Konjungsi, Gempa dan Gunung Meletus

Dongengan Ma’rufin

Konjungsi (ijtima’) itu makna harfiahnya “berkumpul” dan dalam astronomi digunakan untuk menyatakan dua anggota tata surya yang nampak berdekatan/berkumpul/”menyatu” bila dilihat dari Bumi.

Konjungsi Bulan – Matahari terjadi ketika dua benda langit itu berada pada garis bujur ekliptik yang sama dalam tata koordinat ekliptika. Kita biasa menyebutnya kondisi “bulan baru.” Saat hal ini terjadi, penduduk Bumi akan menyaksikan Matahari dan Bulan sangat berdekatan, namun tentunya secara visual Bulan takkan pernah dapat dilihat mata telanjang.

Karena bidang edar Bulan mengelilingi Bumi tidak tepat berimpit dengan bidang edar Bumi mengelilingi Matahari (ekliptika), namun miring 5 derajat (atau disebut juga punya inklinasi 5 derajat), maka pada saat konjungsi terjadi, jarak pisah maksimum kedua benda langit ini adalah 5 derajat juga (centre to centre). Namun pada saat2 tertentu bisa saja jarak pisahnya dalam rentang 0 – 0,5 derajat, terutama jika Bulan saat itu berada di/dekat “node”, yakni salah satu dari dua titik potong orbit Bulan terhadap ekliptika. Jika ini terjadi, Bulan akan nampak berimpit dengan Matahari sehingga terjadi fenomena Gerhana Matahari, baik total, sebagian ataupun cincin.

Pada saat konjungsi Bulan – Matahari ini, gaya pasang surut gravitasi yang diterima Bumi adalah resultan dari gaya gravitasi kedua benda langit itu. Ini menimbulkan pasang maksimum di Bumi, baik pada badan air (baca : lautan) maupun kerak Bumi.

Pada badan2 air yang sempit seperti Selat Kanal (Inggris) atau Selat Malaka, konjungsi bisa menyebabkan pasang naik sampai setinggi 10 meter. Sementara pada kerak Bumi, magnitude pasang surut memang tidak sebesar itu, yakni ‘hanya’ 55 cm di daerah ekuator, namun itu sudah cukup untuk menciptakan stress tambahan (dalam rentang 0,003 – 0,005 MPa) pada massa kerak setempat sehingga memiliki potensi lebih besar untuk terpatahkan dan menghasilkan gempa bumi. Makanya konjungsi Bulan – Matahari menjadi salah satu faktor yang memicu kejadian gempa, seperti pernah dikaji Dr. T. Djamaluddin dari LAPAN. Potensi itu akan lebih besar lagi jika massa kerak itu berada di bawah badan air (laut) setempat. Ini mengingat pasang surut air laut mampu menciptakan stress tambahan sebesar 0,05 MPa atau 10 kali lipat lebih besar dibanding daratan semata (Cochran dkk, 2004). Gempa Yogya (27 Mei 2006) dan Bengkulu (12 September 2007) adalah contoh gempa yang diduga kuat terkait
dengan konjungsi Bulan – Matahari.

Stress tambahan pada konjungsi Bulan – Matahari juga bisa memberikan tambahan overpressure pada kantung magma, meski memang tidak sebesar stress yang diberikan gempa bumi (yang rata2 3 – 6 MPa, meski ada juga yang sampai 250 MPa). Secara rata2, sebuah gunung berapi bisa meletus jika pada kantung magmanya ada overpressure minimal 100 MPa sehingga cukup kuat untuk membentuk saluran (dike) menembus batuan diatasnya dan magma silikat yang ada di dalam kantung pun bisa terdorong naik ke atas tanpa membeku di tengah perjalanan.

Dengan sedikit memodifikasi persamaan empirik Manga dan Brodsky (2006), jika stress akibat konjungsi besarnya 0,003 MPa dengan periode ulang konjungsi 29,5 hari dan periode pengulangan kejadian letusan dengan VEI (Volcanic Explosivity Index) > 2 adalah 1 – 100 tahun, maka secara statistik terdapat 0,04 – 4 % letusan yang kemungkinan dipicu oleh konjungsi Bulan – Matahari. So memang kecil. Sebagai pembanding, gempa bumi pun baru sanggup memicu rata2 0,4 % letusan gunung api dengan VEI > 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: