Ngrayong Sandstones – Shelf versus Deepwater : the Debate Continues

By Awang Harun Satyana

Para geologist yang pernah bekerja di Cekungan Jawa Timur mengenal perdebatan ini : Ngrayong sebagai endapan paparan (shelf) dan Ngrayong sebagai endapan lautdalam (deepwater/deep marine). Tidak akan jadi perdebatan kalau yang dimaksud adalah unit Ngrayong di dua tempat sebab wajar saja di satu tempat yang lebih dekat ke darat Ngrayong sebagai endapan paparan, dan di tempat lain yang lebih jauh dari darat Ngrayong sebagai endapan lautdalam. Masalahnya adalah, untuk satu tempat yang sama yaitu di wilayah Cepu, Ngrayong telah ditafsirkan secara berbeda : shelf deposits atau deepwater deposits (?). Lalu persoalan ini makin meluas sebab perdebatan di Cepu itu telah dibawa ke mana-mana di seluruh Cekungan Jawa Timur.

Dua school of thought berkembang : (1) shelf Ngrayong dan (2) deepmarine Ngrayong.

Kelompok pertama boleh kita sebut sebagai pandangan klasik. bahwa Ngrayong di Cepu adalah endapan laut dangkal atau paparan telah dianut sejak para geologist Belanda bekerja di sini sampai disertasi-disertasi doktor yang memasukkan Ngrayong sebagai bahan penelitiannya (Harsono Pringgoprawiro, 1983; Abdul Muin, 1985; Djuhaeni, 1994). Pak Abdul Muin sekarang Wakil Kepala BPMIGAS. Saat Pak Muin pertama datang ke BPMIGAS tahun 2003, saya sempat ngobrol dengan beliau soal perdebatan Ngrayong ini. Dengan Pak Djuhaeni (ITB) tentu saya pun suka ngobrol sambil lalu masalah Ngrayong ini. Kelompok pertama ini mendapat sokongan dari geosaintis Exxon, misalnya Johnstone dkk., (2006).

Kelompok kedua boleh kita sebut diwakili oleh Peter Lunt dan Wayan Ardhana, saat mengemukakan pendapatnya bahwa Ngrayong di Cepu adalah endapan lautdalam (Lunt, 1991; Ardhana, 1993), keduanya adalah geologist JOB Pertamina-Trend Tuban. Peter Lunt dan Wayan saat ini keduanya konsultan bebas. Saya cukup intensif berhubungan dengan Peter Lunt saat ia masih di Indonesia bekerja untuk Coparex dan Lundin. Dua minggu lalu saya bertemu Pak Wayan di PIT IAGI Bandung.

Kesimpulan saya ngobrol dengan “tokoh2 Ngrayong” ini menyimpulkan : mereka tetap berpendapat sesuai kelompoknya. Nah : the debate continues…

Mengapa saya tiba-tiba mengulas soal Ngrayong ini ? Sebab dua minggu lalu di PIT IAGI Bandung ada satu paper dan presentasi menarik dari kelompok pertama, ditulis dan dipresentasikan dengan baik oleh Iman Sjamsuddin (Pertamina EP) dengan co-author Pak Djuhaeni (paper ini adalah tesis master Iman, Pak Djuhaeni adalah pembimbingnya). Judul paper Iman dan Djuhaeni (2008) “Biostratigrafi dan Lingkungan Pengendapan Formasi Ngrayong di Cepu”. Paper ini adalah paper kedua yang menantang Ardhana (1993) setelah Johnstone dkk. (2006) untuk pertama kalinya menantang pemikiran Ardhana (1993).

Maka, empat paper kunci untuk memahami problem Nrayong tersedia : Lunt (1991 – PIT IAGI, Jakarta : Neogene geological history of East Java – some unusual aspects of stratigraphy), Ardhana (1993 – PIT IPA, Jakarta : A depositional model for the early Middle Miocene Ngrayong Formation and implications for exploration in the East Java Basin), Johnstone dkk.(2006 : A revised sequence stratigraphic and depositional interpretation for the Miocene clastic interval in the Cepu region, East Java Basin, Proceedings Simposium Jakarta2006), dan Sjamsuddin dan Djuhaeni (2008, PIT IAGI, Bandung : Biostratigrafi dan Lingkungan Pengendapan Formasi Ngrayong di Cepu). Sebenarnya ada satu dua paper dipublikasi geosaintis Exxon Cepu di simposium Geoscience Jakarta 2006, tetapi tak spesifik membahas perdebatan soal Ngrayong itu.

Saya kutipkan kesimpulan paper terbaru soal Ngrayong ini dari Sjamsuddin dan Djuhaeni (2008) << Lingkungan tempat diendapkannya Formasi Ngrayong sampai saat ini masih diperdebatkan. Penelitian mengenai lingkungan pengendapan Formasi Ngrayong dengan menggunakan data yang komprehensif, antara lain biostratigrafi dan litostratigrafi, akan memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai batas interval, umur serta lingkungan pengendapan dari Formasi Ngrayong, khususnya di daerah Cepu. Formasi Ngrayong di daerah Cepu dibatasi oleh batugamping Formasi Bulu pada bagian atas dan batugamping Formasi Tawun pada bagian bawah, serta terdiri dari tiga kelompok fasies, yaitu fasies batupasir, batugamping dan serpih. Formasi Ngrayong pada daerah Cepu diendapkan pada lingkungan paparan. Pengendapan Formasi Ngrayong ditafsirkan berhenti pada lingkungan paparan 100 – 200 m atau zona neritik luar, setelah itu berkembang endapan batulanau dan serpih Formasi Tawun hingga
lingkungan bathyal. Rasio batupasir – serpih dari Formasi Ngrayong di daerah Cepu relatif semakin menurun ke arah selatan seiring dengan perubahan zona batimetri ke arah yang lebih dalam. Dominasi fosil laut dangkal terhadap fosil laut dalam pada sumur Cepu-1 ditafsirkan bahwa telah terjadi proses badai pada pengendapan Formasi Ngrayong di daerah Cepu. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa endapan di daerah Cepu yang berada pada kisaran N9 – N12 tidak seluruhnya berkembang Formasi Ngrayong, namun sebagian diendapkan Formasi Tawun yang diendapkan pada lingkungan bathyal dengan indikasi telah terjadi proses turbidit. Sementara Formasi Ngrayong di daerah Cepu diendapkan pada lingkungan paparan dengan indikasi proses badai. >>

Johnstone dkk (2006) dari ExxonMobil dan Esso yang bekerja di Cepu berpendapat bahwa Ngrayong adalah endapan delta dan laut dangkal, dan bukan endapan lautdalam. Ngrayong menurut mereka merupakan urutan prograding fluvio-deltaic lowstand systems, dan deltaic serta shallow-marine transgressive systems. Suatu second-order eustatic fall pada Miosen Tengah (Serravallian dan Tortonian) bertanggung jawab untuk membawa mature quartzose clastics ke wilayah Cepu melalui lowstand fluvio-deltaic systems. Delivery-nya dilakukan melalui incised feeder channels. Lowstand systems tract ini ditutupi oleh backstepping (retrogradational) parasequence set di lingkungan paparan dan berciri transgressive systems tract.

Saya kutipkan sedikit kesimpulan paper Ardhana (1993). << The Ngrayong Formation represents a complete regressive-transgressive sedimentary cycle which ranges from coarse-grained sandy clastics in the lower part grading to fine-grained clastics and limestones
towards the top. Within the study area, the Ngrayong is shown to comprise five principal sedimentary facies. These are tidally-influence cross-bedded sandstones, sandy turbidites, contourites, hemipelagic mudstones and bioclastic carbonates which are locally reefal.
Cross-bedded sandstones, capped by thin bioclastic carbonates are widely distributed in the shelf and upper slope area that outcrops in the northern part of the study area. The contemporaneous turbidites, contourites and hemipelagic mudstones were deposited
on the lower slope and in the deep basin to the south. The distribution of the turbidites is localized being found mainly in submarine fans and channels. The sandy turbidite facies have been the most productive and forms the primary exploration target. >>

Saya kutipkan kesimpulan paper Lunt (1991) <<The Middle Miocene Ngrayong sandstone is interpreted as deepmarine deposit, contrary to the eastablished view that it is a fluvio-deltaic or beach related sediment. Erosional unconformity is identified close to the end of the Miocene that is also deepmarine in many places. A link is suggested between the submarine currents necessary to produce the deepmarine unconformity and the traction currents needed to produce the sedimentary structures in the earlier Ngrayong sandstone>>

Silakan paper-paper tersebut dipelajari lagi dan putuskan mana yang lebih mendekati kebenaran. Boleh saya simpulkan bahwa saat ini bandul tengah berpihak kepada kelompok pemikiran pertama : bahwa Ngrayong di Cepu adalah endapan paparan, dan bukan lautdalam. Pembela bahwa Ngrayong lautdalam sudah lama tak mengeluarkan publikasi terbarunya.

Sayangnya, type section Ngrayong belum didefinisikan secara resmi, meskipun orang banyak datang ke Ngepon atau antiklin Lodan di utara Cepu kalau mau melihat dan mempelajari singkapan Ngrayong. Status formasi Ngrayong pun belum jelas, apakah ia memang formasi, atau anggota saja. Van Bemmelen (1949) menulis Ngrayong sebagai “Ngrajong horizon of brown quartz sandstones” within the Wonocolo.

Asal kuarsa di Ngrayong pun menarik sebab banyak spekulasinya. Pandangan klasik adalah bahwa ia datang dari Karimun Jawa High, ada juga yang bilang bahwa ia dari Kalimantan sebab hampir seumur dengan Formasi Balikpapan yang juga kaya kuarsa. Beberapa paper terbaru dari Smyth et al. (2003, 2005 -Proceedings IPA) menulis bahwa asal kuarsa tak mesti dari kontinen granitik, ia bisa lokal dari hasil volkanisme tipe erupsi Plinian.

Nah, para geologist East Javanist sungguh tak akan kehabisan problem atau misteri untuk dipecahkan. Itu baru dari Ngrayong saja, ada masalah juga dengan Kerek yang tak kalah menarik, atau Mundu-Selorejo dari Selat Madura-Cepu – satu-satunya globigerinid sandstones/limestones produktif di Indonesia.

Salam,
awang

3 Tanggapan

  1. istilah lower ngrayong itu gimana apa ada ya bakal menambah input

  2. pak Awang Harun Satyana saya mo tanya tentang pengendapan dan litologi apa saja yang dominan di daerah cepu dan sekitarnya….???
    terimakasih sebelumnya…

    hormat saya,

    herman

  3. pak Awang Harun Satyana saya mo tanya tentang pengendapan dan litologi apa saja yang dominan di daerah cepu dan sekitarnya….???
    terimakasih sebelumnya…
    oh ya pak tolong dikirim ke alamat email saya

    hormat saya,

    herman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: