Rumphius – Naturalis Buta dari Ambon : Lebih Awal dari Carolus Linnaeus

Dongengan Pak Awang H Satyana

Cerita berikut ini disarikan dari buku lama “Oost Indische Spiegel” tulisan Rob Nieuwenhuys (1972) yang berisikan kisah-kisah di Indonesia sebelum tahun 1900.

Rob Nieuwenhuys adalah seorang sastrawan Belanda kelahiran Semarang dan besar di Surabaya serta Jakarta sebelum ia berkarier di Belanda. Minat utamanya adalah karya-karya sastra dan non-sastra yang terbit di Indonesia sebelum tahun 1900. Ia pernah menyoroti karya-karya ahli bahasa van Eysinga (1796-1856), asisten residen Lebak Douwes Dekker (1820-1887), ahli budaya Batak dan Bali van der Tuuk (1824-1894), wartawan dan sastrawan roman P.A. Daum (1850-1898) dan kini yang mau saya ceritakan sedikit : Georg Eberhard Rumpf atau Rumphius (1628-1702), naturalis Jerman di Ambon yang luar biasa. Baca lebih lanjut

Lagi : Junghuhn di Bukit Jayagiri

Dongengnya Pak Awang H Satyana di IAGI-net

Hampir tiga tahun yang lalu saya mem-posting tulisan tentang Junghuhn, seperti di bawah. Kamis 10 April minggu kemarin saya mengunjungi cagar alam yang dinamai menurut namanya, sekaligus tempat ia dimakamkan : Taman Junghuhn, di Desa Jayagiri, Lembang.

Baca lebih lanjut

Hardi Prasetyo : KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’

Dalam menyambut setahun BPLS, PAk Hardi Prasetyo dari BPLS kembali menuliskan makalah sains. Walaupun kali ini Pak Hardi Prasetyo berbicara soal Tampomas di Segitiga Masalembo, namun semangat bahwa didalam setiap kebencanaan akan muncul pemikir-pemikir baru yang akan bermanfaat.

Beliau sebagai anggota BPLS mengajak kita untuk tidak berhenti berpikir pada apa penyebab Semburan Lumpur Sidoarjo saja tetapi juga meneliti fenomena alam ini sebagai wacana ilmiah

😦 “Wah Pakdhe, Sepertinya penelitian ilmiah dengan tragedi Lusi ini memang diteruskan ya Pakdhe ?”
😀 “Betul Thole, Pak Menteri Teknologi Kusmayanto yang secara politis menyatakan Lusi sebagai bencana alam jtidak boleh brenti disini saja. Beliau justru menjadi orang yang bertanggung jawab untuk meneruskan dan mendukung penelitian ilmiah soal Lusi ini, Thole”

Kali ini Pak Hardi melakukan flash back atau klias balik bagaimana beliau selalu dihadapkan pada tragedi ketika sedang berpikir ilmiah.

KILAS BALIK ‘SEGITIGA MASALEMBO ANTARA TRAGEDI KEMANUSIAAN ’TAMPOMAS’ DENGAN INSPIRASI ILMU KEBUMIAN’ DALAM UPAYA MENCARI ‘MIGAS’ SEBAGAI SUMBER DAYA ALAM TAK TERBARUKAN DI KAWASAN FRONTIER
Baca lebih lanjut