Junghuhn : Bukan Hanya Karena Kina

Photograph taken in 1860.Bagaimana kita mengenal Junghuhn ? Orang pertama yang membawa dan menanam kina (di Lembang) ? Sungguh lebih dari itu. Junghuhn adalah sepenting Verbeek, Fennema, dan van Bemmelen dalam perkembangan pengetahuan geologi Indonesia.

Kalau sempat ke Bandung dan mampir ke perpustakaan P3G di Jl. Diponegoro, ada dua buku kuno sangat tebal tentang Jawa. Yang satu tulisan Franz Junghuhn (1848), “Java : Deszelfs Gedaante, Bekleeding en Inwendige Structuur” dan yang lain tulisan Verbeek dan Fennema (1896), “Geologische Beschrijving van Java en Madoera”. Saya membuka2 buku2 itu hampir 17 tahun yang lalu, saat mengumpulkan keterangan tentang Ciletuh. Semoga sekarang masih terjaga dengan baik.

Junghuhn, adalah peneliti dan penulis pertama geologi Jawa. Datang ke Indonesia tahun 1835 sebagai seorang dokter tentara dengan sikap hidup penuh kekecewaan dan penderitaan akibat perang di Jerman dan Prancis. “Hiduplah dengan dirimu sendiri. Jangan bergaul dengan seorang pun. Jangan mencari kepuasan hati pada orang-orang lain, jangan mencari kebahagiaan di luar dirimu, jangan mendewa-dewakan sesuatu selain alam raya” Begitulah sumpah dan “pengakuan iman” Junghuhn saat ia memasuki pelabuhan Pasar Ikan, Batavia 12 Oktober 1835.

Junghuhn lahir di Jerman tahun 1809, dididik dengan sangat keras oleh ayahnya, masuk ke kedokteran, dipaksa keluar untuk berdinas di ketentaraan Prusia (Jerman). Dijatuhi hukuman 10 tahun akibat pelanggaran disiplin. Meringkuk 20 bulan di penjara kuno, lari ke Prancis. Mendaftar sebagai tenaga sukarela tentara Prancis. Bertugas di Afrika. Dikirim pulang ke Prancis karena sakit. Lari ke Belanda, mendaftar sebagai tentara dan dikirim ke Oost Indies (Indonesia).

Di Indonesia, Junghuhn hanya bertugas tiga tahun tujuh bulan sebagai dokter di Batavia, Bogor, Semarang, Yogyakarta. Dia menghabiskan waktu bujangannya dengan berkelana SEMBILAN tahun dari Ujung Kulon ke Banyuwangi, dari pantai Laut Jawa ke pantai Samudera Hindia. Mendaki semua gunung di Jawa, berjalan bersama para kulinya meneliti batuan, flora, fauna, mengambil sampel, tidur di gubuk-gubuk penduduk atau berkemah di tengah hutan.
Tentu dia kini bahagia sebab mendapatkan panggilan hidupnya.

Tahun 1848, Junghuhn kembali ke Belanda sebagai cuti sakit. Kali ini dia tidak lari lagi, tetapi menggunakan waktu cuti sakitnya untuk menulis semua hasil penelitian sembilan tahunnya, maka keluarlah bukunya yang terkenal itu dalam empat volume. Kalau mau berapa tebalnya bukunya itu kalau ditumpuk, silakan main ke P3G Bandung, moga-moga masih ada…

Tahun 1855, Junghuhn kembali ke Indonesia membawa dua hal : kina dan seorang istri. Dengan pengetahuannya yang komprehensif tentang Jawa, dia tahu bahwa di Lembang lah kina paling baik harus ditanam. Nah, atas jasa Junghuhn lah kalau Indonesia pernah menjadi produsen pil kina nomor 1 di dunia.

Setelah punya isteri dan anak-anak, Junghuhn tak berkelana lagi. Tak ada tempat di Jawa yang tak pernah didatanginya. Dia memilih tinggal di lereng Gunung Tangkuban Perahu, yang dia sebut sebagai “batin manusia yang aman tenteram”. Tahun 1864, Junghuhn menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah kamar dengan jendela terbuka ke arah gunung-gunung dan hutan-hutan di Priangan. “Aku ingin berpamitan dengan gunung-gunung dan hutan-hutanku tercinta” Itulah kata-kata terakhir yang diingat dr. Groneman sahabat yang menemani saat2 terakhirnya.

Begitulah yang tertulis dalam buku Rob Nieuwenhuys “Oost Indische Spiegel” (1972), sebuah buku bagus yang memuat ulasan2 tentang 30 buku penting yang diterbitkan dari pertengahan 1800an sampai pertengahan 1900an. Di pedagang buku bekas, tak jarang kita akan menemukan buku2 bagus dan penting…

“Kebahagiaanmu, hiburanmu, harapan dan kepercayaanmu hendaklah berakar semata-mata dalam alam raya yang secara diam-diam, namun tetap abadi bergerak di dalam makhluk-makhlukNya” (Franz Wilhelm Junghuhn, 1835).

salam,
awang

Tulisan Pak Awang HS di IAGI-net

Foto : Wikipedia

2 Tanggapan

  1. […] Ditulis pada April 15, 2008 oleh Rovicky Hampir tiga tahun yang lalu saya mem-posting tulisan tentang Junghuhn, seperti di bawah. Kamis 10 April minggu kemarin saya mengunjungi cagar alam yang dinamai menurut […]

  2. […] tiga tahun yang lalu saya mem-posting tulisan tentang Junghuhn, seperti di bawah. Kamis 10 April minggu kemarin saya mengunjungi cagar alam yang dinamai menurut […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: