Lagi : Junghuhn di Bukit Jayagiri

Dongengnya Pak Awang H Satyana di IAGI-net

Hampir tiga tahun yang lalu saya mem-posting tulisan tentang Junghuhn, seperti di bawah. Kamis 10 April minggu kemarin saya mengunjungi cagar alam yang dinamai menurut namanya, sekaligus tempat ia dimakamkan : Taman Junghuhn, di Desa Jayagiri, Lembang.

Photograph taken in 1860. Kamis itu ada acara diskusi dengan undangan terbatas diselenggarakan oleh Badan Geologi yang mengambil tempat di Hotel Putri Gunung di jalan raya Lembang-Tangkuban Perahu. Diskusi dimulai pukul 13.00 (dan ternyata berlangsung sampai Jumat 11 April dini hari pukul 01.00) – sebuah diskusi yang seru tanpa seorang pun mengantuk.

Saya sudah datang ke hotel itu pukul 11.00. Karena masih lama dari mulai, saya balik lagi ke Lembang dan membelokkan mobil ke sebuah jalan sempit di tengah Desa Jayagiri tak jauh dari Pasar Lembang. Dari jalan sempit itu lalu berbelok lagi masuk ke jalan yang lebih sempit tak beraspal. Walaupun sedikit “off road” saya masukkan saja mobil sampai tak bisa masuk lagi dan diparkir di halaman kosong berumput di samping rumah-rumah penduduk Jayagiri.

Sisa perjalanan adalah sekitar 50 meter dan berujung di sebuah cagar alam kecil seluas 2,5 hektar. Pintu masuk ke taman itu terkunci dengan gembok, tutup ..? Dari jauh saya melihat batu nisan tempat Junghuhn hampir 150 tahun yang lalu dibaringkan untuk selamanya. Seorang nenek berlalu di dekat saya. Dalam bahasa Sunda saya menanyainya apakah ada jalan masuk ke makam Junghuhn. Nenek yang baik ini menunjukkan jalan gang di antara rumah-rumah yang bisa membawa saya masuk ke taman tersebut.

Akhirnya saya dapat berdiri di depan makam Junghuhn, batu nisannya dibentuk tugu, dikelilingi rantai. Kondisinya cukup bagus, terlihat baru dicat ulang. Daun-daun kina kering berguguran berserakan di pelataran makam. Hm, pendekar kina ini terbaring dikelilingi tanaman kina yang pernah dirintisnya bersama Dr. Hasskarl kawannya dari Kebun Raya Bogor, tanaman yang pernah membawa Indonesia sebagai penghasil pil kina (“pil Bandung”) nomor satu di dunia. Di nisannya tertulis : Dr. Franz Wilhelm Junghuhn : lahir (dalam gambar bintang) Mansfeld/Magdeburg 26 Oktober 1809, meninggal (dalam tanda salib) Lembang 24 April 1864.

Saya berkeliling di taman atau cagar alam tersebut, ke arah baratlaut dari jauh terlihat gunung Tangkuban Perahu, Sunda, dan Burangrang. Hampir 75 % taman ini ditumbuhi pohon-pohon kina yang sudah tinggi dan tua – puluhan tahun. Di sebuah papan nama di dekat pintu masuk tertulis bahwa Cagar Alam Junghuhn ini sekaligus merupakan tempat habitat plasma nutfah kina. Di tempat inilah bibit asli kina yang dibawa dari Amerika Selatan mulai dibudidayakan. Cagar alam ini ditetapkan sejak tahun 1919 dan kini ada di dalam pengawasan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Jawa Barat, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, Departemen Kehutanan.

Kini, cagar alam ini sudah dikepung rumah-rumah penduduk Desa Jayagiri. Dulu, saat Junghuhn tinggal di sini menjelang tahun-tahun terakhirnya dalam keadaan sakit, ia masih bisa melihat panorama gunung-gunung yang dicintainya itu dengan jelas. Kini tentu sangat sulit, terhalang rumah-rumah penduduk.

Menjelang pulang, saya melihat banyak penduduk desa masuk ke taman ini, tetapi bukan untuk melihat makam Junghuhn, ke mana mereka ? Saya mengikutinya ke arah utara taman. O, rupanya persis di sebelah taman ini ada pemakaman umum Desa Jayagiri. Rombongan penduduk desa yang saya ikuti rupanya hendak mengikuti prosesi pemakaman seorang penduduk yang kebetulan tengah dimakamkan di tempat itu.

Begitulah kunjungan singkat saya Kamis kemarin ke makam seorang tokoh naturalis besar yang pernah meneliti Jawa dan Sumatra, seorang tokoh yang lebih dari seorang perintis pembudidayaan kina di Indonesia, tetapi juga seorang tokoh perintis penelitian botani, topografi, geologi, dan vulkanologi Jawa.

Meskipun ia berdarah Jerman dan berkarier dengan bangsa Belanda, dokter dan peneliti yang berkiprah di Jawa bersama teman-temannya yang kita kenal sebagai penjajah; Junghuhn tetap berbeda dari kolonialis-kolonialis tulen seperti Daendels, JP Coen, atau van den Bosch. Meskipun ia tak sepeka Multatuli atau Groneman; ia patut kita hargai atas karya-karya penyelidikannya. Konsistensinya mencintai alam patut diacungi dua jempol, meskipun mungkin tanpa bantuan bangsa kita sebagai pembantu2 lapangannya Junghuhn barangkali tak bisa berbuat sebanyak itu. Penduduk Jawa selalu ramah memberi tumpangan kepadanya saat melakukan penyelidikan Jawa selama sembilan tahun itu. Sikap Junghuhn yang bersemangat luar biasa, daya kerja yang sangat besar, disiplin, individu yang keras, dan berwawasan luas adalah mengagumkan.

Buku pertamanya tentang Jawa : “Topograpische und Naturwissenschaftliche Reisen durch Java” (1845) menjadi buku pertama tentang penyelidikan geologi dan biologi pegunungan di Jawa. Buku adikaryanya yang terkenal “Java, Zijne Gedaante, Zijn Plantentooi, en Inwendige Bouw” (judul ini suka berlainan dikutip para penulis sesudah Junghuhn) yang ditulis dalam empat volume merupakan karya komprehensif pertama tentang penelitian alam Jawa (topografi, geologi, klimatologi, biologi).

Setiap peneliti alam Jawa semoga mendapatkan spirit setinggi seperti pernah ditunjukkan Junghuhn. Ada hal-hal ekstrem yang harus dimiliki seseorang untuk mencintai profesinya dan bisa mengemuka. Ilmu pengetahuan menjadi maju berkat segolongan orang-orang ekstrem ini, dan Junghuhn adalah salah satu daripadanya. Semoga kelak dari penduduk Jayagiri akan muncul ilmuwan nasional sekelas Junghuhn.

“Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar
semata-mata dalam alam raya…” (Junghuhn, 1835)

salam,
awang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: