Origin of Petroleum : Biogenic and/or Abiogenic

By Awang H Satyana

Perdebatan tentang asal hidrokarbon apakah digenerasi secara biogenik (organik) dan/atau abiogenik (anorganik) masih terus berlangsung. Kedua kubu pemikiran bisa dipertemukan pada Juni 2005 di Calgary, Canada pada suatu konferensi yang disponsori AAPG –Hedberg Research Conference on “Origin of Petroleum”. Suatu ciri bahwa teori anorganik tidak lagi dipandang apriori. Laporan tentang konferensi ini baru dipublikasikan pada AAPG Bulletin edisi Mei 2008 (Katz dkk., 2008). Laporan ini saya pikir netral alias tidak memihak kepada satu kubu sebab ditulis secara bersama oleh para pendukung teori biogenic dan/atau abiogenic.

Memahami hidrokarbon asal organik atau anorganik tentu bukan sekedar memuaskan dahaga akademik dan sains, teori apa yang diterima atau diterapkan akan menentukan bagaimana suatu strategi eksplorasi dijalankan, ke mana ia akan mengarahkan eksplorasinya, misalnya : ke cekungan sedimen yang menjauhi intrusi magmatik, atau malahan mendekatinya.

Dalam konferensi itu dibahas 14 makalah yang mendiskusikan data dan bukti tentang asal hidrokarbon secara biogenic dan abiogenic. Di kubu organic antara lain ada : Claypool, Dow dan Moldowan. Di pihak anorganik ada : Leonov, Szatmari, dan Titkov. Berbagai konsep tentang cara pembentukan hidrokarbon secara abiogenic dipaparkan. Secara garis besar, konsep-konsep abiogenic ini dapat dibagi menjadi dua : mantle degassing yang berasosiasi dengan polimerisasi senyawa dengan berat molekul rendah, dan serpentinisasi yang berhubungan dengan reaksi Fischer-Tropsch (FT) Reaksi FT adalah reaksi dengan katalisator yang mengubah CO dan H menjadi hidrokarbon. Presentasi asal biogenic menghadirkan model tunggal yang sudah kita ketahui dengan baik : zat organic di dalam sediment secara termal diubah menjadi minyak dan gas.

Dilaporkan oleh Katz dkk. (2008) bahwa secara umum bisa dikatakan tak ada kesepakatan di antara dua kubu pemikiran itu, tetapi semua peserta konferensi mengakui bahwa pertemuan ini penting, informatif, membawa pekerjaan rumah untuk setiap kubu pemikiran buat dilakukan evaluasi-evaluasi lanjutan.

Ringkasan pertemuan dan diskusi para ahli adalah seperti berikut ini.

Diamati bahwa akumulasi hidrokarbon anorganik dalam jumlah kecil yang tak ekonomis memang terjadi di beberapa tempat. Belum jelas untuk para penyokong organic bahwa ada akumulasi anorganik yang komersial. Klaim hidrokarbon di crystalline basement yang oleh para pendukung anorganik dikatakan sebagai bukti abiogenik ternyata dapat dikorelasikan dengan batuan induk dari sediment yang menutupi basement itu atau yang posisinya lebih rendah dari basement high (seperti kasus gas di Suban basement yang source-nya berasal dari Lemat/Talang Akar).

Beberapa mekanisme anorganik juga melibatkan tahapan organic yang mengubah metana asal mantel menjadi hidrokarbon yang lebih berat, atau terjadi bersamaan dengan mekanisme organic. Diakui bahwa mekanisme anorganik bisa memperpanjang umur sumberdaya hidrokarbon secara global yang saat ini hanya berdasarkan mekanisme organic. Tetapi, dengan tidak adanya mekanisme anorganik yang tunggal, sulit untuk menerapkan secara efektif program-program eksplorasi yang berdasarkan konsep anorganik. Para pendukung organic berpendapat bahwa konsep anorganik tak menghadirkan lokasi-lokasi mana yang spesifik untuk dilakukan eksplorasi secara anorganik, dan konsep ini juga belum memiliki cara bagaimana menghitung volume hidrokarbonnya (kalau menghitung volume hidrokarbon organic dari suatu kitchen sediment tentu sudah biasa dilakukan).

