Hardi Prasetyo : KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’

Dalam menyambut setahun BPLS, PAk Hardi Prasetyo dari BPLS kembali menuliskan makalah sains. Walaupun kali ini Pak Hardi Prasetyo berbicara soal Tampomas di Segitiga Masalembo, namun semangat bahwa didalam setiap kebencanaan akan muncul pemikir-pemikir baru yang akan bermanfaat.

Beliau sebagai anggota BPLS mengajak kita untuk tidak berhenti berpikir pada apa penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo saja tetapi juga meneliti fenomena alam ini sebagai wacana ilmiah

😦 “Wah Pakdhe, Sepertinya penelitian ilmiah dengan tragedi Lusi ini memang diteruskan ya Pakdhe ?”
😀 “Betul Thole, Pak Menteri Teknologi Kusmayanto yang secara politis menyatakan Lusi sebagai bencana alam jtidak boleh brenti disini saja. Beliau justru menjadi orang yang bertanggung jawab untuk meneruskan dan mendukung penelitian ilmiah soal Lusi ini, Thole”

Kali ini Pak Hardi melakukan flash back atau klias balik bagaimana beliau selalu dihadapkan pada tragedi ketika sedang berpikir ilmiah.

KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’ DALAM UPAYA MENCARI ‘MIGAS’ SEBAGAI SUMBER DAYA ALAM TAK TERBARUKAN DI KAWASAN FRONTIER

Sekilas saya membaca satu kata kunci ’TAMPOMAS’ pada dongeng di atas yang juga dapat dikaitkan judul besar ‘Segitiga Masalembo’ Respon atas Komentar oleh EG Giwangkara S — 17 Januari 2007 #

Sumber Tempointeraktif Judul tersebut mengingatkan kenangan masalau yaitu dengan kejadian ’TRAGEDI TAMPOMAS’ Musibah Terbakar dan Tenggelamnya Kapal Penumpang Tampomas II di segitiga Masalembo.

Pada Tragedi Kemanusiaan Tampomas II tersebut saya bersama sahabat lama saya Dr. Herry Haryono (sekarang Deputi di LIPI) sebagai saksi sejarah (historical fact). Saat itu kami sedang melakukan survei marine geosciences (seismic refraction, reflection, graviy, megnetic) di Selat Makasar dengan Kapal Riset Sonne (Jerman), selanjutnya kita mendapatkan sinyal SOS..SOS. Ringkasnya dari rekaman dari even itu selanjutnya adalah:

1) Bagaimana kapten kapal riset Sonne untuk memutuskan pilihan Ekspedisi seismik refleksi harus segera dihentikan (termination), di sisi lain para geoscientist dari Jerman saat itu masih memikirkan apakan SAR bisa ditunda sampai selesainya satu lintasan survei?

2) Bagaimana Kapten Kapal segera membuat keputusan segera rubah haluan kapal menuju tempat ’tragedi TAMPOMAS’ di Segitiga Masalembo, persiapan2 yang dilakukan (crew, scientists, dokter, peserta Indonesia, pembagian tugas,

3) Melakukan SAR di lokasi, bagaimana standar operation prosedure diterapkan,

4) Mendapatkan dari laut 25 korban, dimana satu diantaranya masih hidup, dan bagaimana treatment dilakukan dibawah koordinasi tim medis, termasuk melakukan kami melakukan wawancara untuk lebih menelusiri apa yang terjadi sebelum, saat kebakaran, saat ia memutuskan untuk terjun dan tidak melakukan upaya apaun selain ’keep floating’ sambil membacakan ’Allahu Akbar’!,

5) Bagaimana dokter mengidentifikasi korban ’telah menjadi mayat’ dengan cermat, penuh rasa kemanusiaan, dan menyusun data base,

6) Bagaimana momen penting ketika saya dan Herry Haryono akhirnya dapat mengidentifikasi bahwa salah satu dari 25 korban tersebut adalah Almarhumah Kapten Tampomas II , Abdul Rivai, yang akhirnya jenasah yang sudah dimakamkan dibongkar kembali untuk akhirnya disemayakan di Makam Pahlawan.

Segitiga Masa Lembo sangat berarti bagi saya pribadi sebagai salah satu insan ilmuwan kebumian saat itu, ketika akhirnya tahun 1995 saya mendapatkan kehormatan yang sangat bernilai dari Pemerintah khususnya melalui Dewan Riset Nasional (DRN) dan Menristek, dimana saya telah dikukuhkan sebagai Peneliti Terbaik Indonesia , dalam bidang Ilmu Kebumian, dalam Kerangka Riset Unggulan Terpadu (RUT). Dengan orasi ilmiah berjudul PERKEMBANGAN GEOLOGI & TEKTONIK “DOANG BORDERLAND” DAN CEKUNGAN SPERMONDE, LEPAS PANTAI SULAWESI SELATAN, KAWASAN TIMUR INDONESIA (KTI): Implikasi Terhadap Prospek Hidrokarbon. LAMPIRAN 1

Demikian pula sebelumnya saya patut bangga karena salah satu karya pemikiran telah diterima oleh Indonesian Petroleum Association tahun 1992 untuk dipresentasikan dimana wilayah cakupan termasuk Selat Makassar, Segitiga Masalembo, dengan judul THE BALI FLORES BASIN: GEOLOGICAL TRANSITION FROM EXTENSIONAL TO SUBSEQUENT COMPRESSIONAL DEFORMATION. Sebagai catatan pada makalah ini saya sudah menampilkan penemuan fenomena ’mud diapirsm and mud volcanism, dan memperkenalkan ’Bali Fold” sebagai wujud struktur ekstrusi pada rezim tektonik kompresif terhadap sedimen ’overpressure’. Mud diapir dan Mud Volcano juga diketemukan di Flores Thrust Zone sebagaimana dideteksi pada Citra Mozaik SEAMARC II dan rekaman seismik refleksi berfrekuensi tinggi (water gun).LAMPIRAN 2.

Saya juga telah mengembangkan pemikiran pada tataran global (new global tectonics) ketika dalam satu bulan pelayaran di Zona Kerjasama Celah Timor (Timor Gap Zone of Cooperation) menggunakan Kapal Rig Seismic milik AGSO (Australian Geological Survey Organisation), saat itu saya menjadi wakil Pemerintah Indonesia dalam Joint Research ‘deep seismic profiles’ untuk mendalami arsitektur struktur dalam (deep structural architecture) Celah Timor untuk mendukung eksplorasi Migas, saya mendapat inspirasi untuk menyusun tulisan ilmah yang intinya membuat perbandingan perkembangan tektonik antara Doang Borderland di Segitiga Masalembo yang merupakan bagian dari ‘Eastern Sunda Shield Margin’ dengan Cekungan Bonaparte merupakan ‘Southwest Australian continental margin’. Paper ini COMPARISON OF THE BONAPARTE BASIN, TIMOR SEA AND SOUTHWEST SULAWESI MARGIN, EASTERN INDONESIA saya tulis bersama rekan dari Australia Chris Pigram, kita presentasikan pada pertemuan CCOP di Bali? LAMPIRAN 3.

Nah, ternyata dari Misteri Masalembo (Barmudanya Indonesia) dan khuusnya ‘TRAGEDI KEMANUSIAAN TAMPOMAS’ telah melahirkan beberapa pemikiran inovasi dan kreatif di bidang Ilmu Kebumian, bahkan saya mendapatkan gelar ‘Peneliti Terbaik Indonesia bidang Kebumian versi DRN’.

Sari makalah atau makalah lengkap bila mungkin akan saya tempatkan pada situs, yang segera akan saya diluncurkan dikaitkan dengan umur satu tahun Badan Pelaksana, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BAPEL BPLS), dimana saya saat ini terlibat, dan berupaya berkontribusi.

Bagi yang berminat untuk mendapatkan makalah silahkan hubungi saya pada samenergi@yahoo.com.

Salam Hormat

Hardi Prasetyo

‘DIRGAHAYU BAPEL BPLS 8 APRIL 2007-2008’ BERORIENTASI KE DEPN MENUJU SOLUSI YANG KOMPREHENSIF, INTEGRAL DAN HOLISTIK

====================================
LAMPIRAN 1:
THE “DOANG BORDERLAND SYSTEM” IN THE SOUTHEAST SUNDA SHIELD MARGIN:IMPLICATIONS FOR SEDIMENTARY BASIN FORMATION: Hardi Prasetyo

ABSTRACT: Digital and analog seismic reflection & refraction, gravity, drill-holes, side-scan mosaic of SeaMARC II (seafloor mapping system), and Airborne Laser Flourecensor (ALF) data from industry and non-industry sources provide an excellent DataBase with which to determine the geologic and tectonic development of the “Doang Borderland System” (DBS) in the Eastern Indonesia.
DBS is a remarkable northeast-southwest and west-east morpho-structural orientation of ridges and deep basins in the Eastern Sunda Backarc. The acoustic basement data of DBS consisting of mix between oceanic, continental, and Paleogene volcanic rocks suggesting multiphase deformation caused by the converging between the Indo-Australian and Eurasian plates.
The seismic and drill-hole data support at least five geologic and tectonic developments of the study area: (1) Some of the Pre-Tertiary basement and economic basement show a compressive regime (subducting and collision); (2) Most of the DBS represents a Paleogene extensional regime (rifting), associated with the backarc passive margin or regional “extrusion tectonic”; (3) This extensional tectonic regime was then inverted to form the”Sunda Fold” structural styles; (4) Downbowing (flexural) of southeast Sunda Shield margin (northern basin margin) to the south along the northern Sunda volcanic ridge; and (5) Backarc fold-thrust zone was formed since Neogene time associated with both the Australian margin-Sunda Arc collision as well as subduction of the Roe Rise (oceanic plateau) in the Sunda Trench south of Bali. The back arc portion of the DBS is currently closing and will form a suture zone in a future stage of development.

LAMPIRAN 2:
PERKEMBANGAN GEOLOGI & TEKTONIK “DOANG BORDERLAND” DAN CEKUNGAN SPERMONDE, LEPAS PANTAI SULAWESI SELATAN, KAWASAN TIMUR INDONESIA (KTI): Implikasi Terhadap Prospek Hidrokarbon
RINGKASAN: “Doang Borderland” terletak di daerah lepas pantai (offshore) sebelah selatan Sulawesi Selatan, Kawasan Timur Indonesia (KTI), membentuk gugusan morfologi tinggian (morphologic high) terdiri dari anjungan (platform) dan punggungan (ridge) yang diselingi (intervening) dan atau dikelilingi (surrounding) oleh daerah depresi terdiri dari palung (trough) dan cekungan (basin), dengan kedalaman dasar laut lebih dari 5000 m (Cekungan Flores).

Dalam konsepsi tektonik dunia baru (new global tektonic), daerah penyelidikan terletak pada pojok timur sistem Paparan Sunda (Sunda Shelf) dari lempeng benua Eurasia (Eurasian continental plate), merupakan zona transisi dari sistem busur belakang Sunda (Sunda back arc system) di sebelah barat menjadi sistem busur Banda (Banda back arc system) di sebelah timurnya.

Sampai saat ini, kebanyakan studi geosain (geoscientific study) di kawasan “Doang Borderland” umumnya dilaksanakan oleh perusahan asing, terutama dalam kerangka eksplorasi migas, dimana data dan informasi aspek kebumian (geoscientific aspect) belum banyak diungkapkan, bahkan sebagian besar diantaranya masih berstatus rahasia (confidential). Didasarkan oleh adanya keterbatasan dalam hal tersedianya (availability) data geologi, geofisika, sumur eksplorasi, ditambah lagi bahwa secara morfologi daerah tersebut mempunyai kedalaman dasar laut (seafloor) yang berkisar antara 200-5000m, maka kawasan “Doang Borderland” dikatagorikan sebagai suatu daerah yang relatif kurang diketahui (frontier region).
Tujuan strategis kegiatan Riset Unggulan Terpadu (RUT-1), yang direkayasa sesuai dengan kebijaksanaan Pembangungan Jangka Panjang Tahap ke II (PJPT II) antara lain: (1) Menginventarisasi dan memperkaya secara nasional database dan informasi aspek geosain kelautan di zona transisi KBI-KTI; (2) Membuka tabir misteri berkaitan dengan asal-usul (origin) dan perkembangan geologi dan tektonik; (3) Mempromosikan kawasan “frontier” di KTI berkaitan dengan pemanfaatan dan pendayagunaan dasar laut (seafloor) dan lapisan dibawahnya (sub-seafloor), khususnya dalam upaya memacu kegiatan eksplorasi migas; dan (4) Merupakan wahana pembinaan sumber daya manusia (SDM), khususnya untuk melakukan kegiatan riset geosain kelautan secara terpadu (integrated) dan mendalam (comprehensive) dengan memanfaatkan dan mendayagunakan tersedianya aset nasional yang ada menyangkut teknologi, infrastruktur, data dan informasi.

Obyektif ilmiah (scientific objective) kegiatan riset “Doang-Spermonde” adalah untuk: (1) memetakan struktur dalam dan dangkal berdasarkan data seismik refleksi; (2) mengembangkan dan menghimpun database geologi dan geofisika secara terpadu, antara lain dengan mengaplikasikan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG); (3) memperjelas tatanan struktur dan stratigrafi, termasuk untuk memperkirakan ujud batuan dasar (basement); (4) mempelajari proses geologi dan tektonik serta pengendali mekanisme (driving force mechanism) yang telah dan sedang berperan dalam membentuk kawasan tersebut; (5) mengkaji prospek hidrokarbon pada daerah yang relatif “frontier”.
Hasil studi di atas akan digunakan sebagai dasar untuk memberikan suatu pertimbangan, saran, dan bimbingan terhadap arah dan kecenderungan yang berkaitan dengan aspek eksplorasi sumber daya migas di kawasan yang relatif “frontier” tersebut.

Strategi Riset yang diterapkan pada Tahun I dan sebagian Tahun II adalah melakukan kompilasi dan kajian terhadap database geologi, dan geofisika yang telah dihasilkan dari penyelidikan terdahulu secara regional. Teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) telah diaplikasikan untuk mendapatkan efisiensi, keakuratan, dan kemudahan dalam teknis pemaduan (integration) data dan informsi tersebut dengan data baru navigasi pada saat pelaksanaan Ekspedisi RUT dengan kapal riset. Dalam kaitan ini, daerah “Doang-Spermonde” secara Morfo-Tektonik ditempatkan sebagai sub-sistem dari tepian tenggara “Sunda Shield” Lempeng Eurasia. Adapun daerah cakupan penelitian pada Tahun I antara lain: Cekungan Makasar di sebelah utara, Cekungan Spermonde di bagian timur, Cekungan Flores di tenggara, dan Cekungan Bali di baratlaut, dan sistem Paparan Sunda di bagian baratnya.

Hasil evaluasi dan analisa yang dilakukan saat ini terhadap data & informasi geologi dan geofisika yang tersedia menunjukkan bahwa kawasan pojok tenggara dari sistem “Sunda Shield” telah dibentuk oleh sekurang-kurangnya empat fase tektonik, yaitu: (1) Tektonik tumbukan (collision tectonic) pada zaman Pra-Tersier berasosiasi pemindahan (emplacement) dan atau pembentukan (formation) batuan kerak samudera (oceanic crust), kerak benua (continental crust), dan cekungan tipe busurmuka (forearc basin), yang selanjutnya diikuti oleh fase kompresi; (2) “Rifting” zaman Paleogen berlangsung pada lingkungan tektonik ekstensi; (3) Pembentukan struktur inversi (zaman Miosen) dalam lingkungan tektonik kompresif tipe “wrench” yang merupakan pengaktifan kembali struktur riff yang sebelumnya terbentuk pada zaman Paleogen; dan (4) “Folding & Thrusthing” dari lingkungan kompresi pada zaman Pliosen Bawah sampai sekarang, yang berlangsung khususnya pada bagian tepian selatan (modem back arc
basin). Informasi berkaitan dengan pemahaman perkembangan dan evolusi tektonik tersebut sangat penting dalam upaya merekonstruksi dan melakukan analisis terhadap kerangka cekungan sedimen (sedimentary basin), khususnya dalam kaitan dengan prospektif sumber daya migas.

Berdasarkan hasil pemelajaran dalam kerangka operasionalisasi RUT-1, untuk sementara dapat disimpulkan bahwa Kawawan “Doang-Borderland” dan sekitarnya diperkirakan masih memiliki peluang untuk dapat dieksplorasi lebih lanjut. Kesimpulan dan pandangan optimistik ini terutama didukung oleh tersedianya elemen penting sebagai pengontrol terdapatnya hidrokarbon, yaitu: (1) Terdapatnya prospektif perangkap (trap) baik berupa struktur (structural trap) dan perangkap stratigrafi (stratigraphic trap) antara lain berupa progradasi karbonat tepian paparan (prograded shelf margin; (2) Dicirikannya dua play yang cukup potensial baik play target dalam dan Play pada target dangkal; (3) Adanya konfigurasi tinggian dan dalaman serta kontrol struktural, memungkinkan terbentuknya “migration path”; (4) Hadirnya rembesan minyak (oil seeps) sebagaimana yang telah dicirikan oleh teknologi Airborne Laser Flourecensor (ALF), menunjukkan adanya proses dapur (kitchen), dimana berlangsung pemasakan hidrokarbon
dan selanjutnya bermigrasi melalui hopotetik sesar-sesar aktif (active faults).

Namun keberadaan sedimen tebal yang dapat bertindak sebagai batuan induk (source rock) masih sangat perlu untuk dipelajari lebih lanjut, terutama dari segi posisinya sebagai “kitchen” dimana untuk dapat terbentuknya hidrokarbon diperlukan kedalaman yang cukup untuk mengimbangi rendahnya gradien temperatur di daerah tersebut.

LAMPIRAN 3:
PROCEEDINGS INDONESIAN PETROLEUM ASSOCIATION, Twenty First Annual Convention, October 1992, THE BALI FLORES BASIN: GEOLOGICAL TRANSITION FROM EXTENSIONAL TO SUBSEQUENT COMPRESSIONAL DEFORMATION

ABSTRACT: Analog and digital seismic reflection and gravity data from different sources, drill holes, and seaMARC II (seafloor mapping system) side scan mosaic data from the Flores Basin, provide an excellent database with which to determine the geologic and tectonic development of the Bali Flores back arc fold-thrust zone. Remarkable continuity of west east structural orientation over 800 km along the Eastern Sunda back arc region suggests a uniformity in direction of convergence between the Indo Australian and Eurasian plates. Westward transition from a well defined accretionary wedge to fold structural styles indicates a westward decrease in the total amount of shortening. The phenomena of back arc thrusting north of Flores can be used as a good model of the initial stage of arc reversal polarity in which the oceanic crust of the Flores Basin is being subducted southward beneath the arc, opposite to the northward subduction of the Australian continental crust along the Timor
Trough. While the Bali Basin represents an excellent modern analog of the initial stage of a foreland fold thrust belt formation, here the Sunda Shelf is down bowed to the south resulting in the compressional deformation along the southern margin of the Bali Basin. The back arc region of the Eastern Sunda arc is currently closing and will form a suture zone in a future stage of development.

Penafsiran Multichannel seicmic: Identifikasi ‘mud diapirsm or mud volcanism’!
Salah satu temuan fenomena: Mud Diapirsm, Mud Volcano, dan ‘Bali Fold’ sebagai implikasi tektonik kompresif terhadap overpressure sediments.

The seismic and drill hole data have supported several geologic and tectonic developments of the study area: (1) most of the northern basin margin represents a Paleocene extensional (rifting) tectonic regime; (2) this extensional tectonic environment was then inverted to form typical “Sunda Fold” structural styles; (3) down bowing (flexural) of the southeast Sunda Shield margin (northern basin margin) occurs to the south beneath the volcanic ridge; and (4) the back arc fold thrust zone formed since Neogene time was associated with both the Australian margin ,Banda arc collision as well as subducting of the Roo Rise (oceanic plateau) in the Sunda Trench south of Bali.

LAMPIRAN 4:
COMPARISON OF THE BONAPARTE BASIN, TIMOR SEA AND SOUTHWEST SULAWESI MARGIN, EASTERN INDONESIABy: Hardi Prasetyo and Chris Pigram

ABSTRACT: Since 1990 Australian Geological Survey Organisation (ASGO) has been collecting deep crystal data (16 sec. TWT record length) along the northwestern margin of Australia to define the structural architecture and the influence of structuring on thelocation, migration and trapping of hydrocarbons in the region. Within the studiesinclude of the Timor Gap Zone of Cooperation (TST-93) cruise, in which Marine Geological Institute (MGI) has been participating.
The Bonaparte Basin in the Timor Sea, NE Australian margin was shaped by two major of Paleozoic and Mesozoic extensional tectonic regimes. The major NW-SE structural trends of Petrel Sub-Basin are formed by the Paleozoic rifting. Overprinted on the Paleozoic basin are the Late Jurassic-Cretaceous rifting caused by the progressive breakup of Gondwanaland which lead to creation of the Wharton Basin o ceanic crust. The Mesozoic grabens and basement highs formed by Mesozoic NE-trending rifting orthogonal to the Paleozoic rifting. This structural trend is parallel to the magnetic lineations in the Argo albyssal plain & South Banda Sea. These morpho structural elements include the Vulcan Sub- basin, Malita Graben, Ashmore and Sahul Platforms, and Londonderry High. The Sahul Syncline is a NW-trending depression developed between the Londoderry High on the west and Sahul Platform to the east, that was also active during this time along a possible Paleozoic transfer zone. The Paleozoic and Mesozoic extensional stadiums were then reactivated at least twice. Once during the Paleogene possibly due to the influence of the separation of Australia from Antartic. Secondly during the Miocene, which have been caused by two possible mechanism: firstly, “interplate deformation” due to collision northern Australian continental margin with island arc to begin the development of the New Guinea Orogen; and secondly, transgression of flexors related to northward underthrusting of Australian continental margin along the Timor Trough. Because complex history, it has been difficult to reconstruct an actualistic tectonic development for the Mesozoic Tertiary development the Australian margin in the Timor Sea region. Here we purpose an analogy with modern tectonic setting of the southeast Sunda shield margin, from Makassar Basin to the north to Bali Basin and Lombok Sub-Basin on the south.

The Sunda shield margin and adjacent regions is comprise of two distinct Paleogene “rift” related structures, NW-SE trending of the Makassar Basin and ENE-oriented of Lombok SubBasin. Like the Timor Sea region, in the SE Sunda shield margin has morphological elements consisting of basement highs (Doang Shelf) with intervening troughs (Doang Trough and Spermode Trough). The Doang Trough, which is analogous to Sahul Syncline, formed as a transfer zone to the Makassar Rift, while the Lombok Sub-Basin may analogous to Vulcan Sub-Basin which is presently the location of major oil fields (Jabiru, Challis, Cassini and Puffin). Other similarities to the Timor Sea can be seen from the existence of reactivation Paleogene extensional faults during Miocene-Pliocene. This structural reactivation was accomodated by invertion structures, along the southern “rift basin” margin, where the most pronounced folding is called as “Sunda Fold” structural styles. This transpressional tectonic regime wasdriven by collision between the Buton continental margin sliver fragments and West Arm of the Sulawesi arc. Normal faults are widely developed in the northern flank of Bali-Lombok back-arc basin as consequence of flexure-related structuring resulting from the downbowing of the Sunda shield margin to the south. The southern margin of the modern Bali-Lombok Basin is represented as an initial stage of foreland thrusts-folds formation.

3 Tanggapan

  1. Horas Prof. Hardi,
    Saya sependapat bahwa pengalaman dan kiprah P Hardi dan P Herry Haryono dkk pada musibah KM Tampomas II yang lalu telah memberikan inspirasi baru yaitu ditemukannya Cekungan Spermonde yang berpotensi migas, dan saat ini cekungan tersebut merupakan salah satu target eksplorasi migas lepas pantai yang cukup menjanjikan.
    Demikian pula jika fenomena semburan lumpur Porong beserta segala multi dampak yang ditimbulkannya, jika dimaknai positip bahwa dibalik musibah ini akan mengilhami inspirasi baru para saintis kebumian untuk menemukan fakta-fakta baru (new fact findings) tentang konsepsi geologi bawah permukaan yang kelak justru memberikan kemasylahatan serta kesejahteraan bagi masyarakat setempat.
    Harapan kami kiranya P Hardi dkk BPLS diberikan kekuatan, hiadayah serta kelebihan ilmu agar memperoleh solusi penanggulangan yang elegan sehingga masyarakat, alam serta lingkungannya, pada gilirannya nanti memperoleh makna positip dibalik musibah ini.

    Selamat bekerja dan berkarya nyata……

  2. P. Masalembo adalah pulau yang indah nan elok

  3. em….
    menarik!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: