dari kurun PraKambrium ke Resen –suatu perjalanan 1000 juta tahun.

Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Tambora yang pernah meletus secara katastrofik pada tahun 1815 dan sampai saat ini menduduki peringkat teratas di dunia dalam letusan gunungapi dalam sejarah manusia. Konon gunung ini pernah setinggi 4200 meter, membuat gunungapi tertinggi di seluruh kawasan Hindia Timur (Indonesia sekarang). Indeks letusan gunungapi ini menduduki angka 7 – itu adalah angka tertinggi, dengan energi empat kali lebih besar dari energi letusan Krakatau 1883 yang menduduki indeks angka 6. Letusan Tambora ini pernah membuat dunia tanpa musim panas sehingga kelaparan dan penyakit melanda di mana-mana di seluruh dunia. Gunung di ujung utara Sumbawa inilah biang bencana saat itu. Sore itu kami akan mengamati urutan endapan piroklastikanya yang tersingkap di pantai bernama Pantai Kenanga.

Setelah sampai di seberang Pantai Kenanga, beberapa dari kami kembali diantar menggunakan perahu motor. Kami mendarat di bibir pantai dan segera disambut pasir besi berwarna hitam yang panas. Pasir besi ini adalah penyaring air laut yang baik. Penduduk setempat menggali tak sampai satu meter di pinggir pantai akan menemukan air tawar. Di tebing pantai kami mengamati singkapan piroklastika letusan Tambora 1815. Letusan Tambora yang hebat berlangsung empat bulan dari April – Juli 1815. Setiap letusan mengirimkan endapan piroklastikanya, sebagian ke wilayah ini dan terawetkan. Beberapa batang pohon yang telah mengarang dan menyerpih tertanam di dalam tuf. Tuf dan batu apung banyak menyusun singkapan, mencirikan bahwa magma asam diletuskan dengan kekuatan yang besar. Batang-batang pohon itu dulunya mesti berasal dari hutan di lereng Tambora yang diserbu awan panas dengan gelombang kecepatan hempasannya mencabut pepohonan dan membakarnya kemudian
mencampuradukkannya dengan abu gunungapi sampai kemudian tersingkap menjadi kesatuan. Arang dari pohon ini baik kalau ditera umurnya menggunakan pentarikhan umur absolut menggunakan karbon-14.

Pengamatan hari ini berakhir pukul 16.00, kami kemudian menempuh perjalanan laut selama empat jam kembali ke hotel di Sumbawa Besar, menyeberangi Teluk Saleh. Dari kejauhan kami mengamati terumbu koral Kuarter yang terangkat membentengi pulau-pulau di dekat Selat Batahai. Terumbu koral terangkat ini adalah suatu bukti bahwa pulau-pulu ini masih terangkat didesak dari bawah oleh mekanisme Sesar Flores yang terkenal itu. Malam hari di atas pukul 19.00 langit gelap di atas anjungan dan geladak kapal berhiaskan semburat bintang-gemintang yang sangat indah – sebagian badan galaksi Bima Sakti yang semburatnya di langit membentuk jalur sejajar dengan arah kapal bisa saya lihat, juga rasi bintang paling mudah diamati di langit : Orion – yang dicirikan sabuk bertatahkan tiga bintang di ikat pinggang sang pemburu itu. Pukul 20.00 kami sampai di hotel dan tentu saja segera makan malam setelah kegiatan melelahkan tetapi sangat menyenangkan hari ini. Sampai pukul
22.30 kami masih melanjutkan diskusi, mereview apa yang kami lihat hari ini. Sampai pukul 24.00 saya bersama Pak Heryadi Rachmat masih berdua di loby hotel menyusun bahan presentasi tentang potensi migas NTB untuk disajikan esok harinya kepada para pejabat Pemda NTB.

Sementara itu, di sebuah kamar/bungalow hotel yang ditempati seorang teman yang malam sebelumnya diganggu “penunggu” hotel, sampai pukul 03.00 ternyata masih mengalami gangguan. Seorang teman yang memiliki kemampuan supranatural soal “alam” ini membenarkan bahwa memang ada gangguan itu. Tetapi hanya menakut-nakuti, bukan untuk yang lain. Di tempat terpencil seperti ini, saya pikir wajar saja kalau itu terjadi.

Sabtu 6 Desember 2008 pagi hari kami sarapan di hotel sambil bersiap pulang kembali ke Lombok. Pukul 08.00 kami mulai melakukan perjalanan menuju Pototano, pelabuhan penyeberangan Sumbawa-Lombok. Pukul 10.30 kami tiba di sana. Pemandangan sungguh indah buat seorang geologist walaupun gersang sebab banyak bukit gundul baik di darat maupun di laut. Saat perjalanan pergi pada Kamis malam kami tak melihatnya sebab saat itu gelap dan sedikit hujan. Pukul 11.00-13.00 kami menyeberangi Selat Alas. Tiba di Pelabuhan Kahyangan, Gunung Rinjani yang perkasa kembali kami lihat. Tak jauh dari pelabuhan, kami berhenti di sebuah bukit tandus yang disebari bongkah andesit basaltik hasil letusan Rinjani. Keunikannya adalah bahwa piroklastika di bukit ini bersatu tempat dengan batugamping terumbu – mencirikan bahwa tumpahan piroklastika masuk ke dalam laut yang ditumbuhi karbonat terumbu.

Pukul 15.00 kami berhenti di sebuah objek wisata Narmada –sebuah istana Kerajaan Lombok-Karangasem yang didirikan tahun 1775. Yang menarik dari Narmada adalah bangunan/arsitektur kolam-kolam airnya yang luar biasa, kelihatan sangat kokoh dan indah. Tentu pada saat dibangun, telah menggunakan keahlian lokal dalam merancang dan membangunnya. Pukul 16.30 kami tiba di Senggigi dan menginap di sebuah hotel di kawasan pantai paling terkenal di Lombok ini.

Malam hari dari pukul 19.00-23.15 kami mengadakan acara di tepi pantai Senggigi berupa makan malam, hiburan, presentasi teknis, dan pemutaran film – sebuah ramuan acara yang unik menggabung hiburan yang santay dan presentasi teknis yang serius. Beberapa tamu turis asing pun ikut menikmati acara kami itu di meja-meja dekat restoran. Saat makan malam, hujan mulai rintik-rintik turun. Wah…padahal panggung dan meja-meja telah disusun rapih. Pawang hujan pun dipanggil, dan dengan kekuatan magisnya yang tak bisa dipahami terlihat mega mendung mulai beringsut ke Mataram. Lalu bulan pun kembali terlihat dan langit cerah sampai acara usai. Di Mataram sementara dikabarkan turun hujan (hm..). Sekitar 15 orang pejabat dari Pemda NTB hadir dan larut bersama kami dalam acara-acara yang telah disusun. Presentasi teknis ada dua, yaitu : (1) mengenalkan fungsi dan peranan BPMIGAS di Indonesia ditambah dengan gambaran eksplorasi migas secara umum, dan (2) menunjukkan
ringkasan dan hasil kegiatan ekspedisi atau ekskursi kami ke Pulau Satonda, dan potensi migas wilayah Lombok-Sumbawa. Acara berakhir dengan pemutaran film koleksi Pak Heryadi Rachmat tentang : erupsi Tambora, penelitian Satonda, dan letusan Gunung Rinjani.

Minggu 7 Desember 2008 pukul 14.20 kami meninggalkan Lombok kembali menuju Jakarta dengan Garuda GA 433.

Ekspedisi/ekskursi yang kami lakukan, dibantu oleh UGM dan Pemda NTB, serta melibatkan perusahaan jasa event organizer di Jakarta, dan perusahaan jasa pariwisata di Lombok telah berjalan dengan sukses, lancar dan selamat. Target yang kami rancang jauh-jauh hari semuanya tercapai. Buat seorang geologist seperti saya, pekerjaan lapangan adalah suatu kemutlakan, juga bermanfaat untuk kawan-kawan nongeologi, mereka mengenal bagaimana geologi dan pekerjaan seorang geologist.

Perjalanan ini juga mendapatkan liputan yang cukup luas dari media-media lokal maupun nasional. Seorang wartawan Kantor Berita Antara bahkan mengikuti kami sejak Mataram sampai Satonda. Beberapa berita telah diturunkan di TV maupun surat kabar. Meskipun demikian klarifikasi harus dilakukan sebab ada beberapa mispersepsi dalam pemberitaan.

Semoga catatan ini bermanfaat.

Salam,
awang

— Sumber gambar : Google dan Panoramio.com

4 Tanggapan

  1. What a wonderful experience! No doubt you are a very good writer. I enjoy reading your posting very much. It is very relaxing yet full of geological science. Have a nice day.
    Regards,
    IB

  2. wah perjalanan yang luar biasa pak…

  3. kok ngga ada foto stromatolitnya Pak??

  4. mantap pak awang dongengnya. mudah2an ekspedisi2 lain yang bertema perintis akan segera menjamur di ind.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: