<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>geoBLOGi</title>
	<atom:link href="http://geoblogi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://geoblogi.wordpress.com</link>
	<description>Geologi of Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 09 Dec 2011 08:51:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='geoblogi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>geoBLOGi</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://geoblogi.wordpress.com/osd.xml" title="geoBLOGi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://geoblogi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>GeoBLOGi Moved</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2009/03/17/geoblogi-moved/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2009/03/17/geoblogi-moved/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 03:10:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogroll]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/2009/03/17/geoblogi-moved/</guid>
		<description><![CDATA[Alamat baru GeoBLOGi ada disini http://geoblogi.iagi.or.id<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=109&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Alamat baru GeoBLOGi ada disini <a title="Alamat Blognya Ahli Geologi Indonesia" href="http://geoblogi.iagi.or.id"></a></h2>
<h2 style="text-align:center;"><a title="Alamat Blognya Ahli Geologi Indonesia" href="http://geoblogi.iagi.or.id">http://geoblogi.iagi.or.id</a></h2>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/109/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/109/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=109&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2009/03/17/geoblogi-moved/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiamat di Babo (Papua Petroleum Exploration 1930s)</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2009/02/02/kiamat-di-babo-papua-petroleum-exploration-1930s/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2009/02/02/kiamat-di-babo-papua-petroleum-exploration-1930s/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 02:18:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petroleum Geology]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Ini kisah lama, sekitar 75 tahun yang lalu, mungkin masih menarik untuk diketahui lebih luas sebab selama ini hanya tersimpan di buku-buku lama, yang sulit terbuka untuk umum. Ini kisah eksplorasi minyak di Papua, pulau terakhir yang dieksplorasi Belanda di Indonesia. Tahun 1935, NNGPM (the Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij) mulai mengeksplorasi bagian barat Papua (Vogel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=100&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini kisah lama, sekitar 75 tahun yang lalu, mungkin masih menarik untuk diketahui lebih luas sebab selama ini hanya tersimpan di buku-buku lama, yang sulit terbuka untuk umum.</p>
<p>Ini kisah eksplorasi minyak di Papua, pulau terakhir yang dieksplorasi Belanda di Indonesia.</p>
<p>Tahun 1935, NNGPM (the Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij) mulai mengeksplorasi bagian barat Papua (Vogel Kop &#8211; Bird&#8217;s Head, alias Kepala Burung) seluas 10 juta hektar.</p>
<p><span id="more-100"></span>Pulau besar ini belum pernah dipetakan, peta yang ada hanya peta topografi kasar dalam rangka patroli militer. Maka tim besar di bawah pimpinan Dr A.H. Colijn, manajer eksplorasi dari Tarakan, mulai melakukan perkerjaan raksasa memetakan geologi Papua. Dengan berbagai pertimbangan, NNGPM memilih Babo di Teluk Berau sebagai basecamp. Pekerjaan pemetaan di area yang sangat luas ini dilakukan pertama kali menggunakan pesawat terbang. Pesawat amfibi Sikorski yang bisa mendarat di air ditugaskan untuk pekerjaan ini. Para pilot pesawat ini mesti pandai-pandai membaca cuaca yang sering berkabut dan berubah di atas Papua, mereka pun mesti pandai bermanuver di antara celah-celah tebing batuan gamping di beberapa pegunungan Papua. Dari ketinggian 12.000 kaki, beberapa formasi  geologi bisa diketahui. Ini adalah pekerjaan awal -semacam reconnaissance survey.</p>
<p>Pekerjaan selanjutnya, yang jauh lebih menantang adalah ground survey. Torehan banyak sungai di Papua menolong para geologists Belanda memetakan geologi wilayah besar ini. Para kru lapangan semuanya adalah suku2 dari banyak wilayah<br />
di Indonesia : Dayak, Manado, Ambon, Jawa, Batak, dan Banda. Suku Papua sendiri kelihatannya tak ada sebab pada zaman itu diceritakan bahwa mereka masih merupakan suku pengayau alias pemenggal kepala yang diceritakan tentara Inggris di perbatasan PNG-Papua sebagai suku pelintas batas yang suka mengejar musuhnya melewati garis batas demarkasi.</p>
<p>Para geologists yang memetakan geologi Papua memilih camp-nya di perahu, ini jauh lebih nyaman daripada di dalam hutan yang sangat lebat. Setiap perahu dilengkapi dengan : listrik dari genset, radio, kulkas, lampu2, dan bak mandi untuk berendam dengan cukup nyaman. Mandi harus di atas perahu sebab bila mandi di sungai akan menjadi santapan ramai-ramai para buaya. Detasemen militer tentu  selalu berjaga mengawal para geologists dan kru-nya ini, maklum mereka berada di wilayah yang alam dan penduduknya dinilai tidak ramah.</p>
<p>Lama-kelamaan, bumi Papua pun mulai terpetakan dan terbuka. Beberapa wilayah telah dibuka untuk dibangun jalan, dan bahkan beberapa sumur pertama telah dibor : Wasian, Klamono, Jef Lio, Kasim. Pemukiman2 para pendatang mulai meramaikan bagian barat Papua, perahu2 kecil yang pada awalnya kecil telah menjadi kapal-kapal besar bermotor dengan nama : Jan Carstenz, Soedoe, Moeara, Boelian, Minjak Tanah, dan Casuaris. Desa Papua Babo, di sebuah pulau  delta kecil Sianiri Besar, tetap dipilih sebagai base. Ini karena posisinya yang berada di tengah di antara wilayah eksplorasi NNGPM. Sungai di depannya, Sungai Kasira,<br />
juga cukup dalam untuk kapal-kapal besar berlabuh. Meskipun deltanya tentu saja berawa-rawa, tetapi Babo base terletak diatas bukit berkerikil setinggi 30 kaki dan masih aman dari pasang naik di sekitarnya. Di bukit ini kantor NNGPM dibangun, juga pemukiman para pekerjanya. Dan di sekitar Babo ada ruang luas yang telah dibuka tempat dibangun  aerodrom, hanggar, perbengkelan, rumah sakit, lapangan golf, dan bioskop (bayangkan di tepi hutan Papua yang terpencil, pada tahun 1930-an telah ada lapangan golf).</p>
<p>Suku2 Papua pun mulai mau bekerja sama dengan para pendatang ini. Sebelumnya, mereka jarang melihat para pendatang berkulit putih, kecuali para pemburu burung cenderawasih atau para pedagang Cina. Orang2 Papua ini diperkerjakan NNGPM untuk membongkar muat barang-barang dari kapal2 yang berlabuh di depan Babo dan menarik batang2 pohon dari sekitar hutan Babo untuk membangun perumahan. Bahkan, mereka juga mau berbulan-bulan meninggalkan kampung2nya membantu NNGPM membuka hutan. Mereka bekerja untuk &#8220;Tuan Merah&#8221;, begitu mereka memanggil tuan-tuan Belanda ini (mungkin karena muka Belanda ini merah bila kepanasan).</p>
<p>Dari suku pemburu menjadi suku pekerja, tentu sebuah perubahan budaya yang besar buat mereka. Diceritakan bahwa suku-suku Papua ahli menggunakan tombak, busur dan anak panah. Keahlian ini telah menjadi rezeki untuk seluruh kru sebab mereka<br />
bisa dengan mudah makan daging segar kanguru, babi, dan merpati hutan. Mereka meninggalkan kewajiban  mengolah sagu kepada para perempuan di sukunya. Sebelum kedatangan NNGPM, suku2 Papua ini masih menggunakan cangkang kerang sebagai alat pembayaran, kini mereka mempunyai uang Belanda sebagai upah mereka bekerja. Dan saat mereka membawa uang Belanda ke toko-toko yang baru dibuka, mereka begitu takjub bisa mendapatkan barang2 yang semula tak mereka lihat. Dan, standar hidup<br />
suku Papua pun meningkat dengan cepat. Mereka mengalami revolusi budaya dalam beberapa tahun saja, jauh lebih cepat daripada lebih dari 1000 tahun sejak nenek moyangnya mulai mendiami wilayah ini.</p>
<p>Para pekerja Eropa NNGPM pun yang semula hanya laki-laki saja mulai membawa kaum perempuannya ke Babo. Maka komunitas seperti di kota besar pun mulai tumbuh, laki-laki perempuan bercampur baur. Bila ada kelahiran anak, maka bendera di kantor NNGPM dinaikkan, bila ada anak kembar lahir; maka dua bendera NNGPM akan dikibarkan. Rute2 penerbangan keluarga mulai ada, sekaligus membawa semua keperluan untuk komunitas. Inilah cikal bakal penerbangan ke Papua. Pada tahun 1940, diresmikan layanan terbang ke wilayah ini &#8220;Groote Oost Luchtvaart&#8221; (Great East Flight) oleh KNILM (Koninklijke Nederlandsch<br />
Indische Luchtvaart Maatschappij) yang punya airport di Babo.</p>
<p>Semua pesta2 penting tentu saja diadakan dengan meriah : Kelahiran Ratu Belanda, festival St Nicholas, Natal, dan Tahun Baru. Setiap malam minggu ada pemutaran film di bioskop perusahaan, ada pertandingan hoki, sepak bola, tenis dan golf. Para wanita Belanda pun dengan bantuan suku2 asli yang telah menjadi pekerja NNGPM punya hobi baru yaitu mengumpulkan anggrek hutan dari berbagai varietas. Para botanist dan zoologist amatir mulai bermunculan dengan kayanya flora dan fauna Papua ini. Komunitas ini pun menghasilkan para etnograf amatir yang meneliti para suku2 Papua di sekitar Babo. Suatu hari, Mr. Wissel, seorang insinyur NNGPM terbang di atas Punggung Papua (Pegunungan Tengah) Papua dan menemukan beberapa danau besar di sekitar wilayah Enarotali sekarang. Pantai danau ini dihuni oleh suku2 Papua yang belum dikenal sama-sekali oleh dunia<br />
luar. Saat Wissel turun dari pesawat, ia disambut sebagai &#8220;dewa dari langit&#8221;. Kemudian, danau ini sekarang  terkenal sebagai Danau Wissel.</p>
<p>Hubungan baik terbina, beberapa orang suku Papua penghuni pantai danau ini pernah diterbangkan ke Babo untuk operasi darurat.</p>
<p>Begitulah sekelumit sejarah pembukaan wilayah Papua di Kepala Burung. Membuka semuanya : pengetahuan geologi, membawa minyak ke permukaan (lapangan Klamono, Mogoi, Wasian, dll.), dan membuka keterpencilan suku-suku Papua. Ini sebuah<br />
contoh bagaimana minyak bisa membuka dunia yang semula &#8220;back of beyond&#8221;.</p>
<p>Teman-teman ex Petromer Trend (kini PetroChina) yang menemukan lapangan2 besar di Salawati awal tahun 1970-an (misal Walio dan Kasim), BP yang sedang mengembangkan Tangguh di Berau Bay, dan Genting Kasuri yang mau memulai survey di wilayah ex Babo, pasti punya cerita tersendiri dan terkini membuka Kepala Burung ini; saya hanya menceritakan sedikit masa lalunya.</p>
<p>Ketika BP me-renovasi Bandara Babo, memang banyak ditemukan Ranjau-ranjau Jepang dan juga sisa-sisa pesawat tempur Jepang yang menandakan bahwa Jepang juga menjadikan Babo sebagai basenya waktu itu.</p>
<p>Sebenarnya yang menanam ranjau darat (land-mines) di sekitar Babo itu bukan Jepang, tetapi karyawan NNGPM sendiri dalam rangka bersiap menyambut kedatangan Jepang yang mungkin akan menduduki Babo, sebagaimana dilakukan Jepang di lapangan-lapangan minyak lain di Indonesia saat pecah Perang Pasifik Desember 1941.</p>
<p>Menyambung cerita saya tentang awal eksplorasi Papua 1930s, berikut lanjutannya.<br />
Bila cerita kemarin mengisahkan awal peradaban di Babo, maka cerita berikut mengisahkan akhir peradaban di Babo.</p>
<p>&#8220;Kiamat di Babo&#8221;  mungkin sebuah judul yang berlebihan, tetapi begitulah mungkin perasaan para karyawan NNGPM dan keluarganya saat bom-bom mulai berjatuhan dari langit oleh pesawat2 tempur Jepang saat mulai pecah Perang Pasifik Desember 1941.</p>
<p>Kegembiraan masyarakat Belanda dan para karyawan NNGPM di tempat terpencil Babo di ujung Teluk Berau, Kepala Burung, tidak berlangsung lama, hanya sekitar setahun, setelah penerbangan umum ke Babo dibuka Belanda pada tahun 1940. Dua bulan dari Desember 1941 sampai awal Februari 1942 semuanya adalah penderitaan, tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi pesta-pesta, tak ada lagi nonton bioskop bersama (lihat cerita saya di bawah). Bahkan, mereka harus &#8220;merayakan&#8221; malam tahun baru 1942 sambil bertiarap di rawa-rawa Teluk Berau berteman nyamuk2 rawa, sambil ketakutan dimangsa buaya muara Berau.</p>
<p>9 Desember 1941, sebuah sumur tengah dibor di Lapangan Jeflio, Cekungan Salawati. Malam itu, sumur mencapai kedalaman  6275 kaki. Para geologist Belanda memperkirakan pada kedalaman 7000 kaki akan dijumpai lapisan batugamping Miosen yang telah terkenal produktif di daerah itu (inilah Formasi Kais). Tetapi, malam itu juga sumur diperintahkan untuk ditinggalkan sebab genderang Perang Pasifik telah bertalu dengan pemboman Pearl Harbour di Hawaii oleh Jepang.  Ketakutan karyawan NNGPM di Jeflio beralasan sebab tentara Jepang telah menyerang Sorong, kota terdekat.</p>
<p>Markas Besar Belanda di Batavia telah memerintahkan Babo untuk mengevakuasi semua perempuan dan anak2 Eropa sesegera mungkin ke Jawa. Maka pada tanggal 17-26 Desember 1941 rombongan pesawat2 KNILM tiba di Babo kemudian segera berangkat membawa para perempuan dan anak2 berkulit putih. Pesawat2 itu lenyap di balik awan di atas Kepala Burung, meninggalkan para suami dan ayah yang melambaikan tangan dengan berat hati. Akankah mereka saling berjumpa lagi ? Sebagian besar tidak&#8230;</p>
<p>Para karyawan NNGPM yang semula membawa alat las, tang besar, pipa,dll. tiba-tiba dipersenjatai bedil double-barreled, milisi garnisun segera terbentuk, sekitar 40 orang kulit putih ada di milisi itu. Garnisun ini dibentuk untuk tindakan persiapan siapa tahu Jepang mendarat di Babo. Babo cukup terpencil tempatnya, sehingga tak segera menjadi sasaran Jepang setelah Sorong jatuh.</p>
<p>Kemudian, rencana tindakan perusakan sendiri atas fasilitas2 perminyakan pun dibuat. Ini selalu dilakukan di lapangan-lapangan minyak Belanda di seluruh Indonesia saat Jepang menyerang. Mengapa dirusak ? Sebab, Jepang memerlukan bahan bakar untuk perang. Bila fasilitas perminyakan dirusak, maka Jepang akan sulit mendapatkan bahan bakar untuk menjalankan mesin-mesin perangnya.</p>
<p>Segera setelah Jepang menyerang Pearl Harbour, telah diputuskan bahwa seluruh material berharga dari berbagai lapangan dan pelabuhan kecil di seluruh Kepala Burung dikumpulkan di Babo. Bila waktu mendesak, barang-barang berharga itu dapat segera diungsikan ke Jawa dari Babo menggunakan pesawat, atau kalau waktu begitu mendesak, maka sekalian barang itu dapat segera dihancurkan. Daftar barang2 berharga ini antara lain : mesin bermotor, dinamo, boiler, steam engine, juga alat2 berat seperti traktor dan buldozer. Peralatan bengkel dan gudang juga masuk dalam daftar barang2 siap dievakuasi atau dihancurkan. Beberapa peralatan berat disembunyikan di hutan sekitar Babo sambil berharap Jepang tak akan menemukannya. Stasiun radio pun mulai dihancurkan satu per satu, kecuali satu yang terbesar dipertahankan untuk berhubungan dengan Batavia atau Ambon.</p>
<p>Sementara itu, 200 tentara dari Batavia, terdiri atas orang2 Indonesia, dipimpin Kapten van Muyen dan dua sersan Belanda mendarat di Babo pada Januari 1942. Pasukan ini membawa banyak ranjau. Dan ranjau pun ditanam di bawah mesin-mesin berat yang tak akan dievakuasi, juga ditanam di beberapa tempat yang diperkirakan akan dilalui tentara Jepang saat mendarat di Babo.</p>
<p>Sementara itu, Jepang yang sudah menduduki Sorong, melakukan patroli rutin sepanjang Selat Sele (teman2 PetroChina tentu rutin melalui selat ini saat mereka dari Sorong akan ke KMT -Kasim marine terminal -stasiun pengumpul minyak2 Salawati; saya rutin melalui selat teduh ini saat ke lapangan di Pulau Salawati pada 1997-2000). Dermaga Kasim saat Jepang melakukan patroli telah termasuk yang dihancurkan.</p>
<p>Pada minggu-minggu pertama setelah pecah Perang Pasifik, Jepang tak menunjukkan ketertarikan kepada Babo, sehingga evakuasi ke Jawa bisa dilakukan beberapa kali. Tetapi, setelah hampir sebulan berlalu; tiba-tiba karyawan NNGPM yang tengah melakukan perusakan fasilitasnya sendiri dikejutkan dengan kedatangan sembilan pesawat bomber Jepang dari sebelah utara yang tanpa ampun menjatuhkan bom-bom. &#8220;Kiamat di Babo&#8221; mulai terjadi.</p>
<p>H.W. Minekus, seorang karyawan NNGPM menulis dalam sebuah laporan, &#8220;Kebanyakan dari kami lari dan menjatuhkan diri di parit-parit pinggir jalan. Kemudian pesawat2 Jepang datang kembali, Kami makin melekatkan diri dengan tanah parit sambil gemetaran. Tetapi saat itu tak ada bunyi bom, mungkin mereka sudah kehabisan amunisi. Bomber2 itu pergi ke arah mereka datang.&#8221;</p>
<p>Serangan bom ini telah mengejutkan para pegawai NNGPM dari suku asli. Mereka segera lari ke hutan dari mana mereka berasal dan tak pernah keluar lagi. Sementara itu, kuli-kuli bukan suku Papua juga lari ke hutan, tetapi beberapa hari kemudian mereka kembali ke Babo karena kelaparan.</p>
<p>Membalas serangan Jepang, Belanda bekerja sama dengan Tentara Sekutu mendatangkan pesawat2 bomber dari Australia. Karyawan NNGPM menyambut gembira kedatangan pesawat2 ini. Untuk sementara waktu,serangan Jepang dari utara tak muncul lagi. Akhir Januari 1942, pesawat2 ini kembali ke pangkalannya di Australia.</p>
<p>Pada saat yang bersamaan, Jepang berhasil merebut lapangan-lapangan minyak di Bunyu, Tarakan, dan Miri-Sarawak. Ini membuat Batavia memutuskan agar NNGPM merusak semua fasilitas perminyakan dan segera melakukan evakuasi.</p>
<p>25 Januari 1942 pukul 02.00, datang perintah dari komando militer di Belanda agar semua fasilitas perminyakan yang telah dikumpulkan di Babo dihancurkan. Ketika hari masih gelap, pekerjaan penghancuran dimulai. Lapangan terbang dihancurkan menggunakan ranjau-darat. Berdrum-drum minyak ditumpahkan dan kebakaran besar menghancurkan banyak fasilitas. Tangki-tangki air diledakkan. Mesin-mesin dirusak menggunakan palu godam. Banyak barang dibuang ke sungai, termasuk alat-alat berat seperti buldozer dan lori-lori. Lubuk sungai sedalam 36 kaki di Kasira dan Kaitero cocok untuk pembuangan barang2 ini. Laporan-laporan geologi, laporan sumur, contoh2 batuan dan banyak dokumen dibakar di belakang gedung kantor sebelum gedungnya pun dibakar. Yang tidak dirusak hanyalah stasiun pembangkit listrik, yang akan disisakan sampai evakuasi dimulai. Tanggal 1 Februari Ambon jatuh, evakuasi harus segera dimulai.</p>
<p>Awal Februari 1942, lenyaplah semua peradaban perminyakan di Babo, tak sampai sepuluh tahun berjalan sejak dimulai pada pertengahan 1930-an.</p>
<p>Evakuasi semua pekerja dan keluarganya yang masih tertinggal dimulai.  Evakuasi akan dilakukan ke Dobo di Kepulauan Aru, bukan ke Jawa karena kuatir Jepang akan menyerang Jawa, pusat pemerintahan Belanda di Hindia Belanda. Keputusan tepat sebab Jepang menyerang Jawa dan menjatuhkannya pada Maret 1942. Evakuasi karyawan di Babo dilakukan dari Sungai Kaitero melalui Taniba. Setelah melintasi hutan rawa dan hutan perbukitan Taniba, rombongan tiba di Teluk Arguni. Di teluk ini, dua kapal NNGPM menunggu : Soedoe dan Minjak Tanah. Kedua kapal ini  membawa rombongan ke Dobo, Kepulauan Aru.</p>
<p>Minekus, karyawan NNGPM menceritakan evakuasi ini, &#8220;Kami merasa susah mesti melalui sungai-sungai kecil berawa-rawa berlumpur coklat. Sebuah perjalanan yang sangat menyiksa melalui daerah tak berpenduduk yang hanya dihuni bakau-bakau yang tinggi. Tanda-tanda kehidupan hanyalah suitan burung kakatua putih di atas kami. Kami juga mesti berjalan cepat sebelum pasang naik menyergap. Ketika kami sampai di perbukitan, pemandangan lumayan indah, tetapi di sepanjang perjalanan kami melihat kampung2 suku Papua yang sudah ditinggalkan.&#8221;</p>
<p>Demikianlah sekelumit kisah berakhirnya peradaban perminyakan di Babo yang disusun berdasarkan laporan-laporan Belanda NNGPM.</p>
<p>Minyak membuka dan menutup peradaban di Babo. Semoga tak terulang lagi.</p>
<p>Salam,<br />
awang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/100/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/100/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=100&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2009/02/02/kiamat-di-babo-papua-petroleum-exploration-1930s/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekspedisi Satonda 2008, Sumbawa (BPMIGAS)</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/12/09/ekspedisi-satonda-2008-sumbawa-bpmigas/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/12/09/ekspedisi-satonda-2008-sumbawa-bpmigas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 07:02:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupi]]></category>
		<category><![CDATA[satonda]]></category>
		<category><![CDATA[tambora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[By : Awang Harun S Ilustrasi : RDP Menyelami sebuah danau kecil di sebuah pulau kecil bernama Satonda adalah seperti melihat awal kehidupan di planet Bumi. Minggu lalu, kami berempat belas dari BPMIGAS, bersama dua dosen geologi dari UGM (Pak Agus Hendratno dan Pak Salahuddin Husein) dan seorang pejabat sekaligus geologist dari Pemerintah Provinsi Nusa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=91&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_93" class="wp-caption alignleft" style="width: 291px"><img class="size-full wp-image-93" title="satonda-2" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/12/satonda-2.jpg?w=468" alt="satonda-2"   /><p class="wp-caption-text">Pulau Satonda dengan danau seluas 0.8 Sq Km di tengahnya</p></div>
<p>By : Awang Harun S</p>
<p>Ilustrasi : RDP</p>
<p>Menyelami sebuah danau kecil di sebuah pulau kecil bernama Satonda adalah seperti melihat awal kehidupan di planet Bumi. Minggu lalu, kami berempat belas dari BPMIGAS, bersama dua dosen geologi dari UGM (Pak Agus Hendratno dan Pak Salahuddin Husein) dan seorang pejabat sekaligus geologist dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) (Pak Heryadi Rachmat) mendatangi pulau di seberang kaki Gunung Tambora, Sumbawa ini.</p>
<p>Mengapa kami jauh-jauh dari Jakarta mendatangi pulau kecil yang gambarnya belum tentu ada di setiap atlas anak sekolah ini ? Untuk mencapainya saja dibutuhkan angkutan udara, darat, dan laut selama 18 jam.<span id="more-91"></span></p>
<p>Target utama kami adalah ingin mempelajari “stromatolit” – struktur terumbu gampingan berlaminasi yang tersusun oleh mikroba bakteri dan ganggang (suka disebut sebagai sembulan mikrobialit). Stromatolit mendominasi lautan di planet Bumi pada kurun PraKambrium. Ia adalah bentuk pertama struktur kehidupan yang masif. Organisme mikroba prokariotik yang melakukan fotosintesis ini telah membuat atmosfer Bumi pada PraKambrium yang miskin oksigen menjadi berangsur kaya oksigen. Tragisnya, semakin kaya oksigen, kehidupan multisel semakin berkembang di lautan PraKambrium, dan organisme multisel inilah yang memakan bakteri dan ganggang pembuat stromatolit. Maka, memasuki masa Paleozoikum Atas, struktur stromatolit hampir tidak pernah ditemukan lagi. Lalu mengapa tiba-tiba stromatolit ini muncul di danau modern (Kuarter) Satonda ?</p>
<p>Jawaban pendeknya adalah karena air Danau Satonda secara kimiawi menyerupai lautan PraKambrium. Semakin dalam menyelam, seolah pintu ke kurun PraKambrium semakin terbuka lebar. Tidak pada setiap zaman geologi hadir hewan karang (scleractinian coral) pembentuk terumbu karang seperti pembangun reservoir-reservoir migas Miosen di Indonesia dan terumbu karang yang indah di wilayah tropis. Pada masa Paleozoikum Bawah (Kambrium-Ordovisium-Silur), terumbu gampingnya adalah bukan terumbu karang, tetapi terumbu stromatolit yang disusun mikroba bakteri dan ganggang. Nah, karena telah terjadi kecenderungan bahwa eksplorasi migas mulai bergerak ke masa Paleozoikum Bawah, kami dari BPMIGAS memandang perlu mendatangi analog modern lingkungan PraKambrium-Paleozoikum Bawah yang telah tersedia secara unik di sebuah pulau volkanik kecil bernama Satonda. Di sana kami mempelajari lingkungan pembentukan stromatolit dan kemungkinannya sebagai reservoir migas. Kami berharap<br />
bahwa setelah mempelajarinya, kami akan dapat membangun model prediksi di mana di Indonesia dapat berkembang terumbu stromatolit Paleozoikum Bawah, sekaligus kemungkinannya sebagai reservoir migas.</p>
<div id="attachment_95" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-95" title="satonda-1" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/12/satonda-1.jpg?w=300&#038;h=196" alt="satonda-1" width="300" height="196" /><p class="wp-caption-text">Pulau Satonda yang terletak di sebelah utara Gunung Tambora yang merupakan gunung dengan letusan terbesar yang tercatat (tertulis) dalam sejarah manusia. Letusannya menyebabkan Eropa kehilangan musim panas dalam satu tahun. A year without summer</p></div>
<p>Dari Jakarta, kami berangkat hari Kamis 4 Desember menggunakan Garuda GA 430 pukul 11.15. Kami tiba di Bandara Selaparang, Mataram pukul 14.00 WITA. Setelah bergabung dengan Pak Agus dan Pak Udin (UGM) dan Pak Heryadi Rachmat (Pemda NTB) di Mataram, rombongan melintasi jalan tengah Pulau Lombok menuju Kahyangan, nama pelabuhan penyeberangan ke Pulau Sumbawa yang terletak di bibir pantai timur Pulau Lombok. Di sepanjang perjalanan, tubuh gunungapi Rinjani dan endapan piroklastikanya membuat lahan Lombok menjadi subur. Kapal ferry yang akan membawa kami ke Sumbawa penuh dengan mobil pribadi, truk, dan bus yang akan menyeberang. Pukul 19.00, bus yang kami sewa baru dapat giliran menyeberang. Sebagian dari kami ada yang tidur di dek yang bersusun, ada juga yang ngobrol-ngobrol dan bercanda di geladak kapal sambil menikmati angin laut yang berhembus di atas Selat Alas – selat yang memisahkan Lombok dan Sumbawa. Pukul 21.00, kapal berlabuh di Pototano, lalu<br />
bus dengan kecepatan tinggi memacu jalannya menuju kota Sumbawa Besar. Di luar gelap dan hujan turun rintik-rintik. Pukul 23.00 kami tiba di sebuah hotel di dekat dermaga penyeberangan ke Pulau Satonda. Meskipun cukup melelahkan, sebagian besar dari kami tak dapat tidur sampai pukul 02.00; padahal pukul 05.30 esoknya kami harus bersiap-siap menyeberang ke Satonda.</p>
<p>Jumat 5 Desember pagi hari sambil sarapan kami mendapatkan cerita dari dua teman kami yang kamarnya diganggu ”penunggu” hotel ini (hm..). Ranjangnya diangkat dan dimiringkan, pintu pagarnya digoyang-goyang, pintu digedor-gedor, dll. Antara sadar dan tidak, teman itu bercerita apakah ada gempa semalam. Kami bingung menanggapinya sebab tak ada seorang pun yang merasakan gempa semalam. Pukul 06.15 kami memulai perjalanan laut menuju Satonda menyeberangi Teluk Saleh dan Selat Batahai yang sangat indah. Suasana laut yang begitu biru dan teduh karena terlindung oleh Pulau Moyo dari gelombang Laut Flores di sebelah utara, membuat kami yang umumnya ngantuk karena kurang tidur menjadi semangat. Semua kawan ingin merasakan terpaan angin laut pagi hari, maka kami duduk di puncak anjungan kapal atau di geladak depan kemudi. Sejauh mata memandang adalah laut biru dan biru. Awan putih berarak di langit yang juga biru. Di kejauhan nampak Pulau Moyo yang dibentengi<br />
terumbu karang modern yang terangkat. Siapa yang menyangka kalau di tepi pulau ini ada sebuah resort internasional yang memasang tarif 1000 USD per malam dan pernah dikunjungi Lady Diana semasa hidupnya. Pukul 10.15 kami tiba di depan Pulau Satonda. Kapal membuang jangkar beberapa ratus meter dari bibir pantai agar tak kandas. Dengan perahu motor kami diantar menginjak Pulau Satonda.</p>
<p>Hampir empat jam kami gunakan mengeksplorasi pulau ini. Dari luar, pulau ini tak berbeda dengan pulau-pulau lain di sekitarnya. Siapa yang menyangka, begitu kami masuk ke dalamnya mengikuti jalan setapak naik dan turun, tiba-tiba kami disuguhi pemandangan yang spektakular : Danau air asin Satonda yang berwarna hijau kebiruan dikelilingi tebing berhutan lebat yang dibangun oleh lava dan tuf. Danau ini baru terbuka kepada ilmu pengetahuan ketika pertama kali ditemukan tahun 1984 melalui ekspedisi Snellius II. Buat penghuni di sekitarnya tentu saja danau ini sudah diketahui keberadaannya seumur penghunian di wilayah ini, tetapi ia baru diketahui sangat berharga untuk ilmu pengetahuan setelah ekspedisi Snellius II. Ternyata, Danau Satonda adalah satu dari hanya sekitar lima tempat di Bumi yang menyerupai lautan PraKambrium. Di Indonesia, ia diketahui satu-satunya.</p>
<p><a href="http://www.panoramio.com/photos/original/4251430.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-98" title="satonda-lake" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/12/satonda-lake.jpg?w=300&#038;h=170" alt="satonda-lake" width="300" height="170" /></a>Begitu mendekati bibir danau, kami disuguhi singkapan stromatolit Kuarter di atas permukaan danau yang tentu saja organismenya sudah mati dan membangun struktur terumbu masif. Gambaran kasat mata, terumbu stromatolit ini menyerupai terumbu karang yang dibangun scleractinian coral, tetapi ia sama sekali tak mengandung koral. Kesan kemiripannya berasal dari semen dan matriks gampingannya. Perbedaan yang segera bisa terlihat adalah struktur laminasi yang bisa ditemui di beberapa bagian singkapan. Keunikan stromatolit Danau Satonda adalah bahwa ia bersatu tempat lingkungan dengan endapan piroklastika berupa lava andesit basaltik dan tuf. Tidak mengherankan sebab Danau Satonda sesungguhnya adalah danah kawah gunungapi.</p>
<p>Kesan bahwa ini merupakan miniatur laut pada Kurun PraKambrium akan diperoleh bila kita melakukan snorkeling dan menyelam. Seorang teman kebetulan membawa kamera digital bawahair, maka sambil melakukan snorkeling foto-foto bawahair diperoleh. Perahu motor yang mengantar kami dari kapal tadi diangkut banyak awak kapal melalui jalan setapak naik turun menuju danau. Baru kali itu saya melihat perahu berat diangkut ramai-ramai naik-turun bukit. Tadinya memang kami akan menggunakan perahu karet, tetapi sobek saat diturunkan dari kapal. Dengan perahu itu, sebagian dari kami mengelilingi seluruh kawasan danau mengamati stromatolit yang tersingkap maupun yang masih hidup mulai dari kedalaman sekitar 5 meter. Bagaimana makhluk hidup di danau ini ? Sepi sekali. Hanya stromatolit, ganggang hijau yang mengambang sampai permukaan, keong gastropoda kecil berwarna hitam yang tak lebih besar dari ujung pinsil, dan ikan-ikan sebesar teri berwarna hitam. Itu saja yang<br />
sempat kami saksikan. Air danau adalah air asin, air laut. Hasil penelitian para ilmuwan yang pernah mendatangi danau ini dan menyelaminya sampai dalam (sayangnya seluruhnya adalah ilmuwan asing), kimia air ini sangat basa (alkalin) dengan salinitas yang semakin tinggi semakin dalam. Kondisi ini ekstrim untuk kehidupan normal saat ini, sehingga yang bisa bertahan hidup hanya organisme yang cocok dengan kondisi itu atau yang telah mengalami perubahan evolusi (spesiasi terhadap lingkungan). Karena stromatolit berlimpah pada kurun PraKambrium, maka lautan pada kurun itu dipikirkan juga sebagai lautan yang alkalin mirip analognya sekarang (”the present is the key to the past”). Diskusi tentang stromatolit PraKambrium dan lingkungannya serta kimia air laut Satonda dapat dilihat di bawah.</p>
<p>Bagaimana peluang stromatolit sebagai reservoir migas ? Sangat baik – istimewa. Dari contoh-contoh singkapannya di Danau Satonda kami melihat bahwa porositasnya sangat berkembang baik secara primer melalui batas-batas struktur laminasinya, maupun sekunder melalui diagenesis ganggang dan struktur bakterinya. Secara mineralogi, kedua mikroba ini disusun oleh Mg-Ca dan aragonitik, sehingga mudah terdisolusi mengembangkan porositas. Maka, kalau di Indonesia ditemukan lapisan terumbu stromatolit di Paleozoikum Bawah, potensinya sebagai reservoir akan baik.</p>
<p>Setelah puas meneliti Danau Satonda, kami kembali mengikuti jalan setapak naik dan turun menuju bibir pantai yang berhubungan dengan laut lepas tepi Laut Flores. Di jalan pulang kami berpapasan dengan sekitar sepuluh turis asing (Amerika) anak-anak dan dewasa, lelaki dan perempuan, yang hendak berenang di Danau Satonda. Hm, tempat seterpencil Satonda masih juga diketahui mereka. Tentu saja, sebab Satonda adalah salah satu aset pariwisata Sumbawa di samping Tambora. Dan, ia pun aset penting ilmu pengetahuan. Beberapa turis asing ini berbaik hati saat pulang ikut mengangkat perahu motor kami dari Danau Satonda.</p>
<p>Di pantai Satonda yang berhubungan dengan laut lepas Laut Flores, kami melakukan snorkerling dan pemandangannya sungguh luar biasa. Betapa indahnya terumbu-terumbu karang yang masih hidup itu, dengan berbagai bentuk dan warna, berkedip dan berdenyut atau melambai bergerak-gerak oleh godaan air laut. Sementara itu puluhan jenis ikan karang yang warnanya sangat indah dan kontras berenang-renang di antara bunga karang. Ini tak berbeda dengan pemandangan terumbu karang di Kepulauan Seribu, atau di Bunaken, atau di Taka Bone Rate, atau di Raja Ampat, dan di tempat-tempat lain.</p>
<p>Bandingkan, dalam jarak yang tak sampai satu km, kehidupan di dalam Danau Satonda yang juga diisi air laut, dengan kehidupan di tepi pantai Satonda, sangat jauh – ibarat tanah dengan langit. Kehidupan di Danau Satonda sangat sepi dan suram, sementara di tepi pantai Satonda sangat ramai dan ceria. Apa yang menyebabkannya ? Kimia air laut dan lingkungan geologi kedua wilayah berjarak tak sampai satu km itu sangat jauh. Saya baru percaya bahwa Danau Satonda benar-benar merupakan analogi lautan PraKambrium yang alkalin, kehidupan bersel tunggal, sepi, didominasi stromatolit, evolusi awal kehidupan setelah membandingkan dua kontras ini. Boleh dibilang bahwa dalam jarak tak sampai satu km dari Danau Satonda ke pantai Pulau Satonda kita melangkah dari kurun PraKambrium ke Resen –suatu perjalanan 1000 juta tahun.</p>
<p>Pukul 14.30 kami melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Tambora yang pernah meletus secara katastrofik pada tahun 1815 dan sampai saat ini menduduki peringkat teratas di dunia dalam letusan gunungapi dalam sejarah manusia. Konon gunung ini pernah setinggi 4200 meter, membuat gunungapi tertinggi di seluruh kawasan Hindia Timur (Indonesia sekarang). Indeks letusan gunungapi ini menduduki angka 7 – itu adalah angka tertinggi, dengan energi empat kali lebih besar dari energi letusan Krakatau 1883 yang menduduki indeks angka 6. Letusan Tambora ini pernah membuat dunia tanpa musim panas sehingga kelaparan dan penyakit melanda di mana-mana di seluruh dunia. Gunung di ujung utara Sumbawa inilah biang bencana saat itu. Sore itu kami akan mengamati urutan endapan piroklastikanya yang tersingkap di pantai bernama Pantai Kenanga.</p>
<p>Setelah sampai di seberang Pantai Kenanga, beberapa dari kami kembali diantar menggunakan perahu motor. Kami mendarat di bibir pantai dan segera disambut pasir besi berwarna hitam yang panas. Pasir besi ini adalah penyaring air laut yang baik. Penduduk setempat menggali tak sampai satu meter di pinggir pantai akan menemukan air tawar. Di tebing pantai kami mengamati singkapan piroklastika letusan Tambora 1815. Letusan Tambora yang hebat berlangsung empat bulan dari April – Juli 1815. Setiap letusan mengirimkan endapan piroklastikanya, sebagian ke wilayah ini dan terawetkan. Beberapa batang pohon yang telah mengarang dan menyerpih tertanam di dalam tuf. Tuf dan batu apung banyak menyusun singkapan, mencirikan bahwa magma asam diletuskan dengan kekuatan yang besar. Batang-batang pohon itu dulunya mesti berasal dari hutan di lereng Tambora yang diserbu awan panas dengan gelombang kecepatan hempasannya mencabut pepohonan dan membakarnya kemudian<br />
mencampuradukkannya dengan abu gunungapi sampai kemudian tersingkap menjadi kesatuan. Arang dari pohon ini baik kalau ditera umurnya menggunakan pentarikhan umur absolut menggunakan karbon-14.</p>
<p>Pengamatan hari ini berakhir pukul 16.00, kami kemudian menempuh perjalanan laut selama empat jam kembali ke hotel di Sumbawa Besar, menyeberangi Teluk Saleh. Dari kejauhan kami mengamati terumbu koral Kuarter yang terangkat membentengi pulau-pulau di dekat Selat Batahai. Terumbu koral terangkat ini adalah suatu bukti bahwa pulau-pulu ini masih terangkat didesak dari bawah oleh mekanisme Sesar Flores yang terkenal itu. Malam hari di atas pukul 19.00 langit gelap di atas anjungan dan geladak kapal berhiaskan semburat bintang-gemintang yang sangat indah – sebagian badan galaksi Bima Sakti yang semburatnya di langit membentuk jalur sejajar dengan arah kapal bisa saya lihat, juga rasi bintang paling mudah diamati di langit : Orion – yang dicirikan sabuk bertatahkan tiga bintang di ikat pinggang sang pemburu itu. Pukul 20.00 kami sampai di hotel dan tentu saja segera makan malam setelah kegiatan melelahkan tetapi sangat menyenangkan hari ini. Sampai pukul<br />
22.30 kami masih melanjutkan diskusi, mereview apa yang kami lihat hari ini. Sampai pukul 24.00 saya bersama Pak Heryadi Rachmat masih berdua di loby hotel menyusun bahan presentasi tentang potensi migas NTB untuk disajikan esok harinya kepada para pejabat Pemda NTB.</p>
<p>Sementara itu, di sebuah kamar/bungalow hotel yang ditempati seorang teman yang malam sebelumnya diganggu “penunggu” hotel, sampai pukul 03.00 ternyata masih mengalami gangguan. Seorang teman yang memiliki kemampuan supranatural soal “alam” ini membenarkan bahwa memang ada gangguan itu. Tetapi hanya menakut-nakuti, bukan untuk yang lain. Di tempat terpencil seperti ini, saya pikir wajar saja kalau itu terjadi.</p>
<p>Sabtu 6 Desember 2008 pagi hari kami sarapan di hotel sambil bersiap pulang kembali ke Lombok. Pukul 08.00 kami mulai melakukan perjalanan menuju Pototano, pelabuhan penyeberangan Sumbawa-Lombok. Pukul 10.30 kami tiba di sana. Pemandangan sungguh indah buat seorang geologist walaupun gersang sebab banyak bukit gundul baik di darat maupun di laut. Saat perjalanan pergi pada Kamis malam kami tak melihatnya sebab saat itu gelap dan sedikit hujan. Pukul 11.00-13.00 kami menyeberangi Selat Alas. Tiba di Pelabuhan Kahyangan, Gunung Rinjani yang perkasa kembali kami lihat. Tak jauh dari pelabuhan, kami berhenti di sebuah bukit tandus yang disebari bongkah andesit basaltik hasil letusan Rinjani. Keunikannya adalah bahwa piroklastika di bukit ini bersatu tempat dengan batugamping terumbu – mencirikan bahwa tumpahan piroklastika masuk ke dalam laut yang ditumbuhi karbonat terumbu.</p>
<p>Pukul 15.00 kami berhenti di sebuah objek wisata Narmada –sebuah istana Kerajaan Lombok-Karangasem yang didirikan tahun 1775. Yang menarik dari Narmada adalah bangunan/arsitektur kolam-kolam airnya yang luar biasa, kelihatan sangat kokoh dan indah. Tentu pada saat dibangun, telah menggunakan keahlian lokal dalam merancang dan membangunnya. Pukul 16.30 kami tiba di Senggigi dan menginap di sebuah hotel di kawasan pantai paling terkenal di Lombok ini.</p>
<p>Malam hari dari pukul 19.00-23.15 kami mengadakan acara di tepi pantai Senggigi berupa makan malam, hiburan, presentasi teknis, dan pemutaran film – sebuah ramuan acara yang unik menggabung hiburan yang santay dan presentasi teknis yang serius. Beberapa tamu turis asing pun ikut menikmati acara kami itu di meja-meja dekat restoran. Saat makan malam, hujan mulai rintik-rintik turun. Wah&#8230;padahal panggung dan meja-meja telah disusun rapih. Pawang hujan pun dipanggil, dan dengan kekuatan magisnya yang tak bisa dipahami terlihat mega mendung mulai beringsut ke Mataram. Lalu bulan pun kembali terlihat dan langit cerah sampai acara usai. Di Mataram sementara dikabarkan turun hujan (hm..). Sekitar 15 orang pejabat dari Pemda NTB hadir dan larut bersama kami dalam acara-acara yang telah disusun. Presentasi teknis ada dua, yaitu : (1) mengenalkan fungsi dan peranan BPMIGAS di Indonesia ditambah dengan gambaran eksplorasi migas secara umum, dan (2) menunjukkan<br />
ringkasan dan hasil kegiatan ekspedisi atau ekskursi kami ke Pulau Satonda, dan potensi migas wilayah Lombok-Sumbawa. Acara berakhir dengan pemutaran film koleksi Pak Heryadi Rachmat tentang : erupsi Tambora, penelitian Satonda, dan letusan Gunung Rinjani.</p>
<p>Minggu 7 Desember 2008 pukul 14.20 kami meninggalkan Lombok kembali menuju Jakarta dengan Garuda GA 433.</p>
<p>Ekspedisi/ekskursi yang kami lakukan, dibantu oleh UGM dan Pemda NTB, serta melibatkan perusahaan jasa event organizer di Jakarta, dan perusahaan jasa pariwisata di Lombok telah berjalan dengan sukses, lancar dan selamat. Target yang kami rancang jauh-jauh hari semuanya tercapai. Buat seorang geologist seperti saya, pekerjaan lapangan adalah suatu kemutlakan, juga bermanfaat untuk kawan-kawan nongeologi, mereka mengenal bagaimana geologi dan pekerjaan seorang geologist.</p>
<p>Perjalanan ini juga mendapatkan liputan yang cukup luas dari media-media lokal maupun nasional. Seorang wartawan Kantor Berita Antara bahkan mengikuti kami sejak Mataram sampai Satonda. Beberapa berita telah diturunkan di TV maupun surat kabar. Meskipun demikian klarifikasi harus dilakukan sebab ada beberapa mispersepsi dalam pemberitaan.</p>
<p>Semoga catatan ini bermanfaat.</p>
<p>Salam,<br />
awang</p>
<p>&#8212; Sumber gambar : Google dan Panoramio.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/91/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/91/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=91&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/12/09/ekspedisi-satonda-2008-sumbawa-bpmigas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/12/satonda-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">satonda-2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/12/satonda-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">satonda-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/12/satonda-lake.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">satonda-lake</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/21/urun-rembug-pasir-besi-kulonprogo/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/21/urun-rembug-pasir-besi-kulonprogo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 04:42:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupi]]></category>
		<category><![CDATA[kulonprogo]]></category>
		<category><![CDATA[pasir besi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini aku crosspost tulisan Pak Dosenku di Geologi UGM sehubungan dengan penambangan pasir besi di Kulon Progo. Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo OLeh : Sukandarrumidi PERLU penyadaran bersama, zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Kekayaan pasir besi di Kulonprogo yang terhampar di lahan seluas 3.000 hektar bukanlah barang yang harus ditelantarkan. Bila tanah seluas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=84&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini aku crosspost tulisan Pak Dosenku di Geologi UGM sehubungan dengan penambangan pasir besi di Kulon Progo.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>Urun Rembug Pasir Besi Kulonprogo</strong><br />
<em>OLeh : Sukandarrumidi</em></p>
<p>PERLU penyadaran bersama, zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang. Kekayaan pasir besi di Kulonprogo yang terhampar di lahan seluas 3.000 hektar bukanlah barang yang harus ditelantarkan. Bila tanah seluas  itu dikelola dengan baik, masyarakat menyadarkan pengusaha dan pemerintah membudidayakan masyarakat, bukan tidak mungkin keinginan untuk menambang pasir besi masih ada peluang. Tergantung bagaimana kita.<span id="more-84"></span><br />
Mengolah potensi pasir besi di hamparan lahan seluas 3.000 hektar di pantai Kulonprogo yang dibatasi Sungai Progo di bagian timur dan Sungai Serang di bagian barat, tidak harus berpanas-panasan. Panasnya terik matahari pada saat menambang dan panasnya api pada saat mengubah pasir besi menjadi pelet besi mampu menciptakan pasir besi menjadi barang yang bermanfaat. Namun demikian, hendaknya panasnya hati yang saat ini menyulut arogansi sekelompok masyarakat dengan cara membakar beberapa poskamling yang dibangun masyarakat, sebenarnya tidak perlu terjadi.</p>
<p>Sudah merupakan kebijakan pemerintah bahwa untuk menambang pasir besi dilakukan kajian terlebih dahulu dengan menyusun dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), suatu pekerjaan yang disyaratkan kepada pengusaha untuk dilakukan terlebih dahulu sebelum bongkar-membongkar lahan pasir besi dilakukan. Sosialisasi kegiatan kepada masyarakat perlu dilakukan, dengan penuh kesabaran dan cara pendekatan orang Ngayogyakarta. Keinginan masyarakat petani pantai yang sudah telanjur merasakan manisnya melon dan pedasnya cabe yang berguna untuk membugarkan kesehatan, bukan tidak mungkin untuk sementara dihentikan pada saat lahan yang bukan miliknya ditambang.</p>
<p>Dalam proses pengerukan pasir di pantai, sebenarnya hanya 30 persen yang dapat diambil pasir besinya, sisanya dikembalikan ke tempat semula. Untuk mengembalikan, agar lahan bekas penambangan pasir besi dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian kembali, wajib dilakukan reklamasi dan untuk ini model wong Yogya ada cara tersendiri. Bagaimana caranya?<br />
Sampah kota Yogyakarta yang merupakan dedaunan dan jumlahnya tidak kurang dari 40.000 meter kubik setiap harinya, dapat dimanfaatkan untuk dibuat kompos, semacam pupuk organik penyubur tanah. Sampah organik, tersedia dan tidak akan habis. Alat pembuat kompos dapat direkayasa dan disediakan oleh pengusaha penambang pasir besi.</p>
<p>Pembuatan kompos diserahkan kepada masyarakat. Hasil kompos dimanfaatkan oleh masyarakat petani pantai untuk menyuburkan tanah yang sudah direklamasi. Bukan tidak mungin, harga pupuk urea yang makin tidak terjangkau  oleh kantong petani, kompos akan dapat menggantikan pupuk urea.</p>
<p>Uji coba penambangan pasir besi yang telah dilakukan ditengarahi oleh masyarakat menghasilkan debu yang mengganggu ladang masyarakat sekitar, bukanlah merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan. Pemisahan pasir besi dengan sistem kering di tempat &#8220;kubah tertutup&#8221; merupakan solusi yang ditawarkan. Tahap penambangan dengan sistem blok merupakan solusi yang dapat dilakukan. Hal inilah yang seharusnya ditempuh oleh para pelaksana lapangan, dalam usaha untuk merangkul masyarakat. Bukan dengan cara membakar poskamling yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang ingin membuat situasi semakin keruh. Masyarakat terpancing untuk menuduh pengusaha berada di belakang tindakan yang arogan, itu adalah suatu hal yang wajar, meskipun ulah tersebut mungkin dilakukan oleh sekelompok masyarakat penganggur yang senang membuat onar.</p>
<p>Satu kata kunci, marilah masyarakat kita buat sejahtera, pihak aparat keamanan dan pemerintah wajib sadar, masyarakat hanya ingin dapat makan dan menyekolahkan anak-anak mereka demi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Bukan tidak mungkin, keinginan menambang pasir besi masih dapat dilaksanakan. Jangan, pasir besi diolah untuk (memanasi) masyarakat. Siapa bilang, tidak ada harapan? Masyarakat petani pantai adalah masyarakat lugu, pergunakan pendekatan kepada masyarakat dengan gaya Ngayogyakarta. q &#8211; s. (4568-2008).</p>
<p>*) Prof Dr Ir Sukandarrumidi MSc, Dosen Fakultas Teknik, UGM. (note :Jurusan Teknik Geologi)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/84/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/84/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=84&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/21/urun-rembug-pasir-besi-kulonprogo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Out of Sundaland” (Oppenheimer, 1998) : Perdebatan Terbaru (2008)</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/18/%e2%80%9cout-of-sundaland%e2%80%9d-oppenheimer-1998-perdebatan-terbaru-2008/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/18/%e2%80%9cout-of-sundaland%e2%80%9d-oppenheimer-1998-perdebatan-terbaru-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 15:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[By: Awang HS Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah membaca nama Stephen Oppenheimer. Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=82&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">By: Awang HS</p>
<p>Rekan-rekan yang suka membaca atau mempelajari buku-buku tentang migrasi manusia modern berdasarkan analisis genetika molekuler (DNA), pasti pernah membaca nama Stephen Oppenheimer. Oppenheimer adalah salah satu tokoh utama bidang ini, yang produktif menuliskan hasil-hasil risetnya. Saat ini, Oppenheimer yang semula seorang dokter anak dan pernah bertugas di Afrika, Malaysia, dan Papua New Guinea; adalah research associate di Institute of Human Sciences, Oxford University.</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p>Salah satu bukunya yang terkenal &#8220;Out of Eden : the Peopling of the World&#8221; (2004), cetakan terbarunya baru saya beli dua minggu lalu. Ini adalah sebuah buku yang komprehensif tentang sejarah penghunian semua daratan di Bumi oleh manusia modern berdasarkan analisis DNA pada semua bangsa. Oppenheimer memang pernah terlibat dalam suatu proyek raksasa untuk pemetaan genome manusia seluruh dunia. Dari situ ia mendapatkan data untuk menyusun bukunya. Melalui buku ini, kita bisa menebak dengan mudah bahwa Oppenheimer adalah seorang pembela pemikiran migrasi manusia : Out of Africa, dan menyerang Multiregional. Saya tak akan menceritakan buku tersebut, saya akan bercerita tentang bukunya yang lain, yang menyulut perdebatanl.</p>
<p>Tahun 1998, Oppenheimer menerbitkan buku yang menggoncang kalangan ilmuwan arkeologi dan paleoantropologi,&#8221;Eden in the East : The Drowned Continent of Southeast Asia&#8221;. Buku ini penting bagi kita sebab Oppenheimer mendasarkan tesisnya yang kontroversial itu atas geologi Sundaland. Secara singkat, buku ini mengajukan tesis bahwa Sundaland adalah Taman Firdaus (Taman Eden), suatu kawasan berbudaya tinggi, tetapi kemudian tenggelam, lalu para penghuninya mengungsi  ke mana-mana : Eurasia, Madagaskar, dan Oseania dan menurunkan ras-ras yang baru. Dari buku Oppenheimer inilah pernah muncul sinyalemen bahwa Sundaland adalah the Lost Atlantis &#8211; benua berkebudayaan maju yang tenggelam.</p>
<p>Tesis Oppenheimer (1998) jelas menjungkirbalikkan konsep selama ini bahwa orang-orang Indonesia penghuni Sundaland berasal dari daratan utama Asia, bukan sebaliknya. Apakah Oppenheimer benar ? Penelitian dan perdebatan atas tesis Oppenheimer telah berjalan 10 tahun. Saya ingin menceritakan beberapa perdebatan terbaru. Sebelumnya, saya ingin sedikit meringkas tesis Oppenheimer (1998) itu.</p>
<p>Dalam &#8220;Eden in the East: the Drowned Continent of Southeast Asia&#8221;, Oppenheimer berhipotesis bahwa bangsa-bangsa Eurasia punya nenek moyang dari Sundaland. Hipotesis ini ia bangun berdasarkan penelitian atas geologi, arkeologi, genetika, linguistk, dan folklore atau mitologi. Berdasarkan geologi, Oppenheimer mencatat bahwa telah terjadi kenaikan muka laut dengan menyurutnya Zaman Es terakhir. Laut naik setinggi 500 kaki pada periode  14.000-7.000 tahun yang lalu dan telah menenggelamkan Sundaland. Arkeologi membuktikan bahwa Sundaland mempunyai kebudayaan yang tinggi sebelum banjir terjadi. Kenaikan muka laut ini telah menyebabkan manusia penghuni Sundaland menyebar ke mana-mana mencari daerah yang tinggi. Terjadilah gelombang besar migrasi ke arah Eurasia.</p>
<p>Oppenheimer melacak jalur migrasi ini berdasarkan genetika, linguistik, dan folklore. Sampai sekarang orang-orang Eurasia punya mitos tentang Banjir Besar itu, menurut Oppenheimer itu diturunkan dari nenek moyangnya. Hipotesis Oppenheimer (1998) yang saya sebut &#8220;Out of Sundaland&#8221; punya implikasi yang luas. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa Taman Firdaus (Eden) itu bukan di Timur Tengah, tetapi justru di Sundaland. Adam dan Hawa bukanlah ras Mesopotamia, tetapi ras Sunda (!). Nah&#8230;implikasinya luas bukan ? Hipotesis Oppenheimer (1998) segera menyulut perdebatan baik di kalangan ahli genetika, linguistik, maupun mitologi. Saya akan meringkas beberapa perdebatan pro dan kontra yang terbaru (2007-2008). Di buku-bukunyanya yang terbaru (Out of  Eden, 2004; dan Origins of the British, 2007), Oppenheimer tak menyebut sekali pun tesis Sundaland-nya itu.</p>
<p>Sanggahan terbaru datang dari bidang mitologi dalam sebuah Konferensi Internasional Association for Comparative Mythology yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007. Dalam pertemuan itu, Wim van Binsbergen, seorang ahli mitologi dari Belanda, mengajukan sebuah makalah berjudul &#8220;A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer&#8217;s Thesis of the South East Asian Origin of  West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11&#8243;. Makalah ini mengajukan keberatan-keberatan atas tesis Oppenheimer bahwa orang-orang Sundaland sebagai nenek moyang orang-orang Asia Barat. Binsbergen (2007) menganalisis argumennya berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.</p>
<p>Menurut Binsbergen (2007), Oppenheimer terutama mendasarkan skenario Sundaland-nya berdasarkan mitologi. Pusat mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kain dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel) dihipotesiskan Oppenheimer sebagai prototip mitologi Asia Tenggara/Oseania, khususnya Sundaland.  Meskipun Oppenheimer telah menerima tanggapan positif dari para ahli arkeologi yang punya spesialisasi Asia Tenggara, Oppenheimer tak punya bukti kuat atau penelitian detail untuk arkeologi trans-kontinental dari Sundaland ke Eurasia.</p>
<p>Binsbergen (2007) menantang hipotesis Oppenheimer atas argumen detailnya menggunakan comparative mythology. Beberapa keberatan atas hipotesis tersebut : (1) keberatan metodologi (bagaimana mitos di Sundaland/Oseania yang umurnya hanya abad ke-19 AD dapat menjadi nenek moyang mitos di Asia Barat yang umurnya 3000 tahun BC ?), (2) kesulitan teoretis akan terjadi membandingkan dengan yakin mitos yang umurnya terpisah ribuan tahun dan jaraknya lintas-benua, juga yang sebenarnya isi detailnya berbeda; (3) pandangan monosentrik (misal dari Sundaland) saja sudah tak sesuai dengan sejarah kebudayaan manusia yang secara anatomi modern (lebih muda daripada Paleolitikum bagian atas); (4) Oppenheimer   tak memasukkan unsur katastrofi alam yang bisa mengubah jalur migrasi manusia.; (5) mitos bahwa Banjir Besar menutupi seluruh dunia harus ditafsirkan atas pandangan dunia saat itu, bukan pandangan dunia seperti sekarang.</p>
<p>Dalam pertemuan  comparative mythology sebelumnya (Kyoto, 2005, Beijing 2006), Binsbergen mengajukan pandangan yang lebih luas dan koheren tentang sejarah panjang Old World mythology yang mengalami transmisi yang komplek dan multisentrik, tak rigid monosentrik seperti hipotesis Oppenheimer (1998). Winsbergen juga mendukung tesisnya itu berdasarkan genetika molekuler menggunakan mitochondrial DNA type B.</p>
<p>Itulah sanggahan terbaru atas tesis Oppenheimer (1998).</p>
<p>Dukungan terbaru untuk hipotesis Oppenheimer (1998), baru-baru ini datang dari sekelompok peneliti arkeogenetika yang sebagian merupakan rekan sejawat Oppenheimer. Kelompok peneliti dari University of Oxford dan University of Leeds ini mengumumkan hasil peneltiannya dalam jurnal &#8220;Molecular Biology and Evolution&#8221; edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul &#8220;Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia&#8221; (Soares et al., 2008) dan  &#8220;New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia&#8221; (Richards et al., 2008).</p>
<p>Richards et al. (2008) berdasarkan penelitian DNA menantang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara saat ini (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 (Neolithikum) tahun yang lalu. Tim peneliti menunjukkan justru yang terjadi adalah sebaliknya dan lebih awal, bahwa penduduk Taiwan berasal dari penduduk Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland.</p>
<p>Pemecahan garis-garis mitochondrial DNA (yang diwarisi para perempuan) telah berevolusi cukup lama di Asia Tenggara sejak manusia modern pertama kali datang ke wilayah ini sekitar 50.000 tahun yang lalu. Ciri garis-garis DNA menunjukkan penyebaran populasi pada saat yang bersamaan dengan naiknya mukalaut di wilayah ini dan juga menunjukkan migrasi ke Taiwan, ke timur ke New Guinea dan Pasifik, dan ke barat ke daratan utama Asia Tenggara &#8211; dalam 10.000 tahun.</p>
<p>Sementara itu Soares et al. (2008) menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam keanekaragaman mtDNA (DNA mitokondria), berevolusi in situ selama 35.000 tahun terakhir, dan secara dramatik tiba-tiba menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara pada periode sekitar awal Holosen, pada saat yang bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi laut-laut Jawa, Malaka, dan sekitarnya. Lalu komponen ini mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru, sekitar 8000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warming dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000-7.000 tahun yang lalu, sebagai penggerak utama human diversity di wilayah ini.</p>
<p>Oppenheimer dalam bukunya &#8220;Eden in the East&#8221; (1998) itu berhipotesis bahwa ada tiga periode banjir besar setelah Zaman Es yang memaksa para penghuni Sundaland mengungsi menggunakan kapal atau berjalan ke wilayah-wilayah yang tidak banjir. Dengan menguji mitochondrial DNA dari orang-orang Asia Tenggara dan Pasifik, kita sekarang punya bukti kuat yang mendukung Teori Banjir. Itu juga mungkin sebabnya mengapa Asia Tenggara punya mitos yang paling kaya tentang Banjir Besar dibandingkan bangsa-bangsa lain.<br />
Nah, begitulah, cukup seru mengikuti perdebatan yang meramu geologi, genetika, biologi molekuler, linguistik, dan mitologi ini. Pihak mana yang mau didukung atau disanggah ? Sebaiknya, masuklah lebih detail ke masalahnya agar argumen kita kuat, begitulah menilai perdebatan.</p>
<p>Salam,<br />
awang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=82&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/18/%e2%80%9cout-of-sundaland%e2%80%9d-oppenheimer-1998-perdebatan-terbaru-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Capetown : Perbenturan dan Perpisahan Antarbenua</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/15/capetown-perbenturan-dan-perpisahan-antarbenua/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/15/capetown-perbenturan-dan-perpisahan-antarbenua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 05:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupi]]></category>
		<category><![CDATA[capetown]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Walaupun bukan melulu khusus tentang geologi. Pak Awang cerita tentang perjalanannya ke CapeTown Afrika. Ini cerita tersisa dari Capetown, sebuah kota nan indah yang terbuai di tiga bukit dan pegunungan Paleozoikum : Devil&#8217;s Peak, Table Mountain, dan Lion&#8217;s Head. Kota ini pun menjadi saksi di mana Samudra Atlantik bertemu dengan Samudra Hindia. Mungkinkah menyelam sekaligus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=73&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/capetown.jpg"><img class="size-medium wp-image-80 alignleft" title="capetown" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/capetown.jpg?w=300&#038;h=225" alt="capetown" width="300" height="225" /></a>Walaupun bukan melulu khusus tentang geologi. Pak Awang cerita tentang perjalanannya ke CapeTown Afrika.</p>
<p>Ini cerita tersisa dari Capetown, sebuah kota nan indah yang terbuai di tiga bukit dan pegunungan Paleozoikum : Devil&#8217;s Peak, Table Mountain, dan Lion&#8217;s Head. Kota ini pun menjadi saksi di mana Samudra Atlantik bertemu dengan Samudra Hindia. Mungkinkah menyelam sekaligus di dua samudra ? Mungkin saja, salah satunya di perairan sekitar Tanjung Harapan di sebelah selatan Capetown. Bagaimana uniknya ikan-ikan dari dua samudra bertemu di satu tempat ditunjukkan oleh aquarium besar di Waterfront sea world, suatu kawasan wisata yang paling banyak dikunjungi turis di Capetown. Dulu (1488) Bartolomeus Dias dan para pelautnya dari Portugal menamai tanjung di ujung selatan Afrika dekat pertemuan kedua samudra itu sebagai Tanjung Badai akibat kondisi cuaca dan laut yang ganas,  tetapi  raja Portugal  menggantinya sebagai Tanjung Harapan (Baik) -Cape of Good Hope sebab justru penemuan Dias berguna untuk membuka jalan ke wilayah tropika.<span id="more-73"></span></p>
<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/table.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-79" title="table" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/table.jpg?w=300&#038;h=225" alt="table" width="300" height="225" /></a>Terbang dari Jakarta via Singapura lalu melanjutkan ke Johannesburg, Afrika Selatan tidak terlalu melelahkan. Total di udara sekitar 13 jam, lebih melelahkan apabila menyeberangi Samudra Pasifik dari Singapura ke Los Angeles. Baru kali ini saya hendak ke Afrika. &#8220;Ke Afrika ? Jauh sekali.&#8221;, seru orang yang bertanya kepada saya dua minggu lalu. Sebenarnya, pergi ke Afrika dari Jakarta justru lebih dekat dibandingkan dengan kalau kita pergi ke Amerika. Terbang dari Singapura ke Johannesburg, pesawat diatur agar terbang dengan azimuth yang lurus terus ke arah baratdaya, melintasi Samudra Hindia di antara Sumatra dan Afrika. Saya tiba-tiba ingat bahwa pada Desember 2004, gelombang tsunami dari utara Simeulue pernah melintasi jarak yang sama dari Sumatra ke Afrika dalam beberapa jam saja.</p>
<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/table1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-78" title="table1" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/table1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="table1" width="300" height="225" /></a>Karena terbang malam dan tinggi, tentu tak terlihat apa-apa di bawah sana. Menjelang subuh di Afrika, yang lebih terlambat lima jam daripada waktu di Jakarta, saya dapat melihat Madagaskar, pulau besar di sebelah timur Afrika Selatan. Konon zaman dahulu para pelaut Indonesia kerap mendatangi pulau ini untuk berdagang, bahkan sampai masuk ke daratan Afrika bagian barat. Pesawat mendarat di Johannesburg pada pagi hari. Akhirnya, saya menginjak benua Afrika, sebuah benua dengan keunikan tersendiri.</p>
<p>Saya beruntung memilih kursi di sebelah jendela saat melanjutkan  terbang dari Johannesburg ke Capetown, kebetulan juga pesawat tidak terbang terlalu tinggi. Tak hentinya saya terkagum-kagum melihat pemandangan di bawah : pegunungan lipatan dan tinggian-tinggian pegunungan masif di bagian selatan Afrika Selatan yang diapit Samudra Hindia di sebelah selatan dan Karoo Plato/Basin di sebelah utaranya.  Jalur pegunungan lipatan ini dalam peta-peta tektonik regional disebut Cape Fold Belt.</p>
<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/twelve.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-77" title="twelve" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/twelve.jpg?w=300&#038;h=225" alt="twelve" width="300" height="225" /></a>Memasuki Capetown, pesawat menukik dan bermanuver memutar di perbatasan antara Samudra Atlantik dan Hindia, maka tersuguhlah pemandangan yang sangat spektakular. Kompleks Cape Fold Belt mencapai ujung baratnya di sini, di Capetown, dan terpecah terdigitasi seperti jari-jari dari sebuah lengan menjadi tiga puncak gunung terkenal di atas Capetown : Devil&#8217;s Peak, Table Mountain, dan Lion&#8217;s Head. Ketiga puncak gunung ini pula yang dijadikan AAPG sebagai logo pertemuan internasionalnya tahun ini. Dari udara, kota Capetown seperti bersimpuh dan terbuai di kaki ketiga puncak gunung Prakambrium-Paleozoikum ini.</p>
<p>Saya akan menceritakan tentang Pegunungan Cape Fold Belt ini, jalur pegunungan paling selatan di benua Afrika. Pegunungan Cape Fold Belt, yang ujung baratnya terpecah dan masuk ke dalam kota Capetown sebagai puncak-puncak Devil&#8217;s Peak, Table Mountain, dan Lion&#8217; Head merupakan pegunungan hasil benturan antarbenua. Secara genetik, pegunungan ini seperti Pegunungan Himalaya yang merupakan pegunungan benturan antara benua India dan sebagian Eurasia. Bila Pegunungan Himalaya terbentuk pada 55 juta tahun yang lalu, maka Pegunungan Cape Fold Belt terbentuk pada sekitar 250 juta tahun yang lalu. Pegunungan lipatan Cape Fold Belt tersusun oleh kelompok batuan bernama Cape Supergroup, suatu superkelompok batuan sedimen (konglomerat, tilit-endapan gletsyer, batupasir, batulanau, dan batulempung) yang berumur 510-340 juta tahun (Kambrium-Karbon bawah). Tiga pegunungan/gunung di Capetown sendiri disusun oleh batupasir Table Mountain Group berumur 510-390 juta tahun (Kambrium-Devon). Pegunungan ini duduk di atas batuan granit (Cape Granite Suite) berumur 540 juta tahun dan sekis dan filit (Malmesbury) berumur 540-560 juta tahun. Bila batas bawah Kambrium adalah 542 juta tahun yang lalu (Gradstein et al., 2004), maka umur sekis ini adalah PraKambrium atau lebih tepatnya NeoProterozoikum (zaman Ediacara). Beruntung saya mendapatkan sampel batuan filit Malmesbury PraKambrium ini saat jalan-jalan di kaki Table Mountain, itulah koleksi batuan saya yang paling tua dalam bentuk genggaman -hand specimen (koleksi batuan poles yang tertua adalah yang saya beli di pelataran Opera House di Sydney yang berasal dari Pilbara Craton dengan umur sekitar 2500 juta tahun).</p>
<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/capetown1.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-76" title="capetown1" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/capetown1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="capetown1" width="300" height="225" /></a>Bagaimana Cape Supergroup yang menyusun Afrika Selatan tertekan sehingga membentuk Pegunungan Cape Fold Belt ? Ini melibatkan tektonik skala benua. Cape Supergroup adalah sekelompok sedimen yang dibentuk di tepi pasif sebelah barat Lempeng Afrika. Lempeng ini pada Masa Paleozoikum dikelilingi oleh Amerika Selatan dan Antarktika. Lempeng Amerika Selatan sedang bergerak ke timur dan Lempeng Antarktika sedang bergerak ke utara -keduanya menuju Afrika yang relatif tidak bergerak. Maka, ketiga lempeng ini sebenarnya saling bergerak mendekat. Gerakan lempeng-lempeng benua ini adalah dalam rangka membentuk superbenua Pangaea. Lalu antara 280 &#8211; 235 juta tahun (Perem-Trias) terjadilah benturan antara ketiga benua itu menutup cekungan samudra purba Adamastor. Sedimen Cape Supergroup yang terletak di bagian depan Afrika tertekan dan membentuk pegunungan lipatan Cape Fold Belt.</p>
<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/south.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-75" title="south" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/south.jpg?w=468&#038;h=351" alt="south" width="468" height="351" /></a>Table Mountain di Capetown terlihat berlapis mendatar. Bagaimana bisa sebuah pegunungan lipatan benturan antarbenua mempertahankan sifat asal sedimentasinya yaitu berposisi mendatar pada lapisan-lapisannya. Rekonstruksi oleh Compton (2006 : The Rocks and Mountains of Capetown, Double Storey Books, Capetown) menunjukkan bahwa Table Mountain adalah dasar sebuah sinklin yang tersisa sehingga lapisan-lapisannya mendatar.</p>
<p>Bersatunya Amerika Selatan dan Afrika pada ujung Perem tersebut menyusun sebagian Gondwanaland. Sebuah superbenua akan menghalangi sirkulasi mantle plume dari bawah. Peristiwa selanjutnya adalah mantle plume memisahkan apa yang sudah bersatu. Maka pada 180-130 juta tahun yang lalu (Yura &#8211; Kapur Awal bagian atas) Amerika Selatan mulai memisah kembali dari Afrika. Peristiwa perpisahan ini di Capetown ditandai oleh dolerite dykes yang memotong sekis/filit Malmesbury, Cape Granite Suite, dan Table Mountain Group. Dolerite dykes ini seumur dengan flood basalt besar di Namibia, utara Afrika dan di Parana (Amerika Selatan). Dolerite dykes dan flood lava basalt ini merupakan produk rising hot mantle plumes yang mengawali pembukaan South Atlantic Ocean Basin.</p>
<p><a href="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/cape.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-74" title="cape" src="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/cape.jpg?w=300&#038;h=225" alt="cape" width="300" height="225" /></a>Maka, tepi barat Afrika di mana Capetown berlokasi kembali menjadi tepi pasif lempeng benua. Kelompok sedimen yang lebih muda dari Yura (Kapur-Resen) diendapkan di tepi pasif ini yang posisinya sekarang di Samudra Atlantik sebelah barat Capetown. Cape Fold Belt menjadi sumber sedimen baik ke arah barat menuju Samudra Atlantik, ke selatan menuju Samudra Hindia, dan ke utara menuju Karoo Basin. Cape Fold Belt dan Capetown sejak 250 juta tahun yang lalu adalah sebuah pegunungan benturan, sedimentasi terakhir terjadi 280 juta tahun yang lalu saat endapan glasial memenuhi Gondwana.</p>
<p>Maka boleh disebutkan bahwa Capetown telah kehilangan catatan sedimentasinya sejak 280 juta tahun yang lalu. Sejarah geologi Capetown adalah sejarah tentang pertemuan benua-benua membentuk superbenua dan mengangkat Cape Fold Belt (250 juta tahun yang lalu), dan cerita tentang perpisahan kembali Afrika dan Amerika Selatan pada 180-130 juta tahun yang lalu yang membentuk South Atlantic Ocean. Efek benturan dan perpisahan antarbenua langka terjadi di satu tempat, tetapi di Capetown, Afrika Selatan kedua hal itu terjadi.</p>
<p>Berikut beberapa foto yang berhubungan, semoga dapat dibuka. Mohon maaf untuk yang tak dapat membuka lampiran karena tak semua milis dapat menerima lampiran.</p>
<p>Salam,</p>
<p>awang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=73&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/15/capetown-perbenturan-dan-perpisahan-antarbenua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/capetown.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">capetown</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/table.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">table</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/table1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">table1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/twelve.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">twelve</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/capetown1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">capetown1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/south.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">south</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoblogi.files.wordpress.com/2008/11/cape.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cape</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menikmati (dari udara) keindahan gunung-gunung di Jawa</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/09/menikmati-dari-udara-keindahan-gunung-gunung-di-jawa/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/09/menikmati-dari-udara-keindahan-gunung-gunung-di-jawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Nov 2008 14:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Cerita: Sugeng Hartono Setiap terbang ke Surabaya atau Indonesia Timur saya selalu minta kursi paling kanan (sisi selatan), dekat jendela. Tujuannya supaya dapat melihat gunung-gunung di sepanjang penerbangan. Kalau cuaca sedang cerah dan pemandangan sangat bagus, saya tidak segan-2 menunjukkan nama gunung-2 kepada penumpang di sebelah. Biasanya mereka juga tertarik. Bulan Juni yll ketika terbang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=69&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;">Cerita: Sugeng Hartono</p>
<p>Setiap terbang ke Surabaya atau Indonesia Timur saya selalu minta kursi paling kanan (sisi selatan), dekat jendela. Tujuannya supaya dapat melihat gunung-gunung di sepanjang penerbangan. Kalau cuaca sedang cerah dan pemandangan sangat bagus, saya tidak segan-2 menunjukkan nama gunung-2 kepada penumpang di sebelah.</p>
<p>Biasanya mereka juga tertarik.<span id="more-69"></span></p>
<p>Bulan Juni yll ketika terbang ke Bali bersama ibunya Aditya, saya pun &#8220;memamerkan&#8221; keindahan sekaligus menyebut nama-2 gunung tersebut. Waktu itu cuaca bagus, dan pemandangan di bawah sana sungguh mentakjubkan. Begitu terbang bbrp menit, nampak dua gunung biru di selatan sana&#8230;ini pasti Gede dan Pengrango; sementara kumpulan gunung-2 di sebelah timurnya pasti Tangkubanprahu.</p>
<p>Kurang dari 10 menit kemudian nampak di sisi kanan sebuah gunung dengan kawah yang hampir bundar, dengan asap putih mengepul. Inilah G.Ciremai di selatan Cirebon.</p>
<p>Pesawat mulai masuk Jateng, dan di nun jauh selatan nampak gunung besar, agak tambun, tertutup awan tipis. Inilah G.Slamet yang terletak di utara Purwokerto. Semakin ke timur mulai nampak pegunungan Dieng, lalu dua gunung Sindoro dan Sumbing. Sampai sekarang saya tidak tahu, kenapa puncak Sindoro berwarna hitam. Mungkin terdiri dari batuan bersifat basa (?).</p>
<p>Tidak lama kemudian di ujung tenggara nampak dua gunung kembar. Saya sudah sangat hafal. Yang besar adalah Merbabu, di baliknya yang lebih langsing dengan asap putih mengepul adalah Merapi. Inilah gunung yang mempunyai banyak cerita. Kata orang-2 tua di kampung saya (dulu) katanya di puncak Merapi ini berkumpul para hantu dan jin karena terdesak oleh manusia. Tahun 1980 akhirnya saya berhasil mendaki sampai di bibir kawah dengan diantar Slamet, anak SMP desa Selo. Jam 02:00 mulai mendaki, jam 06:00 sampai di lembah yang disebut Pasar Bubar. Kami istirahat, sarapan roti tawar dan abon, dengan air putih. Rasanya lezat. Jauh di ujung timur Matahari mulai mncul dari balik gunung Lawu. Untuk mencapai kawah utama kami mesti &#8220;menerobos&#8221; asap belerang, mungkin dari kawah lama. Slamet meminta saya untuk menutup hidung dengan sapu tangan. Untuk dapat melongok dasar kawah yang selalu mengeluarkan suara gemuruh, kami harus tiarap. Kami tidak berani terlalu lama di sini karena sudah dipesan agar turun sebelum tengah hari sebelum gas keluar. Setiap melintas jalan Yogya-Solo atau di kampung, saya selalu menengok Merapi yang berdiri tengak dengan anggun: Saya sudah sampai di puncakmu. Trimakasih, Slamet.</p>
<p>Ngarai luas segera nampak terbentang di sebelah timur gunung kembar ini. Dataran Solo-Yogya nampak luas dan indah. Tidak aneh kalau di sini dipilih untuk mendirikan kerajaan Mataram. Di sebelah timur berdiri sebuah gunung, sendirian: Gunung Lawu. Tawangmangu dan Telaga Sarangan adalah tempat-2 indah yang pertama kali saya kunjung menjelang remaja.</p>
<p>Ketika pesawat mulai masuk kawasan Jatim, nampak gunung sendirian, mungkin gunung Wilis. Setelah itu, menjelang kota Surabaya, di bagian selatan nampak kumpulan gunung, mestinya G.Welirang, Anjasmoro dan Arjuno. Selanjutnya gunung yang saya nanti-2 nampak juga. Gunung dengan kaldera yang sangat luar, di tengahnya ada gunung kecil yang terus mengepul mengeluarkan asap: Gunung Bromo. Kaldera yang luas itu saya pandangi dengan takjub karena saya pernah melintasinya, sendirian. Dari sisi utara ke selatan sampai Ranu &#8230; dan desa Ngadas-Gubuk Klakah, perlu waktu 4 jam. Tadinya mau bareng dengan anak muda dari Kanada, rupanya dia sudah berjalan duluan. Di tengah kaldera yang indah dan sepi-damai, saya bertemu tiga ibu yang baru pulang dari pasar, dan dua bapak pencari rumput. Padang pasir yang luas dengan grumbul-2 dan perdu pendek berbunga kuning sungguh pemandangan yang indah. Untuk memecah kesepian, saya berteriak-teriak sendiri. Belakangan saya suka berpikir: Pasti Pak Andang, ketika remaja suka berpetualang ke tempat ini bersama teman-temannya&#8230;.Suatu hari nanti saya akan ajak Aditya untuk &#8220;napak tilas&#8221; menyeberangi Kaldera Bromo <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Ketika pesawat bergerak ke timur, masih nampak beberapa gunung. Mungkin gunung-2 Argupuro, Raung dan Merapi yang terletak di utara Banyuwangi karena di ujung timur sudah nampak pulau Bali.<br />
Untung ketika masih SR (Sekolah Rakyat) saya gemar pelajaran Ilmu Bumi, dan mempunyai kesempatan untuk menikmati gunung-2 di P.Jawa yang indah.</p>
<p>Salam hangat,<br />
sugeng</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=69&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/11/09/menikmati-dari-udara-keindahan-gunung-gunung-di-jawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mencari Kebenaran Ilmiah</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/10/31/mencari-kebenaran-ilmiah/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/10/31/mencari-kebenaran-ilmiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 00:40:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geofisika]]></category>
		<category><![CDATA[Rupa-rupi]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran ilmiah]]></category>
		<category><![CDATA[lumpur]]></category>
		<category><![CDATA[lusi]]></category>
		<category><![CDATA[sidoarjo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Pak Koesoema dibawah inimenggugah kita untuk terus mencari kebenaran. Perlu diingat bahwa kebenaran science pasti akan sementara. Hampir semua scientist akan mencoba mengungkap kebenaran versi dirinya. Perjalanan yang saya beri judul &#8220;Mencari Kebenaran Ilmiah&#8221; ini dicatat Pak Koesoemadinata dibawah ini dalam pengungkapan fakta terlahirnya Lusi (Lumpur Sidorajo. Mencari Kebenaran ilmiah oleh Prof Dr RP. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=64&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan Pak Koesoema dibawah inimenggugah kita untuk terus mencari kebenaran. Perlu diingat bahwa kebenaran science pasti akan sementara. Hampir semua scientist akan mencoba mengungkap kebenaran versi dirinya. Perjalanan yang saya beri judul &#8220;Mencari Kebenaran Ilmiah&#8221; ini dicatat Pak Koesoemadinata dibawah ini dalam pengungkapan fakta terlahirnya Lusi (Lumpur Sidorajo.</p>
<h2 style="text-align:right;">Mencari Kebenaran ilmiah</h2>
<p style="text-align:right;">oleh Prof Dr RP. Koesoemadinata</p>
<p>Saya kagum atas keteguhan dari Sdr. Awang ini dalam mempertahankan pendapat ilmiahnya. Ini mengingatkan saya pada A.A. Meyerhoff, salah seorang editor AAPG tahun 70-han yang sangat terkenal sebagai geoscientist kaliber dunia, yang sampai akhir hayatnya (di tahun 90-an?) tidak dapat menerima teori Plate-tectonics, walaupun lebih dari 90 % (bahkan mungkin lebih dari 99%) geoscientist di seluruh dunia telah menerima plate-tectonics sebagai suatu fakta ilmiah atau kenyataan. Beliau bahkan sempat mempublikasikan suatu teori tandingan berjudul &#8220;Surge Tectonics&#8221; (yang dapat menerangkan gejala-gejala tektonik dunia yang kelihatannya hanya dapat dijelaskan dengan plate-tectonics) yang setelah ditolak oleh editor2 di majalah-majalah ilmiah terkemuka di dunia akhirnya diterbitkan pula oleh Journal of SE Asia Geosciences.<span id="more-64"></span></p>
<p>Apakah sebenarnya yang dinamakan kebenaran ilmiah? Walaupun science berusaha untuk mencapai kebenaran hakiki, namun pada hakekatnya kebenaran ilmiah adalah sesaat tergantung pada data-data hasil pengamatan yang ada pada waktu itu. Ini sudah masuk pada realm Philosophy of Science. Sebagaimana dikatakan Karl Popper, seorang science philosopher/historian, semua teori ilmiah akan tumbang pada sesuatu waktu dan akan digantikan oleh teori baru, karena science yang sehat harus selalu berusaha apa yang dia namakan sebagai &#8216;falsification&#8217; Pelaku science harus terus menerus selalu berusaha menjatuhkan/menyalahkan (falsification) teori yang berlaku.  Thomas S. Kuhn, (1962) seorang ahli fisika dan history of science terkenal dengan  dengan bukunya &#8220;The Structure of Scientific Revolutions&#8221; dan pencetus istilah &#8220;paradigm&#8221; juga mengemukakan hal yang serupa, bahkan pada perioda apa yang dinamakannya sebagai &#8216;normal science&#8217; terdapat selain teori tetapi juga suatu paradigm suatu set cara-cara dan metoda2 yang diterima oleh masyarakat ilmiah sebagai kebenaran.</p>
<p>Dengan demikian dalam science apa yang dianggap benar itu adalah teori ataupun &#8216;fakta&#8217; yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah, bukan absolute truth. Jadi suatu teori atau gejala yang terus menerus muncul dan digunakan serta dikutip dalam publikasi ilmiah itulah yang dianggap benar karena telah diterima oleh masyarakat. Banyak teori yang menarik seperti kepunahan masal yang disebabkan benturan meteor atau juga disebut &#8216;neo-catastrophism&#8217; kelihatannya belum terlihat dalam majalah-majalah ilmiah seperti AAPG, GSA, Geological Society, dan kelihatannya belum diterima oleh masyarakat ilmiah  walaupun sudah banyak ditayangkan di National Geographic dan Discovery Channel. Juga Sequence Stratigraphy yang di industri migas ini sudah seolah-olah merupakan fakta yang diterima secara umum di tahun 80-an, namun masih banyak kalangan masyarakat akademis yang masih belum menerimanya, sebagaimana tercermin dalam International Stratigraphic Guide yang diterbitkan oleh International Stratigraphic Commision pada tahun 94, di mana Sequence Stratigraphy belum dicantumkan sebagai salah satu kategori satuan stratigrafi (Entah kalau  sekarang)</p>
<p>Jadi suatu kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah pada suatu saat. Maka metoda jajak pendapat (voting) di antara para ahli adalah sah-sah saja untuk mengetahui pendapat yang didukung oleh majoritas sekelompok pakar yang terkemuka. (Ini mengingatkan saya pada debat Obama vs McCain, moderator perdebatan ini tidak memutuskan siapa yang memang, tetapi polling (jajak pendapat) dari berbagai media yang  menunjukkan berapa persen dari pemirsa yang menyatakan Obama menang dan berapa persen yang menyatakan McCain menang). Dalam hal perdebatan ilmiah tentu saja tidak bisa polling dilakukan terhadap khalayak ramai yang awam akan ilmu yang diperdebatkan, tentu harus terhadap pakar yang mengikutinya.  Sebaliknya saya kira suatu keputusan yang dikeluarkan oleh suatu instansi atau hasil suatu seminar sekelompok pakar yang terpilih/pantia perumus tidak dapat serta merta dinyatakan sebagai kebenaran ilmiah. Boleh jadi kesimpulan/keputusan itu sebetulnya tidak dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah yang mengikuti seminar itu. Suatu teori untuk dapat diterima oleh majoritas masyarakat ilmiah sering memerlukan waktu yang lama. Sebagai contoh teori plate-tectonics yang sekarang dianggap bukan lagi teori tetapi sebagai fakta ilmiah, konon katanya memerlukan waktu 50 tahun. Mungkin saja dalam waktu yang akan datang ada metoda yang dapat memperlihatkan keadaan bawah tanah Lusi sesudah ternjadi semburan lumpur yang memperlihatkan bahwa lumpur itu naik ke atas melalui sesar dan bukan melalui lubang bor, sehingga teori-nya Sdr. Awang dapat diterima oleh &#8216;overwhelming majority&#8217; masyarakat ilmiah dalam forum AAPG yang sama 30 tahun mendatang. Tetapi Sdr. Awang tidak mau menunggu sampai 30 tahun lagi, mungkin harus cari forum internasional lagi tahun depan, di Jepang barangkali?</p>
<p>Ada juga yang berpendapat bahwa 42 orang itu tidak dapat mewakili majoritas para ahli di dunia, atau moderator-nya curang dan berat sebelah, dan oleh karenanya  yang pro bencana alam memboikotnya dengan abstain.Tetapi kelihatannya ada juga yang tidak ikut boikot dan mengacungkan tangannya. Adanya kreativitas secarara spontan atas response penonton itu juga menunjukkan tidak ada rekayasa.  Kalau begitu ya kita tunggu saja terjadinya perdebatan terus menerus pada forum internasional di berbagai negara di tahun-tahun mendatang sehingga semua yang berkepentingan puas (yang tidak mungkin tercapai). Mungkin akan memakan waktu 50 tahun juga. Sementara itu kita bisa juga memperhatikan berapa paper di majalah2 geosciences yang terkemuka yang akan merujuk pada paper-nya Davies atau papernya Mazzini. Di lain fihak saya yakin bahwa text-books yang akan datang  mengenai drilling akan merujuk pada Lusi ini sebagai studi kasus apa akibatnya kalau prosedur tidak diikuti. Saya ucapkan kepada Sdr. Awang selamat berjuang mencari kebenaran</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/64/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/64/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=64&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/10/31/mencari-kebenaran-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiprah Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Awal Ilmu Geologi</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/10/10/kiprah-ilmuwan-muslim-dalam-perkembangan-awal-ilmu-geologi/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/10/10/kiprah-ilmuwan-muslim-dalam-perkembangan-awal-ilmu-geologi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 06:47:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Tadi wektu jalan-jalan di bentara internet dan blog ketemu tulisan temen geologi yang menulis tentang perkembangan ilmu geologi diwaktu awal. Dan menariknya khusus kiprah ilmuwan muslim dalam perkembangan ilmu ini. Salahuddin yang Doktor dari Universitas Brunei Darussalam menuliskannya. Sepintas Mengenal Kiprah Ilmuwan Muslim dalam Perkembangan Awal Ilmu Geologi oleh Salahuddin Husein Apa yang terlintas di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=61&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Tadi wektu jalan-jalan di bentara internet dan blog ketemu tulisan temen geologi yang menulis tentang perkembangan ilmu geologi diwaktu awal. Dan menariknya khusus kiprah ilmuwan muslim dalam perkembangan ilmu ini.</p>
<p style="text-align:left;">Salahuddin yang Doktor dari Universitas Brunei Darussalam menuliskannya.</p>
<p style="text-align:left;"><span id="more-61"></span></p>
<p align="center"><strong><span style="font-size:x-small;">Sepintas Mengenal Kiprah Ilmuwan Muslim<br />
dalam Perkembangan Awal Ilmu Geologi</span></strong></p>
<p>oleh Salahuddin Husein</p>
<p align="justify">Apa yang terlintas di benak anda saat mendengar nama <strong>Ibnu  Sina</strong> atau <strong>Avicenna</strong>? Tentunya seorang tokoh cendekiawan muslim yang  besar di bidang kedokteran, seorang ilmuwan yang magnum opus-nya berjudul <em> Canon</em> (<em>al-Qanun fi al-Tibb</em>) menjadi buku teks kedokteran di  universitas-universitas Eropa selama lebih dari 5 abad.<br />
Tetapi mungkin tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa beliau juga  seorang geologis. Tentu saja bukan seperti geologis dalam pengertian profesional  seperti yang kita kenal sekarang.</p>
<p>Lahir di daerah Bukhara, Asia Tengah, pada tahun 981 Masehi, Abu Ali al-Hussain  Ibn Abdallah Ibn Sina telah mampu menghafal Al-Qur’an pada usia 10 tahun. Bakat  dan ketekunannya yang besar mengantarkan menjadi dokter yang diakui masyarakat  Bukhara pada usia 17 tahun.</p>
<p>Ibnu Sina, seperti juga para ilmuwan di masa dahulu, lebih sebagai seorang  ilmuwan alam yang generalis. Keingintahuannya terhadap rahasia penciptaan alam  semesta yang diikuti dengan pengamatan secara tekun dan teliti, menghasilkan  penemuan-penemuan lainnya di bidang astronomi, fisika, matematika, kimia dan  musik.</p>
<p>Di bidang geologi, Ibnu Sina merupakan pionir dalam pengelompokkan mineral (<strong>mineralogi</strong>)  yang ada saat itu, yang menjadi dasar bagi perkembangan geologi mineral  selanjutnya.<br />
Pada subyek <strong>paleontologi</strong>, beliau mengajukan hipotesa mengenai fosil-fosil  hewan yang dijumpai di bebatuan merupakan sisa-sisa pembentukan makhluk hidup  baru yang gagal, di mana proses tersebut berlangsung di laut.<br />
Pada subyek <strong>sedimentologi</strong>, beliau mengemukakan terbentuknya lapisan  batuan di laut yang menyusut. Setiap lapisan terbentuk pada kurun waktu tertentu,  diikuti dengan pengendapan lapisan diatasnya pada kurun waktu berikutnya.  Prinsip ini kemudian hari dikenal sebagai prinsip superposisi yang ditemukan  oleh <strong>Nicolaus Steno</strong>, fisikawan Denmark pada tahun 1669.<br />
Pada subyek <strong>tektonik</strong> dan <strong>geologi struktur</strong>, dengan mengamati  perlapisan batuan di pegunungan, beliau mengajukan hipotesa bahwa perlapisan  batuan yang tersebut mula-mula horisontal kemudian kedudukannya termiringkan  oleh gempabumi dan menjadi pegunungan. Beliau berpendapat penyebab gempabumi  tersebut adalah badai angin yang sangat kuat.</p>
<p>Dalam melakukan observasi terhadap berbagai gejala alam, Ibnu Sina beruntung  memperoleh kolega korespondensi, seorang <em>sparring partner</em> yang sepadan,  yaitu ilmuwan alam terbesar muslim bernama <strong>Al Biruni</strong>.</p>
<p>Abu Raihan Muhammad Al-Biruni lahir di daerah Uzbekistan pada tahun 973 Masehi,  menulis lebih dari 200 buku hasil pengamatan dan percobaannya, yang setara  dengan sebanyak 13 ribu lembar folio, melebihi jumlah lembaran tulisan <strong> Galielo</strong> dan <strong>Newton</strong> bila keduanya digabungkan. Para ahli sejarah  menyebut masa keemasan ilmu pengetahuan saat itu sebagai “abad Al-Biruni”.</p>
<p>Dengan kemampuan linguistik yang luar biasa, Al Biruni mampu menyerap ilmu  pengetahuan secara langsung dari berbagai sumber kebudayaan. Hal ini  mendasarinya untuk menetapkan metode ilmiah yang menjadi pegangan para ilmuwan  setelahnya, yaitu : “seorang peneliti harus menggunakan setiap sumber yang ada  dalam bentuk aslinya, melakukan pekerjaan dengan ketelitian obyektif, dan  melakukan penelitian melalui pengamatan langsung dan percobaan”.</p>
<p>Di bidang geologi, karya terbesar Al Biruni adalah pada subyek <strong>mineralogi</strong>,  berjudul <em>Gems</em> (<em>Kitab-al-Jamahir</em>). Beliau mendeskripsikan lebih  dari 100 mineral lengkap dengan varian, genesa, karakteristik dan nilai  ekonomisnya. Beliau pula yang menemukan cara menentukan berat jenis secara  akurat untuk 18 jenis mineral penting. Dalam kitab ini beliau juga memuat data  berbagai cadangan mineral yang ada di Cina, India, Srilangka, Eropa Tengah,  Mesir, Mozambiq, dan kawasan Baltik.<br />
Pada subyek <strong>geomorfologi</strong>, Al Biruni meneliti karakteristik Sungai Gangga  dari sumbernya di pegunungan Himalaya hingga ke Delta Gangga-Brahmaputra di tepi  Samudera Hindia. Beliau menemukan pengurangan ukuran butir sedimen dari hulu ke  hilir terkait dengan berkurangnya energi arus sungai yang membawanya. Beliau  juga mengajukan proses pembentukan lembah sungai akibat proses erosi yang  berlangsung lama dan pelan, mendahului pendapat serupa yang dikemukakan oleh <strong> Nicolas Desmarest</strong>, seorang geologis Perancis, pada tahun 1756. Selain itu  perhatiannya terhadap perubahan arah aliran Sungai Amu Darya menghasilkan kajian  evolusi morfologi Asia Tengah.<br />
Pada subyek <strong>paleontologi</strong>, Al Biruni juga melakukan pengamatan pada  fosil-fosil yang ada di lapisan batuan di India dan menyimpulkan bahwa  fosil-fosil tersebut berasal dari laut. Hal ini mendasarinya berpendapat bahwa  batuan di India dahulu terbentuk di lautan. Masyarakat Barat di kemudian hari  lebih mengenal prinsip ini sebagai yang ditemukan oleh <strong>Leonardo da Vinci</strong> pada abad ke-16.<br />
Pada subyek <strong>hidrogeologi</strong>, Al Biruni meneliti prinsip dan rekayasa  hidrostatik mata air alami dan artesis.</p>
<p>Al Biruni menghasilkan beragam karya original lainnya di bidang geografi,  kartografi, botani, astronomi, fisika, matematika, kedokteran, sosiologi dan  ilmu sejarah. Ragam penelitian Al Biruni meliputi semua jenis ilmu yang ada saat  itu. Sehingga banyak ahli sejarah menganggapnya bukan saja ilmuwan muslim  terbesar di abad pertengahan, tetapi juga sebagai ilmuwan terbesar sepanjang  masa.</p>
<p>Buku karya Al Biruni lainnya yang dianggap berpengaruh adalah <em>India</em> (<em>Kitab-al-  Hind</em>), yang menjadi rujukan para peneliti India hingga hampir 6 abad  setelahnya. Al Biruni yang pernah tinggal di India selama 20 tahun mengupas  secara rinci dan masif beragam kondisi geografi, sosial, budaya, bahasa dan  keagamaan masyarakat India. Menarik sekali melihat seorang ilmuwan alam mumpuni  yang juga fasih dalam merekam dan menyatu dengan realitas sosial masyarakatnya.  Al Biruni memang dikenal sebagai seorang tokoh yang penuh rasa toleransi.</p>
<p>Berbeda dengan Ibnu Sina, karya-karya Al Biruni baru diterjemahkan ke  bahasa-bahasa Eropa setelah abad ke-20, sehingga pengaruh pemikiran dan  sumbangannya terhadap ilmu pengetahuan Barat kurang berpengaruh.</p>
<p>Kejujuran dan dedikasinya yang total terhadap ilmu pengetahuan mungkin dapat  digambarkan dari peristiwa penolakannya terhadap penghargaan dari Sultan yang  berkuasa saat itu, berupa ribuan mata uang perak yang dibawa oleh 3 ekor unta.  Dengan sopan Al Biruni berkata, “saya mengabdi terhadap ilmu pengetahuan demi  ilmu pengetahuan itu sendiri dan bukan demi uang”. Sifat antusiasnya yang sangat  besar terhadap ilmu juga tergambar dari ungkapannya bahwa “Allah itu Maha  Mengetahui dan tidak menyukai ketidaktahuan”.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Al Biruni</strong> dan <strong>Ibnu Sina</strong> adalah dua nama yang telah memberikan  kontribusi besar bagi peradaban manusia saat ini. Mereka merupakan mata rantai  yang terlupakan dalam perkembangan ilmu geologi yang menghubungkan antara  penemuan Yunani dan Romawi kuno dengan perkembangan geologi dunia Barat saat ini.  Mereka berada di antara <strong>Herodotus</strong> yang meneliti Delta Nil di Mesir  sekitar 4 abad sebelum Masehi dan <strong>James Hutton</strong> yang mengemukakan prinsip <em>uniformitarianisme</em> pada tahun 1795.</p>
<p align="center"><em>“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam  dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu)  orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan  berbaring dan mereka memikirkan tentang peciptaan langit dan bumi (seraya  berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia..” </em>(QS 3:190-191).</p>
<p align="justify">***</p>
<p><strong>Bibliografi :</strong></p>
<p>Aber, J.S., 2003, Lecture on GO 521 History of Geology, Earth Science  Department, Emporia State University, Kansas.<br />
Ajram, K., 1992, The Miracle Of Islamic Science, Knowledge House Publishers.<br />
Anonymous, 2003, Earth the Living Planet, World Book Inc.<br />
Campbell, W., 2002, The Qur&#8217;an and the Bible in the Light of History and  Science, Arab World Ministries.<br />
O&#8217;Connor, J.J. and Robertson, E.F., 2003, The MacTutor History of Mathematics  Archive, School of Mathematics and Statistics, University of St Andrews,  Scotland.<br />
Zahoor, A., 2002, E-Book on Islamic Civilization, cyberistan.org.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/61/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/61/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=61&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/10/10/kiprah-ilmuwan-muslim-dalam-perkembangan-awal-ilmu-geologi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>East Indies Episode (Fabricius, 1949) : Bumi Hanguskan Minyak !</title>
		<link>http://geoblogi.wordpress.com/2008/09/23/east-indies-episode-fabricius-1949-bumi-hanguskan-minyak/</link>
		<comments>http://geoblogi.wordpress.com/2008/09/23/east-indies-episode-fabricius-1949-bumi-hanguskan-minyak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 06:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rovicky</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rupa-rupi]]></category>
		<category><![CDATA[bumi hangus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://geoblogi.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan Pak Awang H S &#8220;East Indies Episode&#8221; adalah judul sebuah buku tulisan Johan Fabricius tahun 1948. &#8220;Bumi Hanguskan Minyak !&#8221; adalah instruksi resmi Pemerintah Hindia Belanda dari Batavia ke seluruh lapangan minyak di Borneo, Sumatra, Papua dan Jawa pada 8 Desember tahun 1941 beberapa jam setelah pecahnya Perang Pasifik. Ada apa ini ? &#8220;Wah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=59&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 280px"><img style="border:0 none;" title="Monumen Bandung Lautan Api" src="http://img6.travelblog.org/Photos/66179/258911/f/2121817-Monumen-Bandung-Lautan-Api-0.jpg" alt="Monumen Bandung Lautan Api" width="270" height="360" /><p class="wp-caption-text">Monumen Bandung Lautan Api</p></div>
<p><strong>Tulisan Pak Awang H S</strong></p>
<p>&#8220;East Indies Episode&#8221; adalah judul sebuah buku tulisan Johan Fabricius tahun 1948. &#8220;Bumi Hanguskan Minyak !&#8221; adalah instruksi resmi Pemerintah Hindia Belanda dari Batavia ke seluruh lapangan minyak di Borneo, Sumatra, Papua dan Jawa pada 8 Desember tahun 1941 beberapa jam setelah pecahnya Perang Pasifik. Ada apa ini ?</p>
<blockquote><p>
<em> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  &#8220;Wah Pakdhe, mosok kok trus aneh-aneh gini ya manusia itu. Gimana kok bisa muncul pikiran lebih baik mati ketimbang malu&#8221;</em></p></blockquote>
<p><span id="more-59"></span><br />
Buku berumur hampir 60 tahun ini tidak dijual untuk umum, sehingga mungkin akan sulit dicari saat ini, kecuali di Shell Belanda barangkali. Saya mendapatkan buku ini dari seorang kenalan berbangsa Belanda, sesama penggemar buku.</p>
<p>Buku sangat menarik ini bercerita tentang bagaimana situasi saat Jepang akan datang ke Indonesia dan selama pendudukan Jepang di Indonesia tahun 1941-1945 serta hubungannya dengan perusakan banyak lapangan minyak, kilang, jalur transportasi minyak, dan pelabuhan agar tak jatuh ke tangan Jepang. Perusakan dilakukan oleh karyawan-karyawan BPM (Bataafsche Petroleum Maatschappij) sendiri atas perintah Pemerintah Pusat di Batavia.</p>
<p>Tentu kita bisa merasakan bagaimana sakit hatinya bila rumah yang telah kita bangun bertahun-tahun, belasan, bahkan puluhan tahun lalu mesti kita hancurkan sendiri dalam beberapa hari saja karena mau diduduki musuh. Begitulah perasaan pimpinan dan karyawan BPM saat itu. Menemukan lapangan minyak, mengembangkannya, membangun fasilitasnya, dan memproduksinya kita tahu butuh waktu bukan setahun atau dua tahun, tetapi lima atau sepuluh tahun, bahkan lebih.</p>
<p>Asap hitam minyak, kebakaran dari lapangan minyak, jalur pipa, kilang, dan pelabuhan membubung di seluruh Nusantara, dari Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Papua.</p>
<p>Buku ini ditulis oleh Johan Fabricius, seorang penulis untuk BPM, berdasarkan laporan-laporan &#8220;perusakan lapangan&#8221; yang ditulis pimpinan dan karyawan BPM. Buku diberi kata pengantar oleh van Hasselt, direktur pelaksana BPM tahun 1949. Buku diterbitkan pada Januari 1949 oleh The Shell Petroleum Company Ltd., dicetak oleh Bosch &amp; Zoon di Utrecht.</p>
<p>Saya tak akan menceritakan seluruh episode perusakan lapangan dan fasilitas minyak di Hindia Timur ini dalam sekali tulisan sebab akan terlalu panjang. Saya akan memulai dengan mengapa perusakan terjadi dan perusakan paling pertama yang terjadi : lapangan-lapangan minyak di Northwest Borneo : Miri dan Seria (wilayah Brunei sekarang).</p>
<p>Sejak Jepang merasa bahwa bangsanya telah terpilih untuk menguasai sekaligus melindungi Asia Timur, Jepang telah melihat bahwa kekayaan alam Netherlands East Indies (Indonesia sekarang) akan merupakan &#8220;hidup dan matinya&#8221;, terutama lapangan-lapangan minyak di Kalimantan, Sumatra, Papua, dan Jawa. Minyak baginya akan merupakan kunci ke supremasi militer yang telah lama diimpikannya. Maka, dimulailah &#8220;Kobayashi Mission&#8221; baik dengan jalan damai maupun perang, untuk menguasai lapangan-lapangan minyak itu, menguasainya secepat mungkin melalui &#8220;Blietzkrieg&#8221; (perang kilat) sebelum ia berperang dengan Tentara Sekutu Inggris dan Amerika Serikat.</p>
<p>Dari buku Ricklefs (2004 : Sejarah Indonesia Moderen) ditulis bahwa Jepang sudah lama mengingini sumber-sumber alam Indonesia berupa minyak, karet, bauksit, timah dan bahan-bahan strategis lainnya. Minyak dibutuhkan untuk bahan bakar angkatan perang Jepang yang bersama Jerman dan Italia membentuk persekutuan sejak September 1940. Ketika Jerman di Eropa mengalahkan Prancis, Belgia dan Belanda; Jepang meminta agar ia diizinkan masuk ke Indonesia, sebagaimana ia juga diizinkan masuk ke IndoChina yang semula di bawah kekuasaan Prancis.</p>
<p>Maka, datanglah utusan-utusan Kekaisaran dan Pemerintah Jepang ke Batavia menemui Gubernur Jenderal van Mook. Jepang ingin membeli sebanyak 3.750.000 ton minyak, sebuah jumlah yang sangat besar sebab melebihi 6x lipat kapasitas kuota penjualan total yang bisa disediakan BPM dan NKPM (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) yaitu 600.000 ton minyak. Yang segera diperlukan Jepang adalah 1.100.000 ton minyak ringan untuk bahan bakar pesawat yang hanya 1/10-nya bisa dipenuhi Pemerintah Belanda. Perundingan-perundingan menemui jalan buntu dan Kobayashi kembali ke Jepang dengan farewell notes bahwa perundingan tak ada gunanya sebab terjadi perbedaan besar antara yang diminta dan yang bisa disediakan.</p>
<p>Gagal membeli minyak, Jepang meminta lahan untuk eksplorasi dan eksploitasi. Sebuah nota bertanggal 29 Oktober 1940 dikirimnya ke Batavia, mendaftarkan area-area mana yang diminta : 1,3 juta hektare area Kariorang dan Kustai di Borneo (Jepang saat itu sudah punya konsesi di Sangkulirang dekat Mangkalihat), 14 juta hektare area di pantai tenggara dan pantai timurlaut Papua, 850 ribu hektare di Kepulauan Aru dan sekitarnya, 350 ribu hektar di kepulauan utara Papua, dan 165 ribu hektare di Sulawesi Timur. Total luas area yang diminta Jepang ini tak kurang dari 16 juta hektare atau sekitar 160.000 km2 (kalau sekarang luas WKP dibatasi maksimum 5000 km2, maka total area yang diminta Jepang sama dengan 32 WKP). Di samping lahan-lahan &#8220;frontier&#8221; ini, Jepang pun meminta dengan sangat area-area prospek di dekat wilayah produksi saat itu, mereka meminta : 7000 km2 area di sebelah tenggara Medan dan 3900 km2 area di seberang Tarakan.</p>
<p>Perundingan-perundingan dagang selama akhir tahun 1940 sampai pertengahan tahun 1941 gagal, minyak tak didapat, area pun tak diperoleh. Ketika pada tanggal 27 Juni 1941 delegasi dagang Jepang meninggalkan Batavia dengan hati panas karena gagal berunding, di Eropa Adolf Hitler telah menginvasi Rusia, mengepung Rusia dari tiga jalan masuk : Leningrad, Moscw, dan Sungai Volga. Setahun sebelumnya, Hitler sebenarnya telah menjatuhkan Belanda dan Belgia. Jepang yang menjadi sekutu Jerman merasa mendapat angin untuk segera membalas Belanda di Indonesia. Jepang seperti mendapatkan momennya untuk segera menguasai Asia Timur.</p>
<p>Pemerintah Belanda di Indonesia merasakan ketegangan itu pada paruh kedua tahun 1941, tentara-tentara ditempatkan di area-area minyak sebab mereka terancam oleh Jepang yang ingin menguasai kekayaan alam Indonesia. Pagi hari 8 Desember 1941, Pearl Harbour, pangkalan tentara sekutu Amerika Serikat-Inggris-Australia di Samudra Pasifik dibom angkatan udara Jepang. Pukul 7 pagi, Gubernur Jenderal mengumumkan melalui radio di seluruh Hindia Belanda bahwa Jepang akan segera menaklukkan Asia Timur dan Asia Tenggara. Hindia Belanda akan berperang melawan Kekaisaran Jepang. Genderang perang ditabuh !</p>
<p>Ketika perundingan dagang Belanda-Jepang berjalan panas dan alot di Batavia, hawa panas dan kondisi terancam telah ditularkan ke Northwest Borneo. Sarawak Oilfields Ltd. (S.O.L.) di Sarawak, perumahan di Miri, pengilangan minyak di Lutong, dan lapangan-lapangan minyak kepunyaan British Malayan Petroleum Company Ltd. di Brunei berada di garis depan serangan. Satuan garnisun tentara Belanda dan Inggris di sini hanya sedikit untuk melindungi minyak. Karyawan2 perminyakan harus segera merusakkan semua aset perminyakan sebelum Jepang datang dan menguasainya.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan ? Pembumihangusan Kilang Lutong dan pembakaran sumur-sumur minyak di lapangan-lapangan Miri dan Seria. Menjelang pukul 10 pagi pada 8 Desember 1941 setelah Jepang membom Pearl Harbour, manajer Lappangan Seria di Kuala Belait menerima instruksi melalui telepon dari Batavia agar segera menjalankan tindakan darurat berupa penghancuran semua aset perminyakan seperti telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya.</p>
<p>Setengah jam kemudian, &#8220;pasukan penghancur&#8221; (demolition squad) pun telah siap menjalankan aksinya yang telah direncanakan dan dilatih berbulan-bulan menyusul ketegangan Belanda-Jepang.  Semua bahan bakar di Kuala Belait dihabiskan ditumpahkan ke tanah berpasir. Tangki-tangki penampungan minyak dan oli dibuka dan dialirkan ke tempat-tempat yang mudah terbakar. Kilang minyak Lutong dibakar !</p>
<p>Sumur-sumur produksi di Lapangan Seria disumbat dengan cara memompakan semen ke dasar dan puncak casing. Menjelang tengah hari, semua bahan peledak yang telah siap di kepala-kepala sumur diledakkan dan semua tubing heads sumur2 itu meledak. Sementara itu semua instalasi kompresor dan pompa telah dirusakkan juga.</p>
<p>Hari besoknya, sebanyak 20 steam boilers dan feed-pumps di Lapangan Seria dihancurkan. Tangki-tangki penimbun minyak dikucurkan dan dibakar. Pipa-pipa dipotong dengan api oxy-acetylene yang berdaya besar.</p>
<p>Selama dua hari 48 jam semua fasilitas pun rusak parah : kilang, jalur pipa, sumur-sumur minyak. Hanya dalam dua hari semua fasilitas yang dibangun bertahun-tahun itu, belum termasuk usaha eksplorasi menemukan lapangan-lapangan minyak di Seria dan Miri terhapus oleh asap hitam. Mereka membangun, mereka pula yang menghancurkannya &#8211; suatu hal yang tragis. Apa yang berdiri di atas tanah atau di dalam tanah sebisa mungkin dihancurkan, kecuali pompa-pompa air agar dapat dimanfaatkan penduduk setempat.</p>
<p>Hari ketiga setelah Pearl Harbour dibom Jepang, terjadilah evakuasi besar-besaran orang Eropa karyawan perminyakan beserta keluarganya dari Miri. Mereka digaji dulu sampai sebulan ke depan. Sebelum meninggalkan Miri, mereka sempat membinasakan semua laporan-laporan eksplorasi dan produksi yang tersisa -punahlah sudah pekerjaan-pekerjaan geologi bertahun-tahun. Dengan tiga kapal mereka meninggalkan NW Borneo, kapal bernama Lipis, Maimuna, dan Chinhai. Tujuan ketiga kapal adalah Kuching kemudian Singapura.</p>
<p>Tepat seperti dipikirkan, skuadron udara Jepang terbang di atas Miri dan Lutong dan menemukan bahwa lapangan minyak dan kilang ini telah dibumihanguskan. Maka, serentak mereka mengejar pelaku pembumihangusan itu.</p>
<p>Setelah kapal-kapal itu berlayar sejauh 90 mil, mulailah bom-bom angkatan udara Jepang yang terkenal kejam dan berani mati itu (kamikaze) menjatuhi ketiga kapal yang sedang lari terbirit-birit meninggalkan amukan Jepang. Perang di atas laut pun terjadi antara angkatan laut Inggris dari mana kapal berasal melawan kamikaze Jepang. Tentu saja banyak yang gugur, terutama karyawan perminyakan S.O.L. Saat mereka berhasil merapat ke Kuching, sebagian karyawan lari ke dalam hutan dan tak pernah kembali.<br />
Begitulah, cerita berakhir di sini, tak terbayangkan tentu apa yang telah terjadi ini. Itu baru sebuah permulaan episode kengerian. Kengerian kemudian segera menjalar ke Sumatra, Papua, dan Jawa. Seperi di Miri dan Lutong, karyawan-karyawan BPM di sini membakar dan merusak aset-aset minyaknya sendiri, yang jauh dari laut bersembunyi ke dalam hutan, sampai menyeberang Barisan.</p>
<p>Kita tahu, tanggal 1 Maret 1942 Jepang mendarat di Jawa, dan tanggal 8 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah dan mulailah pendudukan Jepang di Indonesia. Angkatan Perang Jepang di darat, laut, dan udara menyerang tak tertahankan, merajalela di seluruh Asia Timur dan bagian barat Pasifik.</p>
<p>Kalau saja Indonesia tidak punya minyak, Indonesia tidak akan berada dalam incaran mata asing siapa pun. Kekayaan minyak Indonesia adalah magnet yang sangat kuat, itu hidup dan matinya Jepang, begitu diakui Misi Kobayashi.</p>
<p>Menurut sebuah catatan, saat Jepang datang, jumlah karyawan BPM tercatat 1506 orang staf Belanda. Dari jumlah ini 317 tewas saat melakukan evakuasi dari serbuan Jepang atau saat mereka ditawan di interniran (semacam kamp konsentrasi), jumlah ini masih ditambah oleh korban tewas sebanyak 40 orang anggota keluarga mereka.</p>
<p>&#8220;It was the realisation of the outrage to the bounty of Nature; sorrow that in Borneo, Sumatra, New Guinea, and Java, the earth with its flowing riches should be torn and rent and destroyed in an ideological struggle between peoples.&#8221;  (Fabricius, 1949).</p>
<p>Semoga sejarah kelam ini tidak terulang lagi.</p>
<p>salam,<br />
awang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/geoblogi.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/geoblogi.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=geoblogi.wordpress.com&amp;blog=328680&amp;post=59&amp;subd=geoblogi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://geoblogi.wordpress.com/2008/09/23/east-indies-episode-fabricius-1949-bumi-hanguskan-minyak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5f175be2af1a55c3d250072988ae62ac?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">rovicky</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img6.travelblog.org/Photos/66179/258911/f/2121817-Monumen-Bandung-Lautan-Api-0.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Monumen Bandung Lautan Api</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