Biogenic origin juga punya beberapa kesulitan, misalnya issue fungsi batubara dalam pembentukan hidrokarbon (minyak khususnya), masalah efisiensi ekspulsi dan proses migrasi. Mekanisme tunggal pembentukan hidrokarbon secara organic memudahkan merumuskan strategi eksplorasi dan estimasi volumetrik. Kita bisa mengestimasi di mana banyak zat organic di cekungan sediment diendapkan, di mana zat organic di dalam sediment yang matang, berapa jumlahnya, ke mana kecenderungan migrasinya, dan lain-lain.

Baik kubu anorganik maupun organic mempunyai tema riset bersama : migrasi fluida di bawah permukaan. Penyokong anorganik punya PR menjawab bagaimana fluida termasuk gas bermigrasi dari mantel dan kerak Bumi melalui lapisan-lapisan Bumi yang impermeable kemudian memasuki cekungan sediment. Penyokong organic punya PR menyangkut efisiensi migrasi dan bagian yang hilang selama terjadi migrasi.

Dilaporkan Katz dkk (2008) bahwa semua peserta merasa puas dengan konferensi ini walaupun pada umumnya mereka tetap berpendapat sesuai kubu pemikiran sebelumnya, tetapi mereka punya pandangan-pandangan baru hasil tukar-menukar ide, tantangan-tantangan yang diajukan pihak “lawan”. Ini semua akan menjadi bahan kajian lebih lanjut untuk memperluas horizon berpikir.

Demikian status terkini tentang perkembangan teori asal hidrokarbon. Terlampir abstrak makalah yang pernah saya tulis mencoba menerapkan sintesis FT dalam eksplorasi hidrokarbon di Indonesia Timur.

Salam,
awang

LAMPIRAN

“Fischer-Tropsch” Petroleum Formation in Collision Zones of Eastern Indonesia : Possible Abiogenic Genesis of Petroleum”
Majalah Geologi Indonesia, Vol. 18, No. 1, April 2003, p. 10-22

ABSTRACT

“Fischer-Tropsch” (FT) synthesis is a well known industrial process whereby million of tons of oil resembling petroleum are produced from CO or CO2 and H2 reacting on a metallic iron or iron-oxide catalyst in reduction environment. This process can occur in geotectonic environment mainly in lithospheric plate interaction of collision and subduction zones. CO2 is provided by thermal degassing of subducted carbonates. H2 is resulted from water-induced serpentinization of ophiolites. Catalysts for the synthesis are performed by iron oxides magnetite and hematite which widely present in geological environments.

The possibility of abiogenic petroleum formation by FT synthesis is reviewed for the collision zones of Eastern Indonesia, including : East Sulawesi-Banggai, Buton-Tukang Besi, Banda Arc of Timor-Seram-Buru, Halmahera, and Papua. The stratigraphy and tectonics of these collision zones fulfill the requirements for an-organic petroleum formation by FT synthesis takes place. Substantial amount of gas discovered recently in East Sulawesi-Banggai collision may represent the hydrocarbon generation from the FT geotectonic environment. Geochemical properties of the gas partly indicate an-organic contribution.

Possibility and evidence of the presence of abiogenic hydrocarbons formed by “Fischer-Tropsch” synthesis in the collision zones of Eastern Indonesia should be worked out. Positive preliminary results are indicative. Abiogenic origin of petroleum should not be overlooked anymore.

2 Tanggapan

  1. Yth. Mas Awang,
    Saya mau nanya, apa sih arti dari Bouma Sequence itu ? Tolong dijelaskan ya mas.

  2. bouma sequence itu mengacu ke turbidit laut dalam mas kalo gak salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: