Di Mana Pusat Sriwijaya : Argumen Geomorfologi

malindo.jpgDongengnya Pak Awang HS

Kerajaan Sriwijaya (683-1377 M) adalah kerajaan maritim tertua di Indonesia dan merupakan kerajaan pertama di Nusantara yang menguasai banyak wilayah : seluruh Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku dan Mindanao. Karena wilayah kekuasaannya itu, Sriwijaya di dalam literatur sejarah suka disebut sebagai Negara Nusantara I. Dalam hal keberadaannya, Sriwijaya punya periode kekuasaan tiga kali lebih panjang daripada Majapahit, meskipun Majapahit juga yang menaklukkan Sriwijaya.

Para ahli sejarah, arkeologi dan ilmu-ilmu yang terkait (termasuk geologi), pernah bersilang pendapat soal pusat kerajaan besar ini. Literatur-literatur sejarah pernah menyebut pusat-pusat kerajaan ini di : Palembang, Jambi, Malaya, Thailand, bahkan Jawa.

Adalah I-Tsing (Yi-Jing), musafir Cina yang belajar agama Budha di Sriwijaya yang menyebutkan bahwa pusat/kota Sriwijaya terletak di daerah khatulistiwa. I-tsing mendeskripsikan tempat itu sebagai : “apabila orang berdiri tepat pada tengah hari, maka tidak akan kelihatan bayangannya”. Coedes, ilmuwan Prancis sejak awal abad ke-20 mengajukan argumen bahwa pusat Sriwijaya terletak di sekitar kota Palembang sekarang (dalam Robequain, 1964, “Malaya, Indonesia, Borneo, and the Philippines”, Longman)

Sukmono, arkeolog Indonesia pada suatu Kongres Ilmiah Pasifik tahun 1957 (dipublikasi dalam “Geomorphology and the location of Criwijaya”, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, April 1963) menantang argumen/hipotesis Coedes dan menyatakan bahwa pusat Sriwijaya di Jambi. Ini didasarkannya kepada analisis geomorfologi yang didukung foto udara. Sukmono diinspirasi oleh ahli geomorfologi Belanda Obdeyn yang pada tahun 1941-1944 mempublikasi seri paper tentang perkembangan geomorfologi Sumatra Selatan (dalam Tijdschrift. Kon. Ned. Aardr. Gen no 59-61 – hasil penelitian ini digunakan juga oleh Bemmelen (1949) dalam adikaryanya “The Geology of Indonesia”.

Tahun 1954, Sukmono dibantu Angkatan Udara RI merekonstruksi pantai timur Sumatra di sekitar Palembang dan Jambi melalui telaah fotogrametri. Sukmono menemukan kesimpulan menarik : semua situs peninggalan Sriwijaya baik yang di sekitar Palembang maupun Jambi berlokasi bukan di tanah aluvial, tetapi di tanah perbukitan berbatuan sedimen Neogen. Penelitian ini pun menemukan bahwa Jambi dulunya berlokasi di suatu teluk pada muara Sungai Batanghari. Teluk tersebut menjorok masuk ke daratan sampai wilayah Muaratembesi sekarang. Sementara itu, Palembang justru terletak di sebuah ujung jazirah yang memanjang ke laut berpangkal dari Sekayu sekarang. Baik Jambi maupun Palembang saat ini berjarak 75 km dari laut di sebelah timurnya.

Sukmono berkesimpulan, sebagai kerajaan maritim yang besar, Sriwijaya sebgai bandar besar lebih mungkin terletak di tepi sebuah teluk yang besar daripada di ujung jazirah yang sempit. Sukmono juga mengajukan argumen-argumen arkeologi di samping argumen geomorfologi.

Pendapat Sukmono mendapat dukungan dari Sartono, geolog dan arkeolog ITB, juga Slametmuljana, ahli sejarah (dalam Slametmuljana, 1981 “Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi”, Yayasan Idayu). Sartono berpendapat bahwa teluk di sekitar Jambi saat zaman Sriwijaya begitu besarnya sehingga orang mengira bahwa itu merupakan perbatasan antara Swarnadwipa (Jambi ke utara) dan Jawadwipa (Palembang, Lampung dan Jawa). Selat Sunda belum diketahui adanya atau mungkin belum seluas sekarang, hanya teluk besar saja bukan selat (lihat tulisan saya terdahulu soal “para pendahulu Tarumanegara” di milis ini). Harrison (1954) “Zuid-Oost Azie : en beknopte geschiedenis” berpendapat bahwa Selat Sunda terbentuk akibat tenggelamnya wilayah ini akibat volkanisme dan gempa-gempa Krakatau sepanjang masa.

Masih menurut Sartono, di sekitar Jambi pada zaman Sriwijaya terdapat sebuah teluk purba yang dibatasi oleh Pegunungan Tigapuluh. Ini memanjang ke arah tenggara dan menjadi perbukitan Bukit Bakar dan Bukit Tutuhan serta Teluk Sirih. Ke arah barat, teluk tersebut berhenti di Pegunungan Barisan dan bercabang menjadi dua teluk kecil yaitu Teluk Tebo dan Teluk Tembesi. Di antaranya, terjepitlah Bukit Duabelas. Di Teluk Tebo bermuara Batang Tembesi dan anak-anak sungainya.

Adapun kota Palembang menempati suatu ujung jazirah sempit yang berupa bukit setinggi 26 meter di atas permukaan laut. Inilah yang dinamakan Bukit Seguntang (“guntang” dalam bahasa Melayu Kuno berarti terapung). Memang, ujung jazirah ini seolah-olah terapung diapit dua teluk sempit.

Maka berdasarkan analisis paleogeografi (paleogeomorfologi), Sukmono dan Sartono berpendapat bahwa kota Sriwijaya yang besar tak mungkin berlokasi di suatu wilayah tanah genting berupa ujung jazirah sempit seperti Palembang, tetapi di kota Jambi yang terletak di tepi teluk yang besar (bandingkan dengan kota Jakarta yang berlokasi di tepi Teluk Jakarta).

Namun, pendapat Sukmono dan Sartono bukan merupakan pendapat final sekalipun cukup meyakinkan.

Tahun 1982 diadakan kongres internasional khusus mendiskusikan lokasi pusat Sriwijaya (Daldjoeni, 1992 “Geografi Kesejarahan, Alumni). Kongres dihadiri para ahli dari Indonesia, Prancis, Belanda dan Thailand. Para ahli bersepakat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya pada masa awal berlokasi di Palembang kemudian pindah ke Jambi. Kapan masa awal itu ? Antara abad ke-7 sampai abad ke-9, kata Casparis ahli dari Prancis. Casparis pun berpendapat mungkin saja kedua kota itu bersama-sama jadi ibukota Sriwijaya. Palembang wajar jadi ibukota kerajaan, di samping diapit dua teluk, terdapat Pulau Bangka di depannya yang merupakan jalur memutar dari Malaka menuju Cina (dulu belum ada jalan laut di antara pulau-pulau Kepulauan Riau). Ini posisi strategis sebagai bandar. Manguin, arkeolog Prancis mendukung pendapat itu sebab banyak prasasti menyebut Palembang, juga ada catatan-catatan dari para pelaut Portugis. Namun reruntuhan pusat kerajaan belum ditemukan di
Palembang.

Mengapa Sriwijaya mundur ? Robequain (1964) berpendapat bahwa kemunduran terjadi akibat pendangkalan pantai-pantai timur Sumatra dan sedimentasi muara-muara sungainya. van Bemmelen (1949) menulis bahwa garis pantai di muara Batanghari telah maju setahun rata-rata 75 meter, sedangkan garis pantai di muara Musi telah maju setahun rata-rata 125 meter. Sedimentasi Musi lebih tinggi dibandingkan Batanghari, mungkin itu pula yang membuat Sriwijaya memindahkan ibukotanya ke Jambi.

Tahun 1377, Raja Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan pasukannya ke Sumatra dan tunduklah beberapa kerajaan di Sumatra termasuk Sriwijaya. Itu adalah babak terakhir Sriwijaya, sebenarnya Sriwijaya telah lemah sejak abad ke-10 saat Dharmawangsa menyerangnya pada tahun 990 M. Perdagangan laut yang mundur seiring lajunya sedimentasi Batanghari dan Musi menjadi pencetus melemahnya Sriwijaya. Sebuah bukti lagi bahwa alam memainkan peranannya dalam bangun dan jatuhnya kerajaan-kerajaan di Nusantara.

Sesungguhnya sampai sekarang pun kita terus-menerus dipengaruhi alam. Bagaimana menjinakkan semburan LUSI ? Bagaimana mengantisipasi penenggelaman pantai utara Jakarta oleh land subsidence dan transgresi ? Bagaimana hidup berdampingan secara aman di negeri dengan ratusan gunungapi ? Berapa banyak nyawa dan korban harta benda telah direnggut gempa dan tsunami ? Alam punya siklus dan tanda-tanda tertentu yang bisa manusia pelajari. Semoga bijak kita sikapi. Masa lalu tetap berguna untuk masa kini.

13 Tanggapan

  1. The Rise of Sriwijaya Empire
    ( The Legend of Jaya Naga )
    By : Agung Arlan

    Pada tahun 600 Masehi terdapat suku di pedalaman Sumatera Selatan yang di kenal dengan nama suku Sakala Bhra ( purba ) yang berarti Titisan Dewa , suku ini mendiami daerah pegunungan dan lembah bagian utara di sekitar gunung Seminung daerah perbatasan Sumatera Selatan dengan Lampung .
    Suku ini terpecah menjadi dua kelompok masyarakat, yang pertama yang mendiami kawasan sekitar gunung Seminung dan turun ke lembah bagian utara sampai ke Lampung kemudian sebagian lagi turun ke daerah bawah dengan mengikuti aliran sungai di daerah huluan sumatera selatan yang kemudian di kenal dengan suku SAMANDA_DI_ WAY yang berarti orang yang mengikuti aliran sungai dan berakhir di Minanga ( Purba ), suku ini yang kelak kemudian asal mula suku Daya, Komering, Ranau,. ( Van Royen -1927 )

    Minanga karena kedudukannya di tepi Pantai di tinjau dari berbagai segi memikul beban sebagai ibukota negara. Adapun bahasa yang mereka pergunakan adalah Bahasa Malayu Kuno atau Proto Malayu yang merupakan cikal bakal bahasa komering, didaerah uluan sumatera selatan.

    Kerajaan tersebut di pimpin oleh seorang Raja yang hebat dan sakti , yang bernama JAYA NAGA kemudian oleh masyarakat pedalaman di beri Gelar DA-PUNTA-HYANG yang berarti Maha Raja yang Keramat , sekarang pun di daerah uluan sumatera selatan masih dapat kita kenal gelar Pu-Yang untuk orang yang kita anggap sesepuh maupun orang yang mempunyai kesaktian tinggi..
    Kerajaan ini kemudian di kenal dengan negeri kedatuan SRIWIJAYA disebut juga dalam kronik ( tulisan ) di negeri china yaitu kerajaan Shi Li Fo Shih
    Kerajaan ini setiap tahun nya mengirim utusan ke negeri china tercatat sejak tahun 670 s/d 742 yang pada saat itu di negeri China sedang berkuasa Dinasti Tang ( 618–907 ).
    Disebut pada dalm satu tulisan di negeri China bahwa ada kerajaan dari laut china selatan yang selalu mengirim utusannya ke Tiongkok, kerajaan itu bernama Shi-Li-Fo-Shih yang di transeleterasikan menjadi Sriwijaya.
    Pada tahun 671 Masehi seorang pendeta China yang bernama It-Tsing mengunjungi kerajaan ini dalam perjalanannya menuju India untuk memperdalam ajaran Budha.
    It-Tsing menetap 6 bulan di Minanga ibukota kedatuan Sriwijaya untuk memperdalam bahasa Sansekerta , dengan bantuan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga , It-Tsing Berangkat menuju tanah Melayu ( Jambi ) dan menetap selama 2 bulan sebelum melanjutkan perjalanan melalui Kedah terus keutara menuju India.

    Dapunta Hyang Sri JayaNaga sangat di sayangi dan di sanjung oleh rakyatnya karena selain mempunyai kesaktian tinggi juga merupakan pemimpin yang arief , bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Jaya Naga juga seorang penganut Budha yang taat. Dengan Kesaktiannya ia dapat mengetahui dan membaca gerak gerik alam, langit, matahari,bulan, bintang , hawa, hujan, angin, batu, tanah dan hewan, sehingga penduduk kedatuan ini menganggap Jaya Naga merupakan sosok titisan Dewa diatas Brahmana yang merupakan perantara manusia dengan sang Ghaib yang diturunkan ke bhumi untuk menjaga dan melindungi pulau surga (Swarna Dwipa). Setiap kata yang diucapkannya merupakan petunjuk, setiap petuah dan nasehat menjadi adat dan istiadat, kebaikannya merupakan anugerah dan kebahagian bagi penduduk dan kemarahan beliau merupakan malapetaka.
    Setiap daerah taklukkannya Jaya Naga selalu menunjuk pemimpin setempat yang di ambil dari Jurai Tua ( sesepuh masyarakat ) untuk menjadi Datu ( Ratu – pemimpin ) di daerahnya sendiri tetapi tetap terikat sebagai bagian dari daerah kedatuan Sriwijaya.
    Jaya Naga juga mampu menyatukan beberapa rumpun suku yang ada di daerah pedalaman atau uluan sumatera selatan yang awalnya semua penduduk berasal dari tiga rumpun suku yang mendiami tiga gunung yang ada yaitu Gunung Seminung, Gunung Dempo dan Bukit Kaba, System pemerintahan inilah yang kelak menjadi asal mula system pemerintahan Marga yang ada di daerah uluan sumatera selatan.
    Kedatuan Sriwijaya terkenal merupakan kerajaan yang makmur dengan hasil alamnya berupa kayu kamper, kayu gaharu, Pinang, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Selain itu juga kerajaan Sriwijaya merupakan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana yang mana daerah ini merupakan perlintasan perjalanan para pendeta budha yang ingin memperdalam pertapaannya dari India ke China maupun sebaliknya, dan dalam perkembangannya kerajaan Sriwijaya merupakan pusat Studi agama Budha di kawasan Asia tenggara terutama daerah semenanjung Selat Malaka dan Selat Sunda terbukti dari catatan It-Tsing, kerajaan Sriwijaya mempunyai 1.000 pendeta Budha, pendeta Budha yang cukup terkenal dari Kedatuan Sriwijaya ini bernama Sakyakirti.
    Penduduk kerajaan ini sebagian merupakan petani dan sebagian lagi merupakan saudagar yang melakukan perdagangan dengan India , Melayu dan China . Pedagang dari Tiongkok dagang ke Sriwijaya dengan membawa keramik ,porselein dan sutra untuk di tukarkan dengan emas, permata dan komoditas lain dari negeri ini yang merupakan tempat dimana komoditas penting pada jaman itu sampai dengan sekarang merupakan kekayaan alam pulau ini sehingga orang pada masa itu menyebut pulau ini dengan Pulau Surga ( Swarna Dwipa ) .
    Kerajaan ini di aliri oleh sungai-sungai ( kanal-kanal) kecil yang memasuki perkotaan sehingga perahu merupakan sarana transportasi penting masyarakat kota tersebut sehingga kerajaan ini terkenal dengan armada kapal – kapal yang kuat dan rapi yang kemudian dapat menguasai seluruh kawasan pelayaran di selat Malaka dan selat Sunda .

    Pada saat itu pelabuhan Palembang yang merupakan pintu masuk ke perairan sungai-sungai yang ada di uluan sumatera selatan banyak di kuasai perompak-perompak.
    Kondisi seperti ini membuat kapal kapal yang berlayar di pantai timur pulau sumatera berlabuh di pelabuhan Melayu ( Jambi ) kemudian melanjutkan pelayaran tanpa memasuki pelabuhan Palembang.
    Kisah perkembangan kerajaan Sriwijaya ini dimulai dari apa yang diutarakan dalam Prasasti Kedukan Bukit. Pada Hari kesebelas bulan terang bulan Wai Saka tahun 605, Dapunta Hyang Jayanaga berperahu kembali ke Minanga selepas melakukan pertapaan di gunung Seminung. Dalam pertapaannya Jaya Naga meminta restu dan memohon petunjuk dan kekuatan dari sang Ghaib di Gunung Seminung untuk menaklukkan tempat-tempat yang strategis agar dapat menguasai jalur pelayaran di Laut Cina Selatan di karenakan pada waktu itu Minanga ( ibukota kerajaan ) terletak dalam suatu teluk dimana sungai komering bermuara kurang strategis di pandang dari sudut perdagangan.

    Untuk Mewujudkan cita – citanya tersebut Dapunta Hyang Sri Jaya Naga melakukan konsolidasi dengan daerah belakang yang satu rumpun yaitu rumpun Sakala Bhra (Purba). Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga menaklukan daerah yang juga satu Rumpun tersebut yang terletak di sekitar bukit Pesagih di Hujung Langit Lampung Barat dan kemudian semua penduduk di ikat oleh Sumpah setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk menjadi bagian dari kerajaan Sriwijaya. ( Prasasti Hujung Langit – Lampung Barat )
    Sepulang dari penaklukan daerah belakang makin kuatlah pasukan kerajaan Sriwijaya yang di dukung oleh pasukan tambahan dari satu rumpun, pasukan atau laskar sriwijaya terkenal akan keberanian, dan kekuatannya.

    Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mulai melakukan expansi pertamanya yaitu dia harus menaklukan Tanjung Palembang dan menunjuk Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) di daerah palembang sebagai titik temu. Palembang pada jaman itu merupakan kota di pinggir pantai di mana bukit Sigiuntang merupakan tanjung palembang yang menjorok ke laut. Tempat ini adalah dataran tinggi yang merupakan mercu suar atau tempat pintu masuk ke tanjung Palembang yang merupakan akses laut menuju ke sungai sungai yang ada di sumatera.selatan.
    Pada peta pantai timur Sumatra purba di tepi pantai timur teluk purba terdapat 2 tanjung yang menjorok jauh kearah laut , kearah utara dengan jambi di ujungnya, dan yang timur menjorok kearah tenggara dengan Palembang berada diujungnya. Tanjung Palembang terbentuk oleh Bukit Siguntang sedang di selatan bukit ini terdapat teluk yang menjorok dalam lagi di mana sungai komering bermuara.

    Kemudian Dapunta Hyang Sri Jaya Naga membawa 20.000 ( Dua Puluh Ribu ) pasukannya dengan 1.312 berjalan kaki melalui daratan atau hutan belantara dan sebagian lagi membawa perahu mengikuti perairan. Selama dalam perjalanan terjadilah pertempuran – pertempuran kecil yang tidak terlalu berarti yang merupakan perlawanan dari daerah daerah yang di lintasi oleh laskar Kerajaan Sriwijaya.

    Pada tanggal 16 Juni 683 Masehi atau sekitar tujuh hari perjalanan sampailah rombongan pasukan yang di pimpin Dapunta Hyang Sri Jaya Naga di Muka Uphang. Perjalanan pasukan Sriwijaya mendapat kemenangan besar sehingga memberikan kepuasan bagi Sang Raja Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, kemudian Sang Raja memerintahkan untuk membuat bangunan atau rumah ( barak ) untuk tempat para laskar Sriwijaya yang berjumlah 2 laksa laskar Sriwijaya , untuk mengabadikan kemenangan tersebut di pahatlah Prasati Kedukan Bukit .
    Setelah Mengadakan konsolidasi di daerah Mukha Upang ( Kedukan Bukit ) dan kemudian menguasai pelabuhan palembang , maka “ pada hari kedua bulan terang bulan Caitra tahun 606 Saka ( 23 Maret 684 M ) Dapunta Hyang Sri Jaya Naga sangat puas akan kesetiaan rakyat setempat. Oleh karena itu di bangunlah Taman Sriksetra dengan pesan agar semua hasil yang di dapat di dalam taman ini seperti Nyiur, Pinang, Enau, Rumbia dan semua yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, demikian pula halnya dengan tebat dan telaga agar dapat di pelihara sehingga berguna bagi sekalian makhluk. Untuk itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga memohon restu agar ia selalu sehat sentosa terhindar dari para penghianat yang tidak setia, termasuk para abdi bahkan oleh istri-istri beliau. Karena beliau tidak akan menetap lama beliau menambah pesannya : “ Walaupun dia tidak berada di tempat dimanapun dia berada janganlah hendaknya terjadi Curang, Curi, Bunuh dan Zinah di situ. Akhirnya di harapkan doa agar beliau mendapatkan Anuttara bhisayakasambodhi “
    ( Parasasti Talang Tuo )

    Setahun kemudian terjadilah pemberontakan yang di pimpin oleh Perwira Lokal yaitu Kandra Kayet sehingga menimbulkan korban termasuk salah satu Panglima Perang Sriwijaya terbunuh yang bernama Tan Drun Luah, walaupun demikian Kandra Kayet yang gagah perkasa dapat di di bunuh oleh Dapunta Hyang Sri Jaya Naga dan mati sebagai penghianat.
    Untuk mengingat hal ini maka di buatlah suatu prasasti persumpahan untuk mengikat setiap para pejabat lokal yang ada di daerah taklukan agar dapat tetap setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kalau tidak maka akan terkutuklah dan di makan sumpah ( Prasasti Telaga Batu ).

    Batu persumpahan yang dimaksud antara lain berbunyi :
    – “……. kamu sekalian, seperti kamu semuanya, anak raja, bupati, panglima Besar,…….hakim pengadilan……kamu sekalian akan dimakan sumpah yang mengutuk kamu. Apabila kamu sekalian tidak setia kepada kami kamu akan dimakan sumpah. ( 1-6 )”.
    – “ Apabila kamu berhubungan dengan pendurhaka yang menghianati kami …………orang yang tidak tunduk kepada kami serta kedatuan kami kamu akan di bunuh oleh sumpah kutuk ini. ( 7-8 ) “.
    – “ Apabila kamu menabur emas permata untuk meruntuhkan kedatuan kami atau menjalankan tipu muslihat………..dan apabila kamu tidak tunduk kepada negara kedatuan kami maka terkutuklah kamu akan dimakan dibunuh sumpah kutuk. ( 11-12 ) “.
    – “ Demikian pula apabila kamu melawan kepada kami di daerah-daerah perbatasan negara kedatuan kami kamu akan dimakan, di bunuh. (13-14).
    – “ ……lagi pula kami tetapkan pengangkatan menjadi datu dan mereka yang melindungi sekalian daerah negara kedatuan kami putra mahkota, putra raja kedua, dan pangeran lain yang didudukan dengan pengangkatan menjadi datu, kamu akan dihukum apabila kamu tidak tunduk kepada kami ( 19-20 )”.

    Secara Geografis palembang adalah tempat yang strategis untuk menguasai lalu lintas pelayaran di Laut China Selatan. Namun kebanyakan pada waktu itu kapal – kapal berlayar singgah di kerajaan Melayu ( Jambi ) yang juga merupakan pelabuhan strategis di pantai timur sumatera kemudian kapal kapal tersebut melanjutkan perjalanannya ke utara tanpa singgah lagi di pelabuhan palembang.
    Melihat kondisi seperti ini Dapunta Hyang Jaya Naga berencana untuk menaklukan kerajaan Melayu ( Jambi ) untuk di jadikan wilayah kekuasaan kedatuan Sriwijaya.

    Dapunta Hyang Sri Jaya Naga bersama pasukannnya segera menuju Melayu, yang dari semula tanah Melayu sudah di rencanakan untuk di tundukkan.
    Pada tahun 685 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Sri Jaya Naga, Kerajaan Melayu takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Melayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan. Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian imperium Sriwijaya.
    Untuk meneruskan perjalanan ke Selatan dengan tujuan akhir adalah bumi Jawa tentu saja Melayu harus segera pula di tinggalkan. Peristiwa pemberontakan Kandra Kayet terus saja terbayang oleh sri baginda dan ini di jadikan sebagai contoh oleh Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kepada setiap pejabat lokal bahwa setiap penghianatan, walau di lakukan oleh seorang perkasa sekalipun dapat di tumpas . kemudian penduduk kerajaan Melayu pun di ikat dengan Sumpah maka di pahatlah prasasti Karang Brahi.
    Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali berangkat dengan melalui lautan berarti harus melalui selat Bangka . Oleh karena itu kerajaan Bangka harus pula di tundukkan lebih dahulu. Setelah menaklukan kerajaan Bangka, Dapunta Hyang Jaya Naga bersiap melanjutkan perjalanannya ke Bumi Jawa, namun sebelum keberangkatan Sri Baginda, penguasa lokal dan rakyatnya harus di beri peringatan dan di ikat dengan persumpahan untuk selalu setia kepada Dapunta Hyang Sri Jaya Naga. Demikianlah pada akhirnya : “ Pada hari pertama bulan terang Waiseka tahun 608 Saka atau tahun 686 Masehi Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga meninggalkan Batu Prasasti Persumpahan yang kita kenal sebagai Parasasti Kota Kapur dan segera menuju Bumi Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.
    Dalam perjalanan Sri Baginda menuju Bumi Jawa masih ada daerah yang berdiri sendiri di pantai timur Sumatera Bagian Selatan, untuk kepentingan keamanan penguasaan laut selatan, kerajaan itu harus pula di tundukan. Kerajaan itu sebenarnya berasal dari satu rumpun wangsa Sakala Bhra. Kerajaan itu adalah kerajaan Ye-Po-Ti ( Way Seputih ) di lampung Selatan. Sama dengan peristiwa- peristiwa lainnya, setiap beliau meninggalkan daerah – daerah yang rawan pemberontakan harus diadakan sumpah setia terlebih dahulu. Sumpah tersebut terpahat dalam Prasasti Palas Pasemah.
    Dari Way Seputih Rombongan langsung menuju Bumi Jawa, Dapunta Hyang Sri Jaya Naga mengutus salah Satu Panglima terbaiknya yang juga merupakan kerabat dekat kerajaan yaitu Dapunta Sailendra untuk memimpin pasukan Sriwijaya menuju Bumi Jawa. Dari data yang ada tampaknya mereka menuju Jawa tengah bagian utara.
    Pada saat inilah di nyatakan oleh berita di neger China ( Dinasti Tang ) bahwa kerajaan Sriwijaya terpecah menjadi dua bagian masing- masing mempunyai pemerintahan sendiri. ( Kronik Dinasti Tang ).
    Pada periode perkembangan kerajaaan Wangsa Sailendra di Jawa Tengah harus melaksanakan perintah Sri Baginda Dapunta Hyang Sri Jaya Naga untuk membangun candi di Ligor ( Muangthai ) candi tersebut baru selesai tahun 775 di resmikan oleh raja Wisnu dari Wangsa Sailendra.
    Sementara itu Dapunta Hyang Sri Jaya Naga kembali ke Minanga untuk melanjutkan memerintah Kedatuan Sriwijaya yang menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka dan Laut China Selatan .
    Berdasarkan prasasti Kota Kapur, Kerajaan Sriwijaya menguasai bagian selatan Sumatera hingga Lampung, mengontrol perdagangan di Selat Malaka, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan.
    akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Budha Sailendra di Jawa Tengah berada di bawah dominasi Sriwijaya.
    Masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
    Di akhir Abad ke 7 ibukota Minanga telah mengalami malapetaka hingga Silap atau hilang secara misterius di telan bumi. Keadaan ini membuat Sri Baginda Dapunta Hyang Jaya Naga bersedih sehingga mengasingkan diri ke Gunung Seminung untuk bertapa sampai akhir hayatnya.( Legenda Minanga Sigonong-Gonong )

    Di angkat dari Buku :
    Periodisasi Kerajaan Sriwijaya
    Karangan : H.M. Arlan Ismail, SH ( 2003 )

    • YANG JELAS SERIWIJAYA ITU BANYAK PERSI, ADA PERSI JAMBI ADA PERSI RIAU ADA PERSI SUMATRA BARAT, ADA PERSI SUMATRA UTARA ADA PERSI KOMERING ADA PERSI LAMPUNG, ADA PERSI TULANG BAWANG, ADA PERSI JAWA, ADA PERSI SUNDA, ADA PERSI KALIMANTAN, ADA PERSI MALAISIA, ADA PERSIKAMBOJA, ADA PERSI THAILAN ADA PERSI INDIA, ADA PERSI AHLI SEJARAH KALAU AHLI SEJARAHNYA ORANG JAWA LEBIH CONDONG KEJAWA KALU AHLI SEJARAHNYA ORANG PADANG LEBIH CONDONG KE PADANG BEGITU JUGA YANG LAIN LAIN, DAN SATU LAGI PERSI YANG BELUM DISEBUT YAITU PERSI PAKTA SEJARAH/PERSI BUKTI SEJARAH/ PERSI PRASASTI/ BERITA ASING/ PERSI LOGIKA AKAL SEHAT YAITU BERASAL DARI RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH ( gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, musi rawas/lubuk linggau, musi banyu asin/ sekayu, lahat, empat lawang, muara enim, ogan, semendo, rejang, kaur/ bengkulu)
      berita/kabar/ hadits tentang lampung/ sekala berak asal seriwijaya/ dapunta/ dinasti selendra adalah bohong/ hadits palsu karena sumbernya hanya dari satu orang yakni arlan ismail. dan arlan ismail ini ahli sejarah bukan ahli arkeologi bukan melainkan si pembohong tukang ngarang cerita bohong.
      begitu juga dengan yang lain. mungkin yang agak kuat dikit itu jambi dengan situs muaro jambinya sebagai bukti ilimiah.tapi itupun terbantah karena jambi berdasrkan prasasti karang berahi jambi ditaklukkan dikutuk dan dihancurkan oleh seriwijaya.mengenai situs muaro jambi itu milik kerajaan melayu jambi. bukan kerajaan seriwijaya. berdasarkan bukti ilmiah sumbagsel pada waktu itu ada 3 kerajaan yakni melayu di utara sumbagsel/ jambi sekarang, seriwijaya ditengah/ sumsel dan bengkulu sekarang, dan kerajaan tulang bawang diselatan/ lampung sekarang. dan melayu jambi dn tulang bawang lampung menjadi wilayah seriwijaya setelah ditaklukkan. berdasarkan seluruh prasasti seriwijaya di jambi dan lampung.
      adapun berita, kabar/ hadits tentang melayu rumpun pasemah sebagai cikal bakal seriwijaya, dapunta, dinasti selendra ibarat hadits mutawatir yang tingkatannya melebihi soheh/ benar, karena dari banyak sumber yang mereka itu mustahil mengada ada tanpa ada bukti diantaranay bersumberdari
      1. johan hanafiyah ahli sejarah dan budaya nasional angkatan balai pustaka asal sumsel,
      2. wali kota pagar alam
      3. bupati lahat
      4. gubernur Bengkulu
      5 gubernur sumsel
      6. seminar internasional peradaban pasemah sebagai pendahulu seriwijaya
      7. seminar raja raja nusantara di pagar alam
      8. pestipal seriwijaya XX di lahat
      9. akademisi unsri
      9 ahli sejarah arkeolog
      10. ahli sejarah lokal, nasional dan internasional.
      11. dinas pariwisata pagar alam
      12 napak tilas seriwijaya
      dan masih banyak lagi sumber sumber yang lain
      PERADABAN BESAR AKAN MELAHIRKAN PERADABAN BESAR PULA SINGA AKAN MELAHIRKAN SINGA GAJAH AKAN MELAHIRKAN GAJAH PERADABAN MEGALIT RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH ADALAH PERADABAN MEGALIT TERBESAR DAN TERLENGKAP DI DUNIA. MAKA DARI SANALAH SERIWIJAYA BERASAL.
      Seluruh prasasti seriwijaya berbahasa sans kerta dan nelayu rumpun suku bangsa pasemah/ melayu palembang.
      dalam prasasti kedukan bukit jelas ditulis dikatakan dapunta naik di sampau kata naik asli bahasa melayu rumpun pasemah sedangkan bahasa lampung/ komering naik= cakak. datang juga bahasa melayu rumpun suku bangsa pasemah lampung/ komering datang= hatong. dalam prasasti seriwijaya yang lain disebutkan kata aku dan kamu dua kata ini adalah asli bahasa melayu rumpun suku bangsa pasemah/ melayu palembang. sedangkan bahasa lampung/ komering aku= nyak kamu= niku
      jambi aku= sayo kamu= kau
      riau aku= saya, kamu= engkau
      minang= ambo, kamu= sanak
      isi dan makna prasasti kedukan bukit itu harus dibaca dan dipahami secara utuh dari awal sampai akhir jangan diartikan sepotong sepotong.
      ini isi prasasti kedukan bukit
      1 Swasti, sri. Sakawarsatita 604 ekadasi su-
      2 klapaksa wulan Waisakha Dapunta Hyang naik di
      3 samwau mangalap siddhayatra. Di saptami suklapaksa
      4 wulan Jyestha Dapunta Hyang marlapas dari Minanga
      5 tamwan mamawa yang wala dua laksa dangan kosa
      6 dua ratus cara di samwau, dangan jalan sariwu
      7 telu ratus sapulu dua wanyaknya, datang di Mukha Upang
      8 sukhacitta. Di pancami suklapaksa wulan Asada
      9 laghu mudita datang marwuat wanua …..
      10 Sriwijaya jayasiddhayatra subhiksa
      Terjemahan dalam bahasa Indonesia modern:
      1 Bahagia, sukses. Tahun Saka berlalu 604 hari kesebelas
      2 paroterang bulan Waisaka Dapunta Hyang naik di
      3 perahu melakukan perjalanan. Di hari ketujuh paroterang
      4 bulan Jesta Dapunta Hyang berlepas dari Minanga
      5 tambahan membawa balatentara dua laksa dengan perbekalan
      6 dua ratus koli di perahu, dengan berjalan seribu
      7 tiga ratus dua belas banyaknya, datang di Muka Upang
      8 sukacita. Di hari kelima paroterang bulan Asada
      9 lega gembira datang membuat wanua …..
      10 Perjalanan jaya Sriwijaya berlangsung sempurna
      a. DAPUNTA PERTAMA NAIK DIPERAHU ITU PARO TERANG BULAN WAISAK ( 23 APRIL) INILAH ASAL SERIWIJAYA.
      b. DAPUNTA BERLEPAS DARI MINANGATAMWAN DIHARI KETUJUH PAROTERANG BULAN JESTA (19 MEI) ARTINYA MINANGATAMWAN ITU BUKAN SERIWIJAYA/ ASAL SERIWIJAYA TAPI TAKLUKKAN SERIWIJAYA. karena jarak dapunta naik perhu sampai berlepas itu 26 hari, dari tgl 23 april baru berlepas dari minangatamwan tgl 19 mei.
      c. datang dimuka upang dihari kelima paroterang bulan Asada ( 16 juni.)
      jadi jelas minangatamwan itu bukanlah tempat pertama dapunta naik perahu/ tempat melakukan sidhayatra. tempat dapunta melakukan/ magalap sidhayatra adalah seriwijaya, karena diakhir prasasti dikatakan sidhayatra seriwijaya jaya subhiksa.
      artinya seriwijaya yang melakukan sidhayatra bukan minangatamwn. bukan sidhayatra minangatamwan jaya subhiksa.
      minangatamwan itu adalah persinggahan dapunta sebelum menuju palembang.
      dan minangatamwan itu bukan minanga komering bukan pula minang kabaw. tidak ada satupun keterangan dan para ahli mengatakan minangatamwan itu adalah minanga komering atau minang kabaw. minanga komering 1626 memang sudah ada tapi seriwijaya itu 670 an artinya 1000 tahun lebih tua dari minanga komering dalam piagam dengan tapal batas minanga komering dengan palembang darussalam.
      apalagi istilah minang kabaw yang baru ada setelah menang adu kerbaw pada zaman kerajaan banten.
      istilah minangatamwan itu banyak ada paling ujung indunesia utara dari minanga sulawesi utara sampai pulau rote( ujung selatan indonesia) ada muara takus kampar riau ada binanga sumut dll.
      arlan ismail itu persis kayak anak kecil yang asal tulis aja tanpa mengerti apa yang ditulis. arlan ismail mengatakan dapaunta sebelum menalukkan palembang tahun 683M melakukan konsolidasi kedaerah belakang terlebih dahulu yang masih satu rumpun yakni di sekala berak untuk itu dapunta menulis prassasti hujung langit liwa lambar setelah mendapat tambahan kekuatan dari satu rumpun bertambah kuatlah pasukkan seriwijaya. arlan ismail ini tidak tau apa pura pura tidak tau kalau prassasti hujung langit lampung barat itu tahun 997M mang arlan/ 300 tahun jaraknya lebih tua prasasti kedukan bukit. kalau kataarlan ismail dari hujung langit dulu dapunta baru ke palembang tahun 683. BENAR- BENAR KACAU ARLAN ISMAIL INI.
      sedangkan dapunta tahun 683M.
      arlan ismail menulis setelah menempuh perjalanan 7 hari sampailah dapunta ke muka uphang palembang sedangkan perjalanan dapunta dari merlepas dari minangatamwan datang di muka uphang itu dari tgl 19 mei datang tgl 16 juni 683M artinya 27 hari/ satu bulan
      arlan ismail juga mengatakan dapunta menelusuri sungai komering di perjalanan mendapat perlawanan yang tidak begitu berarti dari penduduk sekitar. artinya kalau memang lewat sungai komering berarti yang melakukan perlawanan itu orang komering karena orang komering yang berada disekitar sungai komering. benar benar kacau arlan ismail ini.
      dan tulisan arlan ismail itu sama sekali tidak ilmiah. isinya dongeng semua. arlan ismail mengatakan seriwijaya menaklukkan kerajaan seputih yang masih satu rumpun sekala berak. prasasti palas pasemah, prasasti bungkuk, hujung langit liwa itu semua menegaskan wilayah lampung di taklukkan oleh seriwijaya/ prasasti hujung langit itu mengatakan penguasanya seri aji hari dewa. seri aji itu adalah pangkat/ gelar dibawah perdana mentri bukan raja artinya seri aji hari dewa itu bawahan seriwijaya/ medang jawa. sebelumnya seriwijaya menaklukkan bangka dan jambi. kemana Rumpun suku bangsa pasemah ( gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, musi rawas/lubuk linggau, musi banyu asin/ sekayu, lahat, empat lawang, muara enim, ogan, semendo, rejang, kaur/ bengkulu) wilayah ini tidak ditaklukkan oleh seriwijaya, sedangkan ia adalah wilayah seriwijaya. artinya jelas wilayah inilah cikal bakal seriwijaya.
      sejauh ini belum ada teori yang lebih kuat bahwa SERIWIJAYA BERPUSAT DI PALEMBANG SUMSEL DAN BERASAL DARI DAERAH ULUANNYA YAKNI MELAYU RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH ( gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, musi rawas/lubuk linggau, musi banyu asin/ sekayu, lahat, empat lawang, muara enim, ogan, semendo, rejang, kaur/ bengkulu)
      UMUR SERIWIJAYA ITU SEKITAR 500 tahun lebih jelas para raja/ penguasa seriwijaya itu berasimilasi berinteraksi dengan seluruh sumatera bahkan luar sumatera seperti jawa, bali kalimantan dan asia tenggara.

  2. Minanga Ibukota Kerajaan Sriwijaya……..

    Nama Minanga ( Komering Ulu Sumatera Selatan ) sebagai nama tempat sudah ada semenjak sebelum Van Rokel membaca prasasti kedukan bukit tahun 1924. Oleh karena itu nama Minanga di Komering Ulu itu bukanlah mencontoh kebesaran nama dalam prasasti kedukan bukit.
    Ini terlihat dalam suatu piagam perjanjian tahun 1629 dengan mamakai tulisan Arab-Melayu oleh kesultanan Palembang yang pada waktu itu di berkuasa Sedaing Kenayan mengenai tapal batas Marga Minanga. Piagam tersebut masih tersimpan sebagai dokumen Marga Semendawai Suku III.
    Minanga yang kita identifikasikan sebagai ibukota Sriwijaya sekarang adalah merupakan nama dua buah desa yaitu desa Minanga Tengah dan desa Minanga Besar .
    Desa Minanga sekarang terletak di daerah rawa-rawa dataran rendah. Daerah yang agak tinggi permukaannya mengelilingi desa-desa tersebut yaitu di sebelah hulu sungai disekitar daerah Betung ( dahulu bernama Kedaton ) di sebelah barat ada dataran tinggi yang membentang sampai ke batas Kedaton dan sungai Ogan. Jadi bahwa kawasan Minanga berada di antara dua daerah yang bernama Kedaton yang berada di pedalaman Sumatra Selatan di pinggir Sungai Komring. Ada yang menarik tentang nama-nama tempat sebagai petanda monumen sejarah yang terdapat di Desa Minanga Komring Ulu dengan menamai kampungnya dengan nama-nama yang memberi kesan seolah-olah tersebut ada bekas pusat suatu pemerintahan antara lain :
    1. Kampung Ratu — Menggambarkan komplek Perumahan para Raja-raja
    2. Kampung Kadalom — menggambarkan adanya kompleks perkampungan para abdi dalam.
    3. Kampung Balak — berasal dari kata Bala atau Laskar kedaton
    4. Kampung Binatur — berasal dari kata Batur yang berarti pelayan keraton
    5. Pasar Malaka — yang sekarang merupakan ladang penduduk yang di yakini oleh penduduk setempat dahulunya merupakan tempat orang memperdagangkan barang dagangan dari Malaka.
    Nama nama tersebut sudah ada sama tuanya dengn nama Minanga komring ulu yang sudah ada sejak sebelum tahun 1629 Masehi
    Kemudian di kawasan Minanga ini banyak sekali kita jumpai Makam Kuno ( makam keramat ) lebih kurang terdapat 15 makam kuno sepanjang uluan sungai komring yang di kenal dan di percayai oleh penduduk setempat merupakan makam Raja-Raja maupun panglima perang jaman dulu yang menjadi keramat bagi desa desa sekitar.
    Antara lain :
    – Pu-Hyang ( Puyang ) Ratu Kadi yang berarti Pangeran Mahkota
    – Pu-Hyang ( Puyang ) Naga Brinsang yang berarti Raja Naga Ajaib.
    – Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Alam Basa Berarti Raja Alam berasal dari Dewa.
    – Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Randah ( Randuh ) yang berarti Raja yang dapat berpndah- pindah tempat.
    – Pu-Hyang ( Puyang ) Kai Ranggah yang berarti raja banyak Cahang.
    – Pu-Hyang ( Puyang ) Marabahu ( diucapkan Marbau ) yang berarti Raja yang berkali-kali mati dan hidup kembali.
    – Tan Junjungan ( Puyang Tan Junjungan ) yang berarti panglima yang penuh sanjungan.
    – Tan Adi ( Puyang Tan Adi ) yang berarti Panglima Utama
    – Tan Aji ( Puyang Tan Aji ) yang berarti Panglima Raja
    – Tan Mandiga ( Puyang Tan Mandiga ) yang berarti Panglima yang ampuh.
    – Tan Salela ( Puyang Tan Salela ) yang berarti Panglima yang menarik hati
    – Tan Robkum ( Puyang Tan Robkum ) yang berarti Panglima yang tahan rendam dalam air.
    – Tan Hyang Agung ( Puyang Tihang Agung ) yang berarti Panglima dewa Agung
    – Tan Minak Batara ( Puyang Minak Batara ) yang berarti panglima turunan Raja
    – Tan Mahadum ( Puyang Mahadum ) yang berarti panglima penyelamat.

    Jarak Minanga dengan Pantai timur sekarang jika di tarik lurus horizontal lebih dari 100 Km. Karena Minanga berada di pinggir sungai yang sekarang di kenal dengan sungai Komring maka penduduknya di sebut orang Komring. W.V. Van Royen dalam bukunya “ De Palembang Sche Marga ( 1927 ) “ tidak menyebut orang komring tetapi “ Jelma Daya “ . Nama sungai Komring sendiri diambil dari nama seorang yang berasal dari India yang bernama Komering Singh ,makam nya terdapat di sebelah hulu desa Muara Dua , sungai yang mengalir mulai dari makam tersebut tepatnya mulai dari Muara Selabung yang mengalir ke hilir sampai muara Plaju di sebut sungai Komring .

    Menurut sejarah Kabupaten Ogan Komering Ulu ( 1979 ) Jelma Daya kelompok pertama yang turun dari gunung Seminung melalui Danau Ranau kemudian seterusnya menelusuri sungai Komring sampai di Gunung Batu adalah kelompok Samandaway. Samandaway berasal dari kata Samanda Di Way yang berarti mengikuti aliran sungai.
    Pada tahun 1974 telah ditemukan sebuah arca Budha yang terbuat dari Perunggu ukuran tinggi ±35 cm, tebal 11 cm di temukan 15 km dari desa Minanga yang di temukan tidak sengaja oleh petani setempat yang kemudian menjadi barang koleksi pribadi mantan bupati OKU pada saat itu.

    Minanga hanyalah monumen sejarah dalam bentuk nama tempat, tapi kawasan Minanga purba adalah begitu luas yaitu paling sedikit sebesar Marga Semendawai Suku III dan di sebelah barat berbatasan dengan daerah Kedaton ( Ogan Ulu Sumatera Selatan ).
    Karena langka nya peninggalan Sriwijaya dalam bentuk benda kepurbakalaan di manapun termasuk di daerah Minanga ( Komring Ulu sumatera selatan ) maka alternative lain yang harus di cari identitasnya ke dalam nilai-nilai Budaya dimana salah satu aspek budaya yang penting dan masih menonjol adalah Bahasa . :

    “ Bahasa adalah alat utama Kebudayaan. Tanpa Bahasa kebudayaan tidak mungkin ada. Kebudayaan tercermin dalam Bahasanya. ( S Gazalba 1966 : 102 ) “

    Seperti di utarakan di muka bahwa rumpun Seminung mempunyai bahasa dan tulisan sendiri. Orang Rumpun Seminung tergolong suku Malayu Kuno ( Proto Malayan Tribes ), bahasanya banyak terdiri dari bahasa Malayu Kuno , bahasa Jawa Kuno dan bahasa Sansekerta.

    Bahasa Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuo, Telaga Batu, dan prasasti lainnya dalam periode Shi-Li-Fo-Shih ( 670 s.d 742 Masehi ) adalah bahasa Malayu Kuno dan kausa katanya banyak yang tertinggal dalam bahasa Rumpun Seminung ( Komering, Daya,Ranau, Lampung ).
    Sebagai perbandingan kita mengambil contoh adalah prasasti Telaga Batu : menurut bacaan dan terjemahan Prof.Dr.J.G. de Casparis dalam bukunya “ Selted inscription from the 7 th to the 9 th century A.D ( 1956 )” . Prasasti itu terdiri dari 28 baris dengan jumlah ±709 kata-kata yang sudah terbaca, dari kata-kata tersebut terbentuk ±311 bentukan kata yang tidak kurang dari 50 kata yang terbukti di pakai dalam bahasa Komering ( Rumpun Seminung ). Antara lain sebagai berikut :

    Bahasa Sriwijaya Bahasa Komering Indonesia
    ( Prasasti Melayu Kuno )

    – Awai – Awai – Memanggil
    – Dangan – Jongan – Cara
    – Hulun – Hulun – Orang asing
    – Inan – Inan – Biarkan
    – Katahuman – Katahuman – Tertangkap tangan
    – Labhamamu – La(m)bahanmu – Tempat tinggalmu
    – Mulam – Mulang – Kembali
    – Mancaru – Macuaru – Mangacau/menghianat
    – Muha – Muha – Angap ringan / boros
    – Muah – Muah – Lagi / Masih ada
    – Marpadah/Padah – Mapadah/Padah-Tanggulangi / Andalan
    – Pira – Pira – Berapa
    – Puhawam – Puhawang – Pawang / Peramal
    – Ri – RI – Bersama
    – Sarambat – Sarambat – Setangkai
    – Talu – Talu – Kalah / tunduk
    – Tapik/Manapik – Tapik/Manapik – Menghindar/elak/serang
    – Tuhan – Tuhan – Milik

    Tidak teridentifikasinya Minanga Komring Ulu sebagai ibukota Sriwijaya selama ini di karenakan :

    1. Para ahli sejarah tidak mengetahui bahwa ada Minanga di daerah Komering Ulu Sumatera Selatan yang berada di Muara Sungai di tepi Pantai pada waktu itu, sehingga orang mencari Minanga di luar Sumatra Selatan di dasarkan kepada semata-mata kesamaan bunyi dan penggantian huruf.
    2. Penelitian Geomorfologi semata-mata di tujukan hanyalah penelitian kedudukan Jambi dan Palembang apakah berada di tepi pantai atau tidak pada jaman Sriwijaya
    3. Minanga dalam Prasasti kedukan bukit di satukan dengan kata Tamvan sebagai Toponim (nama tempat ), Minanga yang tersebut dalam prasasti kedukan bukit di tafsirkan sebagai daerah yang ditundukkan oleh sriwijaya hanya semata-mata untuk memperkuat Palembang sebagai ibukota Kerajaan..
    4. Para ahli sejarah hanya mau mengakui sesuatu atau mengarahkan penelitian pada suatu tempat kalau sudah ada bukti arkeologis di ketemukan lebih dahulu, sedangkan sumber sejarah bukan terletak kepada benda arkeologis semata, tetapi juga dalam bentuk ciri-ciri budaya, bahasa dan lain-lain peninggalan kebudayaan masa lampau yang dapat di jadikan petunjuk awal.
    5. Karena tidak di ketahui bahwa Minanga ada di Komering Ulu Sumatera Selatan maka ia tersisihkan dari obyek penelitian sehingga tidak di temukan benda-benda yang bersifat arkeologis. Benda-benda arkeologis itu hanya di tunggu atau di harapkan untuk di ketemukan secara kebetulan seperti yang kita alami sekarang.

  3. agung arlan… terimakasih atas referensi anda… yang cukup lengkap…. tapi cikal bakal sekala brak kurang memadai… skala bra ini lah yang masih menjadi fokus pembicaraan…. karrena sebagian besar suku2 di sumatera bagian selatan seperti lampung dan komering… memang berasal dari sana. disitu anda tulis bahawa sekala brak mulai menyebar pada tahun 600 M. bagaimana dengan kebudayaan yang sudah lebih dulu eksis dalam bentuk kerajaan tertua di sumatera seperti kata Fa Hien yaitu pengelana cina yang mengataka keberadaan kerajaan TO-Lang P’hwang / Kerajaan tulang bawang di tepi sungai tulang bawang (Propinsi Lampung) pada abad ke 4. nyaris sama dengan kerajaan tertua di indonesia di Kutai. mengingat bahasa Lampung dan Komering identik. budaya dan adat identik. tulisan aksara identik. akibatnya di situs melayu.com ditulis bahwa kerajaan sriwijaya adalah federasi kerajaan Melayu Kuno dan Tulang bawang karena mengingat eksistensi tulang bawang yang sudah mengakar dan lebih dahulu eksis dibanding sriwijaya/palembang. kronologis suatu cerita harus runut dan faktor kesamaan akar budaya melayu proto benar2 identik antara minanga dan kultur masyarakat daerah tulang bawang. memang sulit sekali kita menggali keberadaan tulang bawang sendiri. yang hanya diakui oleh penduduk setempat da kisah dari fa hien yang otentik. tapi setidaknya keberadaan sriwijaya dan tulang bawang yang lebih dulu eksis harus lah ada benang merah… mengabaikan cerita dari Fa hien pada abad ke 4 terkait tulang bawang dengan kemunculan sriwijaya di abad ke 7 di tengah2 kebudayaan melayu proto, agak nya terlalu disayangkan. apalagi jika benar minanga di daerah komering dan kerajaan tulang bawang di lampung adalah suku yang sama secara bahasa, aksara dan budaya bahkan karakter sifat kerasnya.

  4. contoh bahasa yang anda tuliskan, masyarakat suku lampung pun tahu artinya. maka statemen saudara yang mengatakan bahasa sriwijaya adalah bahasa komering cukup aneh. mengingat bahasa sriwijaya itupun dengan mudah saya artikan. jumlah suku lampung dibanding komering juga jauh dari segi jumlah…. tapi jika saudara mengatakan bahasa sriwijaya sebagaimana tercantum dalam prasasti melayu kuno adalah bahasa melayu proto yang menurunkan bahasa lampung dan komering dan ternyata memang suku yang sama, itu baru sesuai. aneh memang. semua suku di propinsi lampung baik pepadun dan pesisir semua sepakat nama sukunya lampung. mereka terikat dgn budaya, bahasa, adat istiadat yang sama. semua bisa sepakat bilang jelma/ulun/jelmo lappung. termasuk suku di kota batu di dekat ranau sumsel. mereka bilang orang lampung. tapi komering kenapa tidak. bahasa, aksara, budaya mirip dan identik…. entah lah. bahkan di orang2 lampung di cikoneng jabar pun tetap mengakui sebagai masyarakat adat lampung. sehingga orang2 yang di sekitar kebudayaan way seputih pun gak bilang orang seputih. yang berasal dari way abung pun gak bilang kami abung. kenapa yang di way komering bilang mereka komering. sekarang kami di Propinsi lampung banyak jurai. ada orang banten, jawa, sunda, padang dan suku dari sumsel. semua sepakat dalam SANG BUMI RUWAI JURAI. arti nya satu tanah untuk banyak suku. hanya untuk renungan…..

  5. Selama ini sejarahwan selalu merujuk pada sejarah yang lurus. bagaimana seandainya sejarah dunia itu terpotong (black hole) dari tahun 1400 M sampai sekitar 315 SM??? Dan selureh events diantara kedua tahun tersebut sebenarnya berada diantara 331 SM sampai 2046 SM?

  6. Yang aku tahu sampai sekarang ini belum ada batasan jelas tentang kerajaan Sriwijaya dan Suwarnabhumi, meski beberapa literatur menyebutkan kalau kerajaan suwarnabhumi merupakan kelanjutan dari kerajaan sriwijaya, jadi tetap saja bisa diartikan jika Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Suwarnabhumi adalah dua kerajaan yang sama. JAdi mengenai lokasi keberadaan kerajaan bisa disimpulkan dari beberapa poin dalam tulisan PROF. DR. Slamet Muljana dalam bukunya “Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi”, hal 226, beliau menulis tentang uraian Chu-fan-chi yang diterjemahkan sebagai berikut:
    Sebagian besar dari rakyat negara Suwarnabhumi menyandang gelar pu. Tembok batu merah sepanjang beberapa puluh li mengelilingi kota. Jika sang prabu keluar, ia naik perahu; badannya dbungkus dengan man-pu; duduk di bawah payung sutra dan dijaga oleh para penjaga yang memegang tombak emas. Rakyatnya diam disekitar kota atau dekai atas rakit yang beratap rumbia. Mereka itu tidak dikenakan pajak. Mereka itu tangkas dalam peperangan baik di darat maupn di laut. Dalam peperangan dengan negara lain, mereka berkumpul. Berapapun keperluannya dipenuhi. Mereka itu sendiri memilih panglima dan pemimpinnya. Semua pengeluaran untuk perbekalan dan persenjataan ditanggung oleh mereka itu masing – masing. Dalam menghadapi lawan dengan risiko mati terbunuh, diantara bangsa – bangsa lain sukar dicari tandingannya.
    dari uraian diatas disimpulkan:
    1). kota sriwijaya merupakan sebuah kota yang tanahnya cukup luas dan rata untuk didirikan tembok yang tinggi dan bukan tanah berbatu yang curam karena tembk tersebut hanya untuk melindungi satu ibukota kerajaan bukan seperti tembok besar cina yang melalui gunung karena mengelilingi satu negara.
    2). Aliran sungai yang menjadi jantung kota karena raja yang keluar masuk pemukiman rakyatnya melalui sungai, sungai yang cukup tenang dan besar sehingga tidak menyulitkan penduduknya yang tinggal diatas rumah rakit beratap rumbia disisi sungai. yang berarti sungai tersebut cukup dalam pula, sehingga saat sungai surut rumah rakit tidak langsung kandas didasar sungai.
    3). Mengenai panggilan “pu” atau gelar “pu” yang disandang sebagian dari rakyatnya bukan hanya milik dari satu suku saja yang diberikan oleh raja melainkan merupakan gelar yang diberikan oleh rakyat karena keahliannya yang dinilai lebih dari orang kebanyakan. gelar “pu” juga dimiliki oleh orang palembang lama. gelar “pu” dalam tradisi palembang lama dimiliki oleh 135 orang panglima yang berada dibawah raja. yang keseluruhannya merupakan orang – orang yang bukan hanya berasal dari sumatera melainkan pulau jawa, kalimantan, melaka bahkan keturunan cina yang mengabdikan diri kepada raja. Mereka tidak hidup dalam sistem kerajaan pada umumnya melainkan rakyat biasa yang kesehariannya hidup sebagai petani dan nelayan atau jenis usaha yang lainnyam bahkan berdagang, mereka hanya tunduk dan menerima perintah dari raja untuk berperang.
    Ada juga keyakinan dari orang palembang lama ( bukan palembang asli, sekedar penambahan masyarakat palembang terbagi atas tiga kelompok yaitu orang palembang lama, orang palembang asli dan orang palembang datangan ), kalau dahulu kala bukit siguntang dapat dilihat dari tepi sungai, seakan menyapa tamu dari luar kerajaan yang datang berkunjung. jadi jika yang dilihat para tamu kerajaan untuk pertama kalinya menginjakan kaki di kerajaan Sriwijaya adalah bukit Siguntang, kenapa mesti ditanyakan lagi dimana keberadaan pusat kerajaan sriwijaya?
    Banyak pencarian dilakukan diberbagai tempat yang lokasinya berada dipedalaman, tapi kenapa tidak terpikir kalau lokasi ibukota kerajaan dahulu dan ibukota yang sekarang adallah tempat yang sama, sama seperti lokasi sekolah agama budha yang bernama sakyakirti yang sekarang masih tetap ada dan dipercaya berdiri dilokasi yang sama. ( ini membutuhkan penelitian yang lebih lanjut pula ).
    sebuah layar kapal dahulu ditemukan di bukit siguntang meski sekarang tidak begitu jelas lagi keberadaannya, yang membuktikan jika dahulu bukit siguntang berada dekat dengan sungai.
    sebagian orang di palembang percaya jika kerajaan sriwijaya berada dibawah kota palembang, yang tidak dapat ditemukan lagi karena dihancurkan oleh penyerbuan kerajaan majapahit yang juga membantai seluruh penduduk sriwijaya dan yang tertinggal hanyalah segelintir penduduk atau keturunan sriwijaya yang berada di tanah jawa dan kalimantan juga melaka, dan sebagian lainnya melarikan diri kepedalaman, membaur dan menikah dengan bajak laut cina yang keturunannya dapat dilacak mulai dari kampung kapitan ditepi sungai musi, sementara keturunan yang kembali dari pulau jawa dapat dilacak di kelurahan 1 ilir.

    Terima kasih.
    – mohon penambahan bahannya serta masukan dan kritiknya atas tulisan ini.

  7. Satu tambahan lagi bisa dilacak dari kebiasaan atau tradisi penduduk sriwijaya yang tinggal dirumah rakit. yang pertanyaannya adalah: ada berapa banyak penduduk atau suku di kepulauan sumatera yang memiliki kebiasaan hidup diatas rumah rakit atau rumah rakit sebagai salah satu rumah adat mereka?
    dalam tradisi orang palembang lama, kebiasaan tinggal dirumah rakit adalah kebiasaan yang dibawa oleh orang cina datangan yang tinggal dan menetap lebih kurang sejak tahun 400 masehi.

  8. Astagfirulloh..!!
    Ternyata semakin terlihat, bahwa orang-orang sumatera selatan, khususnya di Palembang yang sudah membutakan mata “hati”nya dengan sejarah nenek moyangnya sendiri..

  9. sebenarnya sejarah sumatera selatan sangat tua tidak di daerah lain coba tengok mengenai pagaralam dan basemahnya itu ada puyang yang bernama Atung bungsu dia datang ke Sriwijaya tahun 175 masehi sedangkan atung bungsu sendiri anak dari kerajaan RAO dari belaiu inilah banyak tulisan 2 didapat bahkan peninggalan batu2 an yang disdapatdari pegunungan himalaya ada terdapat di pagaralam jadi sriwijaya memang berasal dari bangsa yang bernama basemah karena dari sinilah sriwijaya berasal

  10. ALHAMDULLILAH YAH SESUATU

  11. putra sumsel berkata
    20 November 2013 pada 1:10 am
    RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH ( wilayah gunung dempo, pagar alam, gunung kaba, musi rawas/kubu rawas/ musi ulu/ lubuk linggau, lahat, muara enim, empat lawang, ogan semendo, kaur, rejang, bengkulu. ) ADALAH ASAL USUL SERIWIJAYA DAN DAPUNTAHYANG SERIJAYA NAGA DAN DINASTI SELENDRA BUKAN LAMPUNG/ KOMERING/TULANGBAWANG
    INI ADALAH BANTAHAN TERHADAP PENDAPAT AGUNG ARLAN DAN ORANG LAMPUNG.

    saudara Agung arlan di dalam meneliti sejarah apalagi sejarah agung seriwijaya yang kekuasannya dari afrika sampai nusantara ( termasuk Jawa) dan asia tenggara untuk dapat menarik satu kesimpulan harus berdasarkan 5 pedoman
    1. Harus berdasarkan bukti pisik/ pakta sejarah otentik, baik berupa bangunan, isi prasati/ surat ulu sebagai bukti otentik yang takdapat dibantah
    2. Harus berdasarkan logika. masuk akal tidak
    3. Harus berdasarkan adat, budaya, bahasa, agama. Hal ini sangat penting sebagai dasar utuk mengetahui, siapa yang menaklukkan, siapa yang ditaklukkan, siapa yang mempengaruhi dan siapa yang dipengaruhi.
    4. harus ilmiah dan harus ada kecocokan satu sama lain
    5. harus melibatkan banyak pihak.

    untuk asal seriwijaya, dapuntahyang seri jaya naga, dinasti selendra yang paling mendekati kebenaran adalah berasal dari rumpun suku bangsa pasemah ( wilayah gunung dempo, pagar alam, gunung kaba, musi rawas/ musi ulu/ lubuk linggau, lahat, muara enim, empat lawang, ogan semendo, kaur, rejang, bengkulu. ) dengan bukti sebagai berikut
    1. Berdasarkan bukti pisik/ pakta sejarah otentik baik berupa bangunan, peralatan, isiprasasti surat ulu dll
    a. kuburan raja seriwijaya / leluhur seriwijaya di gunung dempo termasuk ( puyang athung bungsu)
    b. komplek istana raja yang lengkap dengan pemandiannya dan segalanya di bukit mendare pagar alam,
    c. komplek candi terluas di asia tenggara di rimba candi pagar alam,( ma’af lebih luas dari jambi)
    d, situs megalitkum yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan dipagar alam, empat lawang, muara enim ogan ulu
    e. situs ajaran monothisme yang dibawa nabi IBrahim dipagar alam
    f. situs kerajan purba dempu alam, ratusan tahun sebelum masehi di gunung dempo
    g. situs purbakala di gunung dempo berumur ribuan tahun sezaman dengan nabi nuh
    h. situs kerajan purba dewi jaya perbatasan bengkulu dan sumsel
    i. situs kerajan purba trijaya, perbatasa bengkulu- sumsel
    j. situs kerajaan , seri jaya tahun 0- 200M dikisam tinggi semendo
    k. situs kerajaan tua seri buana lahat, tahun 200-500M
    l. situs purba berumur 3000 ( tiga ribu sebelum masehi) di gua harimau ogan ulu
    m. situs batu kapal dibengkulu
    n. kompleks bangunan suci di sekitar uludanau semendo sumsel yang berbatasan dengan bengkulu yang merupakan tempat persembahan leluhur dinasti selendra berupa bhumi shambara, lingga suci, sungai suci yang mengalir dari ulu danau ke muara di samudara hindia laut bengkulu, desa tanjung melake
    o, nama, nama kampung2 tua rumpun suku bangsa pasemah banyak yang memakai kata menanga, sepperti menanga siamang, menanga jaya, menanga taman dll .
    2. Harus berdasarkan logika. (MASUK AKAL TIDAK)

    Tidak masuk akal ditahun 683 masehi komering ulu mempunyai pasukkan tentara dua laksa sebagaimana dalam prasasti kedukan bukit di bukit seguntang plembang. dua laksa itu bahasa sanskerta salaksa artinnya 100.000 ( seratus ribu) dua laksa= 200.000 lihat kamus sanskerta. tidakmungkin tentara sebanyak itu orang komering ulu semua apalagi ranau apalagi sekala berak. apa lagi hanya desa minanga komering ulu tidak mungkin sekup desa bisa menghimpun tentara sebanyak 200.000.

    tidak mungkin dapunthyang serijaya naga dan 200.000 ( dua laksa) tentaranya itu orng komering semua
    harus ada komonitas yang besar dan luas dan telah mempunyai peradaban maju atau kerajaan besar sebelumnya sebagai komonitas penduk pendukung dapuntahyang serijaya naga dan 200.000 pasukkan tentaranya.
    komonitas komering adalah sekalaberak sebagai nenek moyang suku sai batin dan dan suku pepadun sebagai leluhur suku tulang bawang.
    dan tak mungkin dapuntahyang serijaya naga dan 200.000 pasukkannya berasal dari komonitas ini karana komonitas ini ( komring skala berak, tulang bawang berdasarkan seluruh prasasti seriwijaya yang ditemukan didaeah ini menegaskan kalaw ditaklukkan dan dikutuk seriwijaya).
    tidak mungkinlah asal sendiri kihancurkan dan dikutuk. semua orang dengan derah asal itu selalu berciri ciri bangga, setia, hormat, mensucikan, mengagungkan, membela. anda saja membangga banggakan asdal anda..
    dan rindu kampung halaman.
    c. tapi gabungan rumpun sukubangsa pasemah/ besemah ( gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, musi rawas/ musi ulu/ lubuk linggau, lahat, empat lawang, muara enim, ogan, lematang, semendo, kaur, rejang, bengkulu) ditahun 683 M mempunyai pasukkan tentara sebanyak 200.000 berdasarkan peradababn di situ sangat masuk akal.

    d. semua prasasti yang dibuat seriwijaya dan leluhurnya diseluruh wilayah nya baik itu di seluruh sumatra termasuk selurah lampung, nusantara termasuk jawa asia tenggara seri langka, dan malagasi afrika itu menunjukkan menegaskan wilayah itu di taklukkan dan di kutuk serta diancam dengan kutukan kutukan yang menakutkan.
    tapi tidak ada satupu prasasti yang dibuat seriwijaya kalau tempat wilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah itu ditaklukkan dan dikutuk karena apa? saya rasa logika anak SDsaja tau krena derah itu adalah tempat asalnya yang menjadi modal wilayah untuk menaklukkan wilayah lain. untuk apa ditaklukkan lagi karena wilayah pendukungnya serta wilayah aslinya,
    seluruh prasasti seriwijaya di daerah pasemah/ besemah itu selalu menunjukkan, penghormatan, pemujaan terhadap leluhur menggambarkan kemegahan dan kejayaan serta kekuatan dan kesaktian.) seperti komplek istana di bukit mendare, komplek candi terbesar di asia tenggara di rimba candi pagar alam sumsel. komplek bangunan suci, makam athung bungsu/ leluhur selendra di pagar alam.
    dan surat ulu yang ditemukan atung bungsu di palembang yamg ditulis seri nurudin panglima perangnya yang meniggal di muara lematang.yang telah datang lebih awal dari athung bungsu.
    adanya hubungan nama kerajaan serijaya di kisam tingi semendo dengan nama dapuntahyang serijaya

    e. bisajadi ditahun 683 masehi itu palembang dijadikan `pusat seriwijaya oleh dapuntahyang serijaya naga. dengan membawa 200.000 pasukkan tentara yang dari rumpun suku bangsa pasemah/ besemah membentuk komonitas palembang. dam menaklukkan wilayah nusantara dan asia tenggara
    f. karena secara logika hanya kekuatan besar dan kuat yang mampu menaklukkan dan menguasai wilayah nusantara dan asia tenggara bahkan serilangka malagasi afrika. karena dari prasasti prasasti seriwijaya yang ditemukan dipalembang menegaskan dari palembang langsung ke bangka, kalimantan lampung jawa dll.
    dari prasasti bukit seguntang ditegaskan dapuntahyang serijaya nasa membawa dua ratus cara perbekalan jika merujuk dari kata dua laksa 200.000 tentara maka 200 cara itu adalah 200 kapal peti kemas yang khusus membawa perbekalan untuk 200.000 tentara maka sangat masuk akal.
    g. jangan lupa dalam prasasti kedukan bukit itu juga di tegaskan ada 1300 lebih pasukkan yang berjalan menuju palembang melalui jalan darat. tidak mungkin orang lampung yang melakukan serangan bersama dapuntahyang serijaya naga itu karena ditahun 683 M tidak ada jalan darat dari lanmpung kepalembang. mereka pasti menyeberangi sungai sungai yang ada di lampung dan sumsel. sedangkan kelompok rumpun sukubangsa pasemah/ besemah lewat arahmana saja sampai kepalembang lewat jalan darat melalui pinggir sungai yang ada di sumsel tanpa harus menyeberang.
    apalagi klaim malaisia dan india sangat tidak masuk akal kalauu dapuntahyang serijayanaga dan pasukkannya dari sana karena ditahun 683 M itu antara palembang dan malaysia thailan itu sudah terpisah oleh laut. jalan lewat mana pasukkan daunthyang serijaya naga yang melalui darat . tidak ada daratan. apalagi india lebih tidak masukakal lagi.
    begitujuga dengan jawa ditahun 683 M Iitu antara sumatra jawa sudah terpisah oleh laut. dan jelas jelas jawa ditaklukkan sumatera melalui angkatan perang serwijaya. seluruh prasasti kuno dijawa jelas menegaskan itu.
    hampir dapat dipastikan melewati wilayah rumpun sukubangsa pasemah/ besemahlah ( gunung dempo, gunung kaba, musi rawas/ musi ulu/lubuk linggau, lahat, muara enim, empat lawang, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu) lah pasukkan darat dapuntahyang serijaya naga berjalan menuju palembang..

    tidak mungkin dapuntahyang serijaya naga dan pasukkannya yang berjumlah 200.000 itu orang komering. karena dapuntahyang dan 200.000 pasukkannya dan 200 kapal peti perbekalan itu naik perhu. tidak mungkin sungai komering yang dangkal itu mampu membawa kapal kapal besar yg membawa dapuntahyang serijaya naga dan 200.000 pasukkannya. maka hampir dapat dipastikan dapuntahyang dan 200.000 pasukkannya itu berlayar melalui sungai yang lebar dan dalam untuk bisa membawa kapal kapal dapuntahyang serijaya naga dan 200.000 pasukkannya. sungai musilah yang paling lebar dan paling dalam diantara sungai sungai yang ada di sumsel, karena sungai musi adalah induk dari semua sungai yang ada di sumsel. maka hampir dapat dipastikan dari hulu sungai musilah dapuntahyang serijayanaga dan 200.000 (dua laksa) pasukkannya berlayar menuju palembang dan tepat berlabuh di muara sungai upang di tepi sungai musi palembang. dan berdasrkan prasasti kedukan bukit bukit seguntang itu memang disitu dapuntahyang serijaya naga berhenti/berlabuh.
    Dan hulu sungai musi adalah gunung dempo dam musi rawas/ ulu musi.
    kalau dapuntahyang serijaya naga orang komering berlayar melalui sungai komering tidak mungkin akan sampai ke muka upang sungai musi dipalembang. karena sungai komering tidak bermuara di sungai musi. tidak akan sampai kepalembang dapuntahyang serijaya naga dan 200.000 pasukkannya kalaw lewat sungai komering tidak mungkin berlayar dari sungai komering berlabuh di palembang pasti melalui laut selat bangka dan berhenti di di ilir palembang dan berada di sebelah timur palembang. tapi berdasrkan isi petunjuk prasasti bukit seguntang itu dapuntahyang serjaya naga berlabuh di muara sungai upang di sungai musi masuk kab musi banyu asin sebelah barat palembang maka yang paling masuk akal dia berlayar melalui hulu sungai musi.
    tidak mungkin dapuntahyang serijaya naga orang komering apalagi ranau apalagi sekalaberak apalagi lampung berlayar melalui hulusungai musi karena pasti harus melewati wilayah rumpun suku bangsa pasemah untuk bisa dari komering sampai kehulu musi. karena satupun tidak ada jejak budaya, bahasa, tulisan dan lain lain komering apalagi sekala berak, apalagi ranau, apalagi lampung, diwilayah rumpun suku bangsa pasemah ( gunung dempo, gunung kaba pagaralam, musirawas/ulu musi/ lubuk linggau, lahat/lematang, empat lawang, muaraenim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu).

    3. harus berdasarkan adat, budaya bahasa, agama.
    hal ini sangat penting untuk dapat mengetahui siapa yang menaklukkan dan siapa yang ditaklukkan, siapa yang datanng dan siapa yang didatangi, siapa yang mempengaruhi siapa yang dipengaruhi, siapa yang mewarnai siapa yang diwarnai.

    Bahasa rumpun suku bangsa pasemah, besemah adalah bahasa melayu dengan logat dialek e,E,a ( ape, apE, apa) sedangnkan bahasa rumpun suku komering/ lampung adalah dialek api, nyow/ sai batin/ ,komering, pepadun. bandingkan dengan bahasa palembang sebagai tempat yang didatangi oleh dapuntahyang serijaya naga dan 200.000 tentaranya yang sudah pasti memberi warna terhadap bahasa palembang. dan seluruh bahasa melayu yang ada dibelahan dunia wilayah seriwijaya…

    bahasa rumpun suku bangsa pasemah/ besemah pacak lemak nian bahasa palembangnya pacak lemak nian sama persis sedangkan bahasa komering/ lampung pandai bangik becong, bahasa rumpun suku bangsa pasemah/ besemah jangan diambik gale, bahasa palembang jangan diambik galo, komering/ lampung,dang diakuk unyin“sangat jauh beda dengan bahasa palembang. bahasa rumpun suku pasemah naik bahasa palembangnya naik bahasa komering/ lampung cakak jauh berbeda, bahasa rumpun suku pasemah endak kemane pahasa palembang endak kemano, bahasa komering/ lampung haga dipa bagaikan langit dan bumi beda bahasa komring/ lampung dengan bahasa palembang. kalau bahasa palembang itu adalah termasuk bahasa rumpun suku bangsa pasemah/ besemah“karena didatangi oleh dapuntahyang seri jaya naga dan dua laksa 200.000 pasukkannya tentaranya yang membentuk komunitas palembang pada tahun683 M. Oleh karena palembang ditakllukkanjuga ole jawa, bahkan orang jawa mendirikan kesultanan palembang darussalam maka dialek palembang menjadi berjung o. tapi tetap asalnya dari melayu rumpun suku bangsa pasemah. bukan komerimg/ lampung/tulang bawang. coba bandingkan dengan Kayu agung karena dilalui sungai komering, dandidatangi orang menggala bahasa kayu agung hampir sama dengan bahasa lampung/ komering. lihat siapa yang datang pasti akan memberi warna terutama bahasa adat, agama.lihat melayu p banka, kalimantan, jakarta/ betawi, malysia thailan, philipina mindanau mereka semua sama persis bahasa dengan rumpun sukubangsa pasemah/ besemah ( melayu dialek e,E.a) kenapa sama karena pasti ada hubungannya tidak mungkin tau tau sama tanpa ada hubungan seluruh melayu mengatakan ayam adalah ayam sedangkan komering/ lampung Manuk, bagaikan langit dan bumi dengan bahasa palembang bahkan dengan bahasa melayupun berbeda sangat. tidak ada satupun bahasa palembang yang sama dengan bahasa komering apalagi bahasa lampung. tapi dengan kayu agung ia komering, lampung sama. ketika majapahit menyerang palembang yang dipimpin oleh gajah mada. keturunan serrwijaya/ keturunan dapuntahyang serijayanaga yang dipimpin prameswara menyingkir kemalaysia dan hampir dapat dipastikan kelompok rumpun suku bangsa pasemah yang berbahasa melayu ‘e’ yang mengikuti prameswara kemalaysia dan mendirikan kerajaan melake/ malaka sehingga bahasa malaysia hampir sama persis dengan bahasa rumpun suku bangsa pasemah besemah.
    hampir dapat dipastikan tidak ada satupun orang komering/ ranau/ lampung yang mengikuti prameswara kemalaysia. karena satupun tidak ada yang sama bahasa malaysia dengan bahasa komering apalagi ranau apalagi lampung.

    tapi pada masa kesultanan palembang darussalam dari jawa yang mendirikan kesultanan palembang darussalam. orang sumsel yang paling dekat dengan kesultanan ini adalah orang komering dan orang ( OKI/ OGAN KOMERING ILIR)
    sedangkan rumpun suku bangsa pasemah tidak begitu dekat dengan kesultanan jawa ini. karena masih ada dendam sejarah jawa, yang mennghancurkan seriwijaya di palembang dan mengusir prameswara dari palembang. belakangan baru pada masa ratu sinuhun hubungan kesultanan palembang darussalam membaik dengan rumpun suku bangsa pasemah/ besemah( daerah uluan) sumsel setelah kesultanan palembang darussalam menyatakan merdeka dari kesultanan mataram islam jawa dan memproklamirkan kesultanan palembang darussalam adalah kesultanan melayu.
    dan juga dalam prasasti kedukan bukit dibukit seguntang bahasa yang dipakai adalah bahasa sans kerta dan melayu yang sama dengan rumpun suku bangsa pasemah/ besemah diantaranya, nayik, dua ratus, wulan terang, dari,di, dangan, jalan,seribu, suke cite, di, merlepas. banyak sekali itu semua adalah dari bahasa melayu Rumpun Suku Bangsa pasemah/ besemah. sedangkan dari bahasa komering apalagi lampung satupun tidak ada dalam prasasti kedukan bukit itu.

    Dalam pernyataan Agung arlan dari 700 kata diantara prasasti prasasti seriwijaya yang memakai bahasa komering ada sekitar 50. Sedangkan yang menggunakan bahasa Melayu Rumpun Suku Bangsa Pasemah/ besemah lebih dari 400 kata dan itu tidak ada dalam bahasa komering apa lagi lampung. sedangkan diantara 50 kata yang sama dengan bahasa komering itu juga digunakan dalam bahasa rumpun Suku bangsa pasemah/ besemah seperti: talu, puyang, lapik, dll itu bukan orang komering saja yang menggunakannya tetapi rumpun suku bangsa pasemah/ besemah juga menggunakannya. Jangan jangan kelompok ginung siminung/ komering, ranau, sekalaberak/ lampung ini juga berasal dari gunung dempo pagar alam sana. ini harus di teliti lagi dengan bukti, pakta dan kajian ilmiah.
    harus berdasarkan agama.
    Dapunthyang serijaya naga, seriwijaya dinasti selendra dan leluhurnya adah bweragama, budah dan islam. raja seriwijaya padatahun 717-720 M.( PADA ZAMAN KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ ) Dari bani umayyah di damaskus. telah masuk islam hal ini terbukti dengan adanya surat dari raja serwijaya yang tersimpan di damaskus. bahkan jauh sebelum nabi Muhammad situs ajaran menyembah ALLAH ( agama monotheisme ) sudah ada di gunung dempo pagar alam yang di bawa oleh Nabi Ibrahim AS.
    sedangkan Kerajaan skala brak kuno kerajaan tertua lampung adalah hindu. tidak ada hubungannya dengan seriwijaya.

    HARUS BANYAK PIHAK YANG TERLIBAT.
    dalam meneliti sejarah agung sebesar seriwijaya yang mengusai nusantara, asia tenggara, serilangka, malagasi afrika Tidak bisa hanya dari satu pihak saja atau dari satu komunitas saja apalagi hanya komunitas Lampung saja apa lagi ranau, apalagi komering apa lagi sekelas kampung yang bernama minanga komering. alangkah banyaknya kampung- kampung tua rumpun suku bangsa pasemah besemah yang benama menanga, bahkan disumatera utara juga ada bahkan dibugis sulawesi juga ada.

    pihak pihak yang harus dilibatkan adalah
    1. rumpun suku bangsa pasemah/ besemah ( GUNUNG DEMPO, GUNUNG KABA,
    PAGAR ALAM, MUSI RAWAS/ ULU MUSI/ LUBUK LINGGAU, LAHAT, MUARA EN
    NIM, EMPAT LAWANG, SEMENDO, KAUR REJANG BENGKULU. TERMASUK
    RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH YANG MENJADI PENDUDUK ASLI BUKIT
    BARISAN BAGIAN BELAKANG PROPENSI LAMPUNG)
    2. SELURUH WILAYAH SERIWIJAYA TERMASUK SELURUH SUMATERA, NUSAN
    TARA, ASIA TENGGARA TERMASUK MALAYSIA, SERILANGKA, MALAGASI, AF
    RIKA
    3. PEMERINTAH SEBAGAI PIHAK INDEPENDEN ARTINYA TIDAK MEMIHAK
    4. PARA AHLI/ PAKAR BAIK AHLI SEJARAH, ARKEOLAGI, GEOLOGI
    5. PARA MAHASISWA
    6. PIHAK INDEPENDEN DARI LSM
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 22, 2013 at 9:42 pm

    Saya angkat topi dengan jambi yang mengajukan sebagai pusat seriwijaya berdasarkan penemuan komplek candi di muara jambi yang sangat luas konon katanya terluas di asia tenggara. artinya berdasar. tidak seperti agung arlan yang satupun tidak ada bukti. kalau betul komplek candi di muara jambi itu pusat seriwijaya agaknya sulit palembang untuk menjadi pusat seriwijaya lagi dan itu harus diakaui kalau memang benar.
    tapi sebelum menyimpulkan jambi sebagai pusat seriwijaya berdasarkan komplek candi dimuaro jambi itu harus diadu dulu dengan komplek rimba candi dipagar alam, sumsel yang lebih luas dari komplek candi dimuaro jambi.
    candi di rimba candi pagaralam lahat itu dari batu dan candi di muara jambi dari bata. karena kalau pagaralam/ rumpun suku bangsa pasemah/ besemah itu asal seriwijaya, maka akan tetap menjadikan dan bahkan lebih memperkuat lagi posisi palembang sebagai pusat seriwijaya pada tahun 683 M.
    Tapi kalau jambi asal dapunta dan 200.000 ( dua laksa) pasukkannya posisi palembang tidak tepat lagi menjadi pusat seriwijaya. karena walau bagaimanapun juga jamb` menawarkan bukti arkeologis berupa candi yang angat luas sedangkan palembang tidak ada/ belum ada. sebagaimana keterang it-sing di seriwijaya terdapat 1000 pendeta yg sudah hampir pasti komplek candi yang dimiliki sangat luas. dan itu hanya ada di jambi dan pagar alam (sumsel)
    jagan lupa berdasarkan keterangan raja seriwijaya kepada khalifah umar bin abdul aziz ( khalifah bani umayyah ) di damaskus diseriwijaya itu banyak ribuan gajah. dan rajanya adalah berasal dari keturunan raja raja. Atung bungsu adalah leluhur selendra. dan atung bungsu leluhurnya adalah para raja-raja dan merupakan keturunan raja raja dan keturunan alexander the great/ iskandar zulkarnain“`kuburan atung `bungsu berada`di pagar alam. Bagaimana dengan jambi siapa keturunan alexander thegreat yang menjadi leluhur raja jambi??? tapi walau bagai manapunjuga pendapat dari jambi itu harus dihormati karena berdasar dan berbukti tidak seperti agung arlan dan orang lampung. sebaiknya agung arlan dan orang lampung cari dulu bukti mungkin saja belum di temukan. jangan dulu langsung mengklaim. masalah nya adalah seriwijaya itu bukan saja daerah tapi harkat martabat, dan wibawa bangsa dan negara dipertaruhkan disitu“`sebagai bangsa besar, sebagai bangsa penakluk, sebagai bangsa terhormat. yang akan jadi dasar pijakan kita dan anak cucu kita `dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 22, 2013 at 9:54 pm

    agung arlan tentang catatan itsing yang belajar agama budah ke india dan singgah di seriwijaya itu tidak usah dibahas lagi anak SD dah tau semua itu.
    COBA ILMIAH DIKIT BAHASAN WAHAI AGUNG ARLAN.
    yang harus di bahas tentang catatan itsing itu adalah letak serwijaya berdasarkan ciri ciri yang di cerItakan itsing.
    anda mau tau catatan itsing itu mari kita bahas satu persatu
    1. menurut catatan it-sing di seriwijaya terdapat 1000 pendeta budah maka sudah hampir dapat di pastikan diseriwijaya ada komplek candi yang sangat luas.untuk hal ini yang sesuai denga catatan itsing adalah wilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah dan jambi. komering satupun tidak ada candi di situ apa lagi lampung.
    2. menurut itsing di seriwijaya tepat tengah hari tidak ada bayangan. artinya berada di katulis tiwa/ ekquator/ sekitar khatulis tiwa. semakin jauh dar khatulistiwa semakin mustahil jadi pusat seriwijaya palembang saja menurut orang malaisia dan thailan tidak berada dikatulistiwa.
    tetapi palembang itu masih dekat dengan garis khatulistiwa / berada disekitar khatulitiwa pada bulan bulan tertentu dipalembang juga tidak ditemui bayangan pada tengah hari. rtinya dipalembang saja bulan- bulan tertentu tengah hari masih ada bayangan. apalagi komering yang berada jauh dari selatan palembang yang semakin jauh meninggalkan wilayah khatulistiwa apalagi lampung.
    sedangkan wilayah rumpun suku bangsa pasemah yang berada di musi rawas dan bengkulu semakin mendekati garis khatulistiwa/ dan di wilayah itu tengah hari juga tidak ditemukan bayangan walaupun tidak persis dengan garis khatulistiwa tapi sudah hampir dekat sekali dengan khatulis tiwa
    3. diseriwijaya itu ada dua gunug dan ada samudra/ laut maka tau tau agung arlan langsung memponis dua gunung yang dimaksud adalah gunung siminung dan gunung pesagi dan laut yang dimaksud adalah danau ranau
    diwilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah juga ada gunung dempo pagar alam sumsel dan gunung kaba dibengkulu sedangkan laut/ samudra yang dimaksud itsing adalah samudra hindia/ laut bengkulu yang tepat berada di samudra hindia
    4. dan menurut itsing pada waktu itu di daerah sumatra ada kerajaan seriwijaya, melayu, dan tulang bawang sekala berak. kemudian setelah itsing pulang dari india singgah lagi di seriwijaya melayu ( kerajaan jambi tua) dan tulang bawang telah menjadi seriwijaya. artinya kedua kerajaan ini telah ditaklukkan seriwijaya artinya jelas dua kerajaan ini bukanlah asal serwijaya dan di wilayah lampung menurut itsing ada kerajaan kerjaan lain, sedangkan diwilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah ( WILAYAH GUNUNG DEMPO, GUNUNG KABA, PAGAR ALAM, LAHAT, MUSI RAWAS/ ULU MUSI/ LUBUK LINGGAU, MUARA ENIM, EMPAT LAWANG, OGAN, SEMENDO, KAUR, REJANG, BENGKULU). menurut catatan itsing tidak ada kerajaan kenapa???????????? KARENA ITULAH SERIWIJAYA. Carilah dalam catatan itsing diwilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah tidak ada kerajaan lagi karena itulah sesungguhnya seriwijaya.

    SEKARANG KITA LIHAT SURAT RAJA SERIWIJAYA KEPADA KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ KHALIFAH BANI UMAYYAH DI DAMASKUS TAHUN 717-720 di damaskus

    Dari Raja di Raja (Malik al amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang beristeri juga turunan seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayanya ter-dapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu nan harum, bumbu-bumbu n’emangian, pala, dan kapur barus yangsemerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengitimkan kepada Anda hadthb, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda perrahabatan. Dengan seculars bail, saya inggin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.” Ini adalah surat dari Raja Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang baru raja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-¬717M).

    raja seriwijaya itu leluhurnya adalah para raja raja yang nasabnya sampai kepada Alexander the great/ iskandar zulkarnain dari atung bungsu dipagar alam yang kemudian menjadi raja , dwi jaya, trijaya/ serijaya kemudian seri buana kemudian seriwijaya. bagaimana dengan komering. dari mana silsilah raja raja dikomring kerajaan apa saja di komering sebelum seriwijaya abad ke VII itu. bagaimana hubungannya dengan iskandar zulkarnain.
    kandang binatangnya ada1000 gajah wilayah sumatra yang paling banyak gajah adalah bukit barisan antara bengkulu dan sumsel yang didiami rumpun suku bangsa pasemah besemah
    adapun pusat pelatihan gajah di way kambas itu zaman seriwijaya belum ada. dan gajah gajah di waykambas lampung itu berasal dari bukit barisan. berarti di pusat seriwijaya itu mengalir dua sungai. banyak sekali wilayah2 rumpun suku bangsa pasemah yang dilalui ole dua sungai rata rata wilayah rumpun suku bangsa pasemah dan kota kotanya dilalui oeh dua sungai. bagaimana dengan minanga komering dan sekala berak.
    dan semua ciri yang ditulis raja seriwijaya itu ada semua diwilayah rumpun sukubangsa pasemah/ besemah. ( WILAYAH GUNUNG DEMPO, GUNUNG KABA, PAGAR ALAM, LAHAT, MUSI RAWAS/ ULU MUSI/ LUBUK LINGGAU, MUARA ENIM, EMPAT LAWANG, OGAN, SEMENDO, KAUR, REJANG, BENGKULU). sedang komering/ lampung tidak ada. kapur barus saja tidak ada dikomering apa lagi yang lain..
    dan rumpun suku bangsa pasemah tidak pernah mengatakan pasti. paling hampir dapat dipastikan besdasarkan bukti pakta sejarah dan logika budaya adat bahasa agama, dan berdasarkan penelitian2 ilmiah seminar, dan telah melibatkan banyak pihak termasuk seri sultan hamengku bowono raja jawa itu mengatakan dengan tegas ketika kepagar alam mengatakan pulang kampung. silahkan kemukakan pendapat lain tapi harus berdasar ada bukti dan masuk akal. tidak seperti agung arlan yang seolah olah telah memastikan bahwa ibukota seriwijaya dan dapuntahyang serijaya naga adalah orang minanga komering dan lampung.dengan bukti satupun tidak ada. baik bukti pisik, logika, adat, budaya, bahasa ilmiah dan tidak melibatkan pihak lain.
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 23, 2013 at 5:14 am

    Saudara Agung arlan jangan main- main bicara tentang seriwijaya harkat martabat wibawa dan harga diri bangsa dan negara dipertaruhkan. sebagai bangsa negara yang menaklukkan atau yang ditaklukkan.
    kalau tidak ada bukti pisik pakta otentik, tidak masuk akal dan tidak ada hubungan dengan bahasa, budaya, agama melayu, tidak ilmiah dan tidak melibatkan banyak pihak sebaiknya tidak usah bicara.
    sebab malaysia, thailan, mianmar, india, kamboja, laos petnam merka juga punya banyak bukti dan logika dan kajian merka ilmiah, akan semakin mudah mereka menjadikan negara mereka sebagai pusat dan asal usul seriwijaya.
    kita jangan dulu alergi dengan merka. mereka punya bukti dan logika dan penelitian ilmiah secara besar besaran. bahaya kalau karangan agung arlan ini yang sama sekali tidak ada bukti di ketahui oleh negara lain. akan jadi bahan tertawaan mereka saja dan akan semakin merendahkan indonesia saja. mereka banyak candi seperti thailan, kamboja, laos pitnam , india, sedangkan seriwijaya itu pusat agama budah mustahl tidak memiliki candi atau bekas reruntuhan candi. dan komplek candi haruslah luas dan megah. dan itu sangat jelas hingga kini di thailan, kamboja pitnam laos india. dikomering/ lampung satupun tidak ada candi
    malaisa punya bahasa melayu yang hampir sama dengan seluruh melayu di kawasan asia tenggara sedangkan bahasa komering apalagi lampung satupun wilayah melayu tidak ada yang sama apalagi yang menggunakannya. india dengan agama budah dan bahasa sanskertanya. komering/ lampung apa yang punya apa lagi sekala berak. dan prasasti ligor itu menegaskan menjadi pelabuhan bandar seriwijaya. dan disana ditemukan patung balaputra dewa. dan negara merka lebih dekat dengan garis khatulistiwa tidak ada bayangan pada tengah hari. dapat dibayangkan jika diadu dengan komering atau lampung. babak belur indonesia jadi bulan bulanan merka yang sangat jauh dari khatulistiwa. negara mereka tepat berada di lautan sedang komering jauh dari laut apalagi minanga
    thailan sedari zaman seriwijaya sudah punya ribuan gajah sedang kan komering tidak ada dan gajah di waykambas lampung zaman belanda saja belum ada apalagi zaman serwijaya. thailan pun ada nama minangatamwan.
    kita jangan alergi dulu denga merka atau marah dengan mereka lihat dulu merka. lalu bandingkan dengan kita dan logika kita kalau tidak ada yang dapat dibandingkan apa alasan indonesia mengatakan seriwijaya adalah indonesia.
    orang orang seperti agung arlan inilah yang merusak yang asal bicara. negara negara asing akan dengan mudah mengatakan dengan logika, pasukkan darat dapuntahyang serijaya naga itu bisa saja lewat laut dulu setelah sampai ke sumatra mereka baru berjalan lewat darat. komering/ lampung saja tidak ada jalan darat ditahun 683 M itu bisa mengakuku asal seriwijaya dan dapuntahyang serijaya naga, yang melakukan serangan lewat darat berjalan lewat darat. mau ngomong apa indonesia. karena dengan pernyataan agung arlan itu terbuka logika mereka.
    tapi jika dengan rumpun suku bangsa pasemah/ besemah ( GUNUNG DEMPO, GUNUNG KABA, PAGAR ALAM, LAHAT, MUSI RAWAS/ ULU MUSI/ LUBUK LINGGAU, EMPAT LAWANG, MUARA ENIM, OGAN, SEMENDO, KAUR, REJANG, BENGKULU) yang lewat arah mana saja bisa kepalembang melalui darat dengan menelusuri sungai sungai di sumsel tanpa harus menyeberang sungai, mati kutu negara negara asing itu.
    dan komunitas penduduk mereka ditahun 683 M sangat masuk akal punya tentara sebanyak dua laksa ( 200.000 ) sedang komering tidak mausuk akal tahun 683 M punya pasukkan tentara sebanyak itu.
    sekarang thailan punya bandar udara internasional swarna dwipa. kenapa jangan marah dulu orang2 orang seperti agung arlan inilah yang jadi perusak yang asal bicara saja tanpa ada bukti sedikitpun dan sama sekali tidak masuk akal sangat jauh dari logika akal sehat. bahasa komering apalagi lampung sangat jauh dengan bahasa asia tenggara. akan dengan mudah dipatahkan malaysia dan thailan.
    asal usul kerajaan dikomeringpun tidak jelas sedangkan negara negara asing sangat jelas.
    Berdasarkan catatan it-tsing yang menceritakan l
    etak seriwijaya itu maka syarat yang memenuhi sebagai wilayah inti seriwijaya adalah sbb
    1. harus memiliki bangunan candi yang sangat luas
    2. Harus berada di sekitar khatulis tiwa
    3. harus memiliki dua gunung tinggi minimal
    4 harus memiliki samudra/ lautan luas
    5 harus wilayah seriwijaya itu tidak pernah di sebut sebut dan di ceritakan sebagai wilayah lain karena wilayah itulah seriwijaya.
    6. harus mempunyai peradaban budhah
    7. harus sudah mempunyai peradaban maju.
    8. wilayah itu tidak pernah ditaklukkan
    9. wilayah itu haarus dihormati dan di sucikan bukan dikutuk dan dihancurkan.
    Sedangkan syarat wilayah inti seriwijaya berdasarkan surat raja seriwijaya kepada khalifah umar bin adul aziz dari dinasti umayyah, di damaskus adalah
    1. keturunan raja raja artinya leluhur mereka adalah para raja- raja
    2. harus mempunyai 1000 gajah/ banyak gajah
    3. Harus memiliki emas/ tambang emas
    4. harus memiliki kapur barus
    5. harus mempunyai peradaban islam juga walau sedikit
    6. harus dilalui dua sungai.

    DAN SEMUA ITU HANYA ADA DI RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH
    ( GUNUNG DEMPO, GUNUNG KABA, PAGAR ALAM, LAHAT, MUSI RAWAS/ ULU MUSI/ LUBUK LINGGAU, EMPAT LAWANG, MUARA ENIM, OGAN, SEMENDO, KAUR, REJANG, BENGKULU).

    Kalau yang lain punya pendapat lain silahkan saja dan itu tetap harus kita hormati
    tapi harus berbukti, masuk akal, berdasarkan budaya bahasa agama, melibatkan banyak pihak, dan ilmiah. tidak seperti agung arlan asal bicara saja.
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 25, 2013 at 12:59 pm

    putra sumsel permalink
    November 25, 2013

    RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH TERMASUK KUBU MENDIAMI WILAYAH PESEMAH AIR KERUH DAN MUSI RAWAS ADALAH MELAYU PROTO ADALAH YANG PALING TUA DI SUMSEL BUKAN LAMPUNG APA LAGI KOMRING.

    KATA ORANG LAMPUNG DAN AGUNG ARLAN MELAYU TUA/ MELAYU PROTO ADALAH LAMPUNG. DAN SUKU PALING TUA DI SUMBAGSEL ADALAH LAMPUNG DAN KOMERING
    Ini sama sekali tidak ada bukti tidak masuk akal tidak ilmiah, ini hanyalalah pendapat orang orang gila hormat, gila pangkat dan gila gila gila.
    BUKTI RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH YANG TERMASUK ORANG KUBU ADALAH MELAYU TERTUA B AHKAN DISUMATRA
    1. DITEMUKANNYA SITUS PERADABAN MANUSIA DARI YANG PALING TUA dari zaman batu uta (paleolithikum/ kebudayaan pacitaan/ budaya kapak batu SAMPAI ZAMAN SERIWIJAYA di wilayah rumpun suku bangsa pasemah/ besemah yang termasuk di dalamnya orang kubu ( kubu rawas/ kubu yang masih liar dan alami)
    sedangkan dilampung paling tua adalah suku tumi kebuyaannya hanya megalithikum yang termasuk baru itupun banyak berada diwilayah rumpun suku bangsa pasemah seperti di sumber jaya. dikebun tebu, batu bedil, ulu belu pulau panggung dll. sedangkan di komering satupun tidak ada dari mana datang datang mengaku orang lampung paling tua. dasar gila hormat dan gila wibawa.
    dibenua atlantis ada ada peradaban 3 gunung yang paling tua yaitu 1. gunung dempo sumsel, 2. gunung danau toba sumut, 3 gunung krakatau /gunung sunda land. jawa barat/ banten

    bukti yang ke 3 rumpun sukubangsa pasemah/ besemah termasuk kubu adalah yang paling tua disumatra ada 3 peradaban gunung sebagai peradaban suku tertua yaitu antara gunung dempo sumsel dan gunung kerinci jambi yaitu rumpun suku bangsa pasemah/ besemah yang termasuk didalamnya orang kubu. peradaban ke dua adalah antara gunung kerinci jambi dan gunung merapi sumbar yaitu suku kerinci dan orang merpi yang ketiga adalah antara gunung merapi sumbar dan gunnug danau toba sumut yaitu suku batak dan suku sakai. mana lampung gak ada apa lagi komering.
    Reply
    putra sumsel permalink
    November 25, 2013

    orang lampung dan orang komering dan agung arlan anda telah membangunkan singa dari tidur panjangnya rumpun suku bngsa pasemamah/ besemah ( GUNUNG DEMPO, GUNUNG KABA, PAGAR ALAM, LAHAT MUSI RAWAS TERMASUK KUBU RAWAS ASLI KUBU YANG MASIH LIAR DAN GANAS, LAHAT, MUARA ENIM EMPAT LAWANG OGAN, SEMENDO, KAUR, REJANG, BENGKULU )
    lampung apalagi komering itu anak kemaren sore gak usah ngaku ngaku paling tua paling hebat. mau kena kutuk lagi seperti zaman serwijaya dulu. orang lampung menghadapi orang bali saja tidak sanggup. siapa yang membantu lampung mengalahkan bali di lampung selatan itu tiu kelompok rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. kalau lampung sendiri mana mungkin mau menang perang lawan bali di daerah lampung selatan tu. Mau kena bantai lagi dengan orang bali eperti yang di menggala. perang dengan belanda paling panjang di negara ini adalah perang aceh dan perang pasemah. siapa yang menyerang pasukkan inggris dibengkulu zaman rafles orang pasemah. mana punya nyali orang lampung apa lagi komring menyerang benteng inggris di bengkulu. orang orang rumpun suku bangsa pasemah tidak pernah mau tunduk dengan belanda. tidak seperti komering bermuka dua.`dan rumpun suku bangsa pasemah itu ada di sumsel adalah kelompok masyarakat mayoritas 50 persen lebih orang komering di sumsel hanya 5 persen kurang. dilampung mayoritas kedua setelah jawa dibengkulu dijambi, di bangka belitung.
    jangan lagi pilih orang komering lampung sebagai gubernur atau bupati atau caleg. bangkitlah wahai rumpun suku bangsa pasemah/ besemah wahai melayu dialek e, E, A. bangkit jangan mau diinjak injak harga diri apa lagi oleh orang komering atau lampung. jangan pernah pilih ABURIZAL BAKRI dia adalah `orang lampung.
    wahai putra putri sumsel seluruh wilayah gunung dempo, gunung kaba, seluruh lahat selur
    uh sungai musi dari hulu sampai laut“““` termasuk musi banyu asin, pagaralam seluruh muara enim seluruh empat lawang seluruh semendo baik itu darat atau lembak seluruh ogan dari hulu sungai ogan sampau muara ogan kertapati, palembang kaur rejang seluruh bengkulu.
    bangkit bangkit bangkit.
    bangun, bangun, bangun.
    ““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““
    Reply
    putra sumsel permalink
    November 25, 2013

    bajak laut yang terkenal dan ditakuti di sekayu musi banyu asin itu sama sekali bukan orang komering atau lampung atu cina tapi asli pri bumi Musi Banyu Asin.
    Sedangkan bajak laut kayu agung bukan hanya orang komering tetapi gabungan dari keturunan bajak laut cina, ogan ilir, dan komering ilir dan menggala. kayu agung juga dilalui sungai ogan
    Raden intan yang melawan belanda di lampung selatan itu adalah keturunan raja banten pantas dia berani lawan belanda. mana ada asli orang lampung. gak usah merasa paling hebat komering dan lampung.
    Reply
    putra sumsel permalink
    November 25, 2013

    DENGAR BAIK BAIK HAI ORANG KOMERING DAN LAMPUNG KAMU JUGA AGUNG ARLAN. TIDAK USAH MERASA PALING HEBAT, PALING TERHORMAT, PALING TUA, PALING GAGAH, PALING SEGALA GALANYA. DIATAS GUNUNG MASIH ADA GUNUNG DIATAS GUNUNG MASIH ADA LANGIT, DIATAS LANGIT ADA LANGIT.
    HANYA ALLAH TUHAN YANG MAHA ESA YANG MAHA SEGALA GAL ANYA YANG PALING HEBAT YANG PALING DULU, YANG PALING GAGAH, YANG PALING MULIA.
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 29, 2013 at 7:52 pm

    kenapa semua yang berhubungan dengan rumpun suku bangsa pasemah/ besemah `sesuatu yang telah jelasdibuat tidak jelas, dibuat samar- samar, dibuat kabur kemudian di acak acak semua orang usil, mengusik, kemudian masing- masing semua pihak lain mengklaim, mengaku ngakui sebagai kepunyaannya sebagai miliknya.
    sedangkan sesuatu yang ada pada rumpun suku bangsa yang lain tidak ada yang jelas tapi dibuat-buat agar jelas dan tidak ada yang usil. berdasarkanbanyak bukti baik pisik prasasti, logika, ilmiah sudah begitu banyak pihak yang terlibat. jelas bahwa rumpun suku bangsa pasemah/ besemah adalah asal dari seriwijaya, dinasti selendra, dapuntahyang serijaya naga. tapi di buat buat agar tidak jelas.
    semua orang mengaku,,, komering, sekala berak, lampung, jambi, jawa, sumatra barat, riau, malaisia thailan` sedangkan seluruh kerajaan di nusantara ini tempo dulu tidak ada yang jelas tapi dibuat-buat agar jelas, contoh kerajaan tulang bawang letak pastinya tidak ada yang tau dimana siapa pendirinya`tapi kenapa gak ada yang usil, majapahit gak jelas sekarang dimana letaknya gak ada yang usil, ken arok asal usulnya gak jelas tapi dibuat-buat agar jelas. bisa saja ken arok itu adalah orang dari rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. karena dijawa banyak keturunan raja raja dari rumpun suku bangsa pasemah/ besemah (seriwijaya/ selendra) begitu juga gajah mada gak jelas darimana asalnya. bisa saja dia orang dayak/ bugis, sumatra.
    karena dari bentuk wajahnya berdasarkan patung patungnya gak ada potongan muka orang jawa. tapi mirip potongan muka- muka orang dayak.
    sedangkan puyang atung bungsu jelas jelas dia tinggal dan berkubur di pagar alam yang masuk dalam rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. dan beliau adalah putra mahkota kerajaan kushan di india yang leluhurnya adalah raja alexander the great ( iskandar zulkarnain)
    jelas jelas yang dimaksud` besemah menurut puyang atung bungsu itu adalah semuatera sungai yang telah ditimbangnya yang ber ikan semah`adalah wilayah besemah,seluruh batanghari sembilan termasuk sungai ogan dan sungai komering karena pasti ada ikan semahnya.
    atung bungsu itu orang cerdas bukan orang bodoh putra mahkota kerajaan kushans di india yang masih keturunan alexander the great tokoh sang penakluk dunia yang wilayahnya meliputi eropa afrika dan asia. itu sangat jelas. tapi dibuat buat agar tidak jelas dikatakan yng dimaksud atung bungsu besemah itu adalah sungai yang tempat istrinya mencuci beras itu saja. alangkah bodoh dan sempitnya pemikiran atung bungsu kalau begitu. kemudian dikatakan atung bungsu itu adalah anak bungsu. sebab di jadikan putra mahkota karena dia adalah yang paling tua.

    dan untuk lebih membingungkan lagi agar tidak jelas dikatakan atung bungsu adalah anak bungsu raja majapahit yang bernama ratu sinuhun kemudian bersama kakak perempuannya pergi ke bukit seguntang palembang, kemudian kakak perempuannya atung bungsu ini menjadi sultanah ( ratu/ raja perempuan) di palembang yakni kesultanan palembang darussalam. kemudian sang adik si atung bungsu menjadi penguasa pasemah, besemah. jadi sudah menjadi hukum adat pasemah besemah kalau setiap tahunnya menengok kakak perempuannya di palembang dengan membawa barang barang bawaan sebagai oleh- oleh. dan dikatakan dalam adat pasemah/besemah adik laki laki ibu di sebut sebagai meraje. dan harus sangat dihormati. ketika orang2 pasemah/ besemah datang menghantarkan barang bawaan ke palembang pihak kesultanan sangat menghormati orang2 pasemah/.
    hal ini sebenarnya jelas akal akalan kesultanan palembang darussalam untuk menaklukkan pasemah/ besemah tanpa harus bertempur/ perang. karena apapun nama dan bentuknya kewajiban datang orang pasemah/ besemah ini sama dengan membayar upeti dan sebagai tanda takluk tanpa di sadari oleh rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. hebatkan politik kesultanan jawa ini. Karena dalam sejarah majapahit tidk ada satupun raja/ ratu perempuan yang bernama ratu sinuhun. dan silsilah 7 /6 orang anak raja itu tidak ada dalam sejarah majapahit. ratu sinuhun itu adalah raja/ ratu perempuan kesultanan palembang darussalam. jadi jelas ini adalah hanya akal akalan bagian dari strategi dan taktik untuk memenangkan peperananngan tanpa berperang dar kesultanan palembang darussalam saja. tapi akibatnya existensi/ keberadaan orang rumpun suku bangsa pasemah/ besemah menjadi tidak jelas.`karena siapapunakan berpikir 1000 kali untuk langsung menyerang dan berperang terbuka dengan rumpun suku bangsa pasemah ini. sebagai pendiri dan asal seriwijaya, daountahyang serijaya naga, dinasti selendra. disitu ada gunung dempo ada orang kubu ada orang rejang, kaur, semendo dll. gajah mada saja tidak mau masuk ke wilayah ini. inggris saja pimpinan raples tidak mau menyerang secara langsung dan terbuka melain kan dengan strategi pecah, belah, pisah, beda, jauh, lemahkan.“begitu juga dengan belanda.`sekarang orang komering, lampung dan jawa juga mengikuti strategi belanda dan inggris. untuk melemahkan rumpun suku bangsa pasemah, besemah ini pecahkan dar rumpunnya, belahkan dari rumpunnya, pisahkan pecahan- pecahannya itu, bedakan satu sama lain antara pecah- pecahannya itu dan jauhkan. lemahkan semangat nya, lemahkan sosial budayanya, lemahkan pengaruhnya dipertidak keberadaannya, dibuat tidak jelas asal usul/ jatidirinya. maka dengan sendirinya tidak akan memiliki kekuatan lagi dalam segala hal baik secara politik, sosial, budaya, militer/pisik, pengaruh dan peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. kemudian puyang sipahit lidah, puyang mata empat, sserunting sakti, rakihan sakti jelas jelas mereka itu adalah leluhur rumpun suku bangsa pasemah/ besemah tapi dibuat agar tidak jelas. dengan mengatakan mereka itu adalah orang komering lah, orang ranaulah, orang lampung baratlah orang liwalah orang bantenlah orang jawa lah. sehingga menjadi tidak jelas lagi siapa dan darimana puyang sipahit lidah, simate empat, serunting sakti, rakihan sakti. surat ulu jelas jelas surat ulu itu dari rumpun suku bangsa pasemah, besemah semua derah uluan batang hari sembilan dan bengkulu) , mereka semua menyebut dengan nama surat ulu jambi, lampung/ komering langsung mengklem hanya mereka saja yang punya aksara di indonesia ini bersama jawa dan batak. padahal semua wilayah uluan batang hari sembilan dan bengkulu / rumpun suku bangsa pasemah punya juga urat ulu ka ga nga atas dasar apa lampung mengatakan hanya lampung yang punya tulisan aksara
    di OKI / kayu agung mereka namakan dan pakai khat ogan yang vokalnya berujung e menjadi ke ge nge sama persis dengan rumpun suku bangsa pasemah/ besemah yang lainnya termasuk bengkulu. lampung punya aksara juga silah silahkan aja tapi jangan pernah mengatakan hanya lampung yang punya/ lampung yang pertama/ paling tua.atau mengatakan yang lain lain itu menjiplak aksara lampung. OKI kayu Agung saja marah karena menurut mereka khat ogan yang mereka pakai itu yang asli dan lampung menjiplak khat ogan. apalagi rumpun suku bangsa pasemah/ besemah“ yang lain termasuk yang dibengkulu. jelas jelas nenek moyang orang lampung itu dari rumpunsuku bangsa pasemah/ besemah juga. kenapa orang lampung malah mengaku nenek moyang merka orang batak. Batak itu di sumatra utara alangkah jauhnya dengan lampung sedangkan rumpun suku bangsa pasemah/ besemah berada di sumsel semenjak sedari dulu.
    jauh sebelum melayu proto datang wilayah orang2 rumpun suku bangsa pasemah/ besemah sudah ada. sejak zaman purba zaman batu paling tua/paleolithikum/ kebudayaan kapak batu yang sama dengan kebudayaan pacitan kebudayan gua purba seperti gua harimau dan gua putri di ogan ulu, yakni hidup di zaman neo lithikum. kalau megalithikum itu termasuk baru. dan pusat peradaban megalithikum di asia tenggara ini berada di pagar alam. sedangkan pusat palleolithikum berada di pacitan.
    putra sumsel 29 November 2013 pada 03:07

    begitu juga dengan `kantoli/kandali/ kuntala. jelas jelas semua berta dari negeri cina mengatakan kantoli itu adalah asal seriwijaya. karena menurut catatan2 merka seriwijaya itu dulunya bernama kantoli dan letaknya di sumatera selatan s`eda`ngkan dilampung pada waktu itu ada kerajaan `s“ekala `berak `dan “tulang `bawang di jambi ada kerajaan koying dan melayu tua dimana lagi letaknya kerajaan kantoli kalau` bukan berada di wilayah rumpun su`ku `bangsa ““pasemah/ `besemah. karena wilayah ini tidak di sebut sebut. yang di sebut hanya kantoli. ya inilah kantoli wilay`ah rum[un suku bangsa “pasemah/besemah. ( sumsel) masa lampung ada kerajaan di jambi ada kerajaan sedangkan sumsel tidak ada sama sekali. sedangkan atung bungsu dan 7 armda kapalnya menetap di rumpunsuku bangsa pasemah / sumsel dan bengkulu. kalau kantoli itu dilampung lantas tulang bawang dan sekala berak dimana. begitu juga jambi, kalau kantoli dijambi makakoying dan moloyo dimana katanya dijambi itu sezaman dengan kantoli. masa wilayah sumsel gak ada kerajaan. tidak masuk akal.
    sangat jelas itu karena kantoli pada waktu itu telah `melaku`kan hubungan dagang dengan cina dan di daerah pagar alam banyak ditemukan patung2 “dan keramik keramik cina pada abad itu ata sekit`a t`ahun` itu`tapi dibuat tidak jelas dengan mengatakan kantoli/ kandali adalah kenali di lampung, ada yang mengatakan kantoli itu adalah kendari di riau ada` pula yang mengatakan kantoli/ kandali adalah kendal jawa.“`ada juga mengatakan dari jambi““
    bahkan sekarang ini bangsa korea edang meneliti dan ingin membuktikan bahwa bangsa korea nenek moyangnya berasal dari rumpun suku bangsa pasemah/ beemah. karena bangsa korea sendiri yang neng klaim meraka berasal dari rumpun uku bangsa pasemah/ besemah di pagar alam.
    lihat itu jika sudah jelas nanti pasti dibut tidak jelas juga oleh orng komering, lampung, jambi, jawa dll.
    ““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““““`
    putra sumsel 29 November 2013 pada 05:25

    Kalau seh nur kodim atau puyang awak yang datang ke semendo dari banten dan merupakan cucu sunan gunug jati yang masih keturunan prabu sili wangi. orang yang paling sakti dijawa barat itu memang benar dan orang semendo sangat menghormati puyang awak seh nurkodim sebagai leluhur semendo dan sebagai peletak adat semendo yang berfilsafah islam tingkat tinggi yang diajarkan sekh ini. dan orang semendo sangat mengkultuskan seh ini. tetapi orang semendo bukan berasal dari se ini. karena seh ini datang kesemendo sudah ada orang semendo. dan seh ini menikah dengan orang semendo artinya orang semendo sudah ada sebelum seh ini. tepi kalau orang semendo ada yang keturunan seh ini memang benar.
    dan seh ini mengajarkan ahlak islami. krena orang semendo pada waktu itu sebagian besar sudah beragama silam tetapi ahlaknya masih sangat bejat dan jahiliyah. bahkan seh ini sangat disayangi oleh masyarakat semendo khususnya, karena kemulyaan hatinya. yang mengajarkan cinta kasih sesama bahkan terhadap hewan sekalipun. semut mau menyeberang sungai saja di buatkan jembatan dari kayu oleh seh ini untuk membantu semut agar bisa menyeberang ke seberang.
    Balas
    putra sumsel berkata:
    Komentar Anda menunggu moderasi
    November 30, 2013 pada 2:36 am

    Ogan yang juga termasuk rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. karena bahasa rumpun melayu e. dan sungai ogan itu daru hulu sampai ilir dan muaranya di kertapati palembang itu pasti ada ikan semahnya. dan sungai ogan itu juga telah ditimbang oleh puyang atung bungsu
    ogan dan semendo mau dipisahkan dan dibedakan dengan rumpun suku bangsa besemah yang lain tujuannya untuk melemahkan dan mempertidak keberadaannya.
    saya sebagai orang sumsel sangat sangat tersinggung batu raja itu berasal dari bantu raja. yang membantu raja dalam peperangan. lama kelamaan kata bantu raja berubah menjadi batu raja.
    hampir dapat dipastikan ini adalah kerjaan orang komering, lampung dan jawa untuk mempertidak dan menghilangkan keberadaan orang ogan. seolah olah bantu raja adalah orang ogan yang hanya bisa jadi pembantu raja sedangkan rajanya orang komering atu lampung atau jawa. enak saja asal bicara.
    lebih tua ogan dari komering. ogan dulu baru komering. tulisan aksara lampung dan komering itu menjiplak khat ugan.
    MAU BUKTI YANG NYATA TEMUAN POSIL MANUSIA PURBA ZAMAN NEOLITHIKUM DAN KAPAK BATU ZAMAN PALEOLITHIKUM DI GUA PUTRI DAN GUA HARIMAU ITU DI OGAN BUKAN DI KOMERING ATAU LAMPUNG.
    BATU RAJA ITU BUKAN DARI BANTU RAJA TETAPI RAJA YANG MENJADI BATU, ARTINYA RAJA BUKAN PEMBANTU. JANGAN ASAL NGOMONG SAJA.
    ORANG SUMBAGSEL YANG PERTAMA JADI, KSAD ( KEPALA SETAP ANGKATAN DARAT/ PANGLIMA ANGKATAN DARAT ADALAH JENDRAL MAKMUN MURAT ORANG BATU RAJA ORANG OGAN.)
    Bukan orang komering martapura saja yang ganas dan dan berani. orang ogan dikatakan penakut semua. muara saung dan muara saE dan ogan ulu itu lebih ganas lagi.
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 30, 2013 at 6:59 am

    SEMENDE/ SEMENDO Adalah melayu termasuk dalam rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) suku bangsa ini termasuk melayu tua bahkan paling tua. dengan bukti di temukannya peradaban purba mulai dar zaman paleolithikum/ zaman batu tua/ kebudayaan pacitan/ kapak batu- zaman seriwijaya ada diwilayah ini. segudang bukti jelas menunjukkan bahwa seriwijaya, dapuntahyang serijaya naga, dinasti selendra berasal dari rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.). semendo adalah termasuk runpun suku bangsa ini. perang pasemah dengan belanda adalah perang yang sangat panjang berlangsung 50 tahun lebih panjang dari perang aceh selama 30 tahun. memang perlawanan rakyat aceh terus sampai jepang datang. sama dengan perlawanan pasemah sampai jepang datang masih tetap melakukan perlawanan pisik dengan belanda. sehingga belanda menggunakan strategi pecah belah pisah bedakan jauhkan sehingga tidak lagi mempunyai kekutan dalam segala hal baik politik, sosial, budaya, pengaruh, dan pisik. sehingga dengan mudah dan dengan sendirinya perlawanan rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) hancur dan dapat dikalahkan belanda. dapat dibayangkan jika rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) ini bersatu akan membuat kekuatan raksasa yang sangat dahsyat yang dapat mengguncang dunia sebagaimana kerajaan seriwijaya dulu. teapi kalau sudah di pecah pecah menjadi ribuan maka hancurlah kekuatan itu yang ada hanyalah lemah dalam segala hal baik lemah secara politik, sosial, budaya, pisik, bagaimana tidak rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) dipecah menjadi semendo, lahat gumay, kikim, lematang, kaur, rejang, padang guci, mana, kisam, bayur dll yang jumlahnya menjadi ribuan suku. sehingga tidak ada sama sekali kekuatan baik politik, sosial, budaya, pisik dll. dan masing masing pecahan merasa paling hebat dan paling berpengaruh dan akhirnya saling menjatuhkan. dan pengaruh serta peran rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) diperkecil untuk melemahkan semangat. sehingga kesan yang dimunculkan adalah primitip, keterbelakangan, yang tidak ada arti dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. itu dilakukan oleh belanda dan musuh musuh seriwijaya. orang komering dan lampung juga mengikuti jejak belanda untuk memecah belah pisahkan bedakan jauhkan rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.)
    disumsel rumpun suku bangsa pasemah ini adalah mayoritas 50 persen lebih
    dilampung orang semendo saja lebih banyak daripada orang lampung
    saya sebagai orang sumsel sangat tersinggung membaca artikel-artikel yang sangat mendiskerditkan semendo dikatakan hanya di kecamatan semendo saja asalnya artinya di tempat lain semendo di gambarkan sebagai pendatang baru bukan peribumi hanya numpaang
    semendo hanya berjumlah 105.000, semendo adalah melayu deuotro/ melayu muda, semendo masuk ke pedalaman muara enim karena diserang seriwijaya, semendo dari banten, semendo baru ada tahun1600 san. itu semua untuk melemahkan semangat semendo bahwa semendo itu kecil, lemah, sedikit tidak ada arti. selalu digambarkan 100 persen bermata pencarian menggantungkan hidup dari kebun kopi yang masih primitip. masya Allah alangkah liciknya merka. antara ogan dan semendo dipisahkan jauh, antara semendo dan palembang dipisahkan jauh oleh mereka mereka yang tidak senang dengan rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) sebagai asal dan pendiri kerajaan seriwijaya. mereka takut kalau komunitas ini bangkit lagi. yang dapat menguasai kehidupan berpolitik, sosial, budaya, pisik/ militer. bagaimana tidak di sumsel komunitas in mayoritas, dilampung, lebih banyak dari orang lampung dibengkulu, dijambi, di babel dan ada diseluruh indonnesia bahkan seluruh dunia. tapi walau dipisah pisahkan walaw di cerai beraikan, di jauhkan dibeda bedakan. rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) bahasa dan agama islamlah yang akan kembali menyatukan rumpun suku bangsa melayu pasemah/ besemah (gunung dempo, gunung kaba, pagar alam, lahat, musi rawas/ ulu musi termasuk kubu, lubuk linggau empat lawang muara enim, ogan, semendo, kaur, rejang, bengkulu, bukit barisan dari perbatasan sumbar- lampung.) .
    Reply
    putra sumsel Your comment is awaiting moderation.
    November 30, 2013 at 7:10 am

    orang kubu itu adalah saudara kita kasihan mereka disisihkan mereka adalah termasuk yang tua yang merupakan bagian peradaban gunug dempo dan gunung kerinci. jangan dipertidak keberadaan mereka dia adalah termasuk rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. menghina kubu berarti menghina rumpun suku bangsa pasemah/ besemah. sama dengan menghina sumsel dan bengkulu sama dengan menghina sumatra sama dengan menghina indonesia sama dengan menghina asia.
    lebih dulu kubu mempunyai peradaban dari yang lain
    Balas

    Tinggalkan Balasan
    Blog pada WordPress.com. Tema: White as Milk oleh azeemazeez.
    Tulisan dan komentarumpanSah XHTML dan CSS.
    Ikuti
    Follow “esai febrie hastiyanto”

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Powered by WordPress.com

  12. Dalam sebuah artikel di internet yang berjudul dinding angin karangan arfan rachman yang sangat sangat tidak masuk akal tidak ada bukti, tidak berdasar sama sekali yang sangat merendahkan dan menghina rumpun suku bangsa besemah/ sumsel/ batang hari sembilan. yang lebih gila lagi dari agung arlan. yang mengatakan rumpun suku bangsa besemah orang purba orang telanjang, yang di hancurkan oleh seriwijaya semudah membalikkan telapak tangan. yang di bantai habis oleh seriwijaya. pasti arfan rachman ini orang komering.
    dengar baik baik kalian semua DEMI ALLAH TIDAK PERNAH RUMPUN SUKU BANGSA BESEMAH BERPERANG DENGAN SERIWIJAYA APALAGI DIHANCURKAN DAN DIBANTAI SEMUDAH MEMBALIKKAN TELAPAK TANGAN. KALIAN SEMUA INGIN MEMUTAR BALIKKAN PAKTA BERSILAT LIDAH. ALLAH LEBIH TAU ARFAN RACHMAN DARI MANA SERIWIJAYA BERASAL. APA DAN SIAPA RUMPUN SUKU BANGSA BESEMAH. DEMI ALLAH KALAU LAMPUNG IA DIHANCURKAN DILAKNAT DAN DIKUTUK DAN DIBANTAI OLEH SERIWIJAYA DAN YANG MEMBANTAINYA TIDAKLAIN ORANG RUMPUN SUKU BANGSA BESEMAH/ PASEMAH. BUKTI SELURUH PRASASTI SERIWIJAYA DILAMPUNG MENGABADIKAN HAL ITU TERMASUK ORANG KOMERING JANGAN MEMUTAR BALIKKAN PAKTA SERIWIJAYA YANG MENGHANCURKAN RUMPUN SUKU BANGSA BESEMAH
    DAN SERIWIJAYA BERASAL DARI KOMERING DAN LAMPUNG. KALIAN MENGHADAPI ORANG BALI SAJA KEOK.
    TIDAK ADA SATUPUN PRASASTI SERIWIJAYA DI WILAYAH RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH YANG MENGATAKAN RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH DITAKLUKKAN APALAGI DIKUTUK OLEH SERIWIJAYA. SELURUH PRASASTI ATAU SURAT ULU YANG BERADA DIRUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH ITU BERISI TENTANG PENGHORMATAN DAN KEBESARAN LELUHUR. BUKTINYATA ADALAH KUBURAN PUYANG SERI BAGINDA MAPULI ATUNG BUNGSU. DAN SURAT YANG DIBUAT OLEH SERI NURUDDIN PANGLIMA ANGKATAN LAUT KERAJAAN RAO INDIA YANG MENGATAKAN BAHWA BELIAU WAFAT DIMUARA LEMATANG. YANG SETIAP TAHUN RAJA RAJA SERIWIJAYA SELALU BERZIARAH KE GUNUNG DEMPO KEKUBURAN PUYANG SERIBAGINDA MAPULI DEWA ATUNG BUNGSU. DEMI ALLAH ITU ADALAH PAKTA.
    DAN BERDASARKAN PAKTA SEJARAH PULA TELAH SANGAT JELAS PERANG DIINDONESIA INI YANG PALING PANJANG MELAWAN HINDIA BELANDA ADALAH PERANG PASEMAH/ BESEMAH DAN PERANG ACEH. ORANG ORANG PASEMAH/ BESEMAH BERKALI KALI MEMBUKTIKAN MENYERANG PUSAT HINDIA BELANDA DI SUMBAG SEL YAKNI PALEMBANG DIANTARANYA serangan orang Pasemah ke kota Palembang (1829), Lahat(1829), Musi Ulu)1837), Rejang(1840), Ampat Lawang(1840-1850) KAUR. BAHKAN PADA SERANGAN ORANG PASEMAH TAHUN 1829 ITU YANG IKUT HANYA PAGAR ALAM KISAM DAM MEKAKAU SAJA MEREKA SANGGUP MEMBAWA 3000 PASUKKAN DAN MEMBAKAR 150 KAMPUNG DIPALEMBANG YANG SUDAH DIDUDUKI HINDIA BELANDA. DAN TIDAK ADA SATUPUN ORANG INDONESIA YANG SANGGUP MENYERANG BENTENG INGGRIS DI BENGKULU YANG MENJADI MARKAS BESAR GUBERNUR JENDRAL INGGRIS YANG BERNAMA RAFLES KECUALI RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH DAN ITU ADALAH MALA PETAKA YANG PALING BESAR BAGI INGGRIS SELAMA DI INDONESIA. SEDANGKAN KOMERING SAMA SEKALI TIDAK PERNAH MENYERANG PUSAT HINDIA BELANDA YANG BEKEDUDUKAN DI PALEMBANG, BAGAIMANA BISA DIKATAKAN DAPUNTAHYANG SERI JAYA NAGA SERIWIJAYA ITU ORANG KOMERING. JELAS INI ADALAH BUKTI, PETUNJUK, ISARAT DARI MANA DAPUNTAHYANG SERIJAYA NAGA DAN 200.000 PASUKKANNYA. BARU PADA REPOLUSI PISIK PERANG KEMERDEKAAN RI ORANG KOMERING BERTEMPUR MELAWAN BELANDA, DENGAN DI BUMI HANGUSKANNYA DESA BETUNG KOMERING ULU OLEH BELANDA YANG SEOLAH OLAH ORANG KOMERING PALING BERJASA, PALING BERANI MELAWAN BELANDA, SUDAH SUDAH LAGI KOMERING ITU ANAK KEMAREN SORE TIDAK USAH MENGAJARI RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH TENTANG ARTI SEBUAH PERANG. DITAHUN 1829 SAJA RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH INI MASIH SANGGUP MELAKUKAN SERANGAN KEPALEMBANG YANG MENJADI PUSAT HINDIA BELANDA DI SUMBAGSEL PADAHAL RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH SUDAH TERCERAI BERAI AKIBAT PECAH BELAH PISAH BEDA ADU DOMBA MAJAPAHIT AKIBAT PALEMBANG DARUSSALAM, INGGRIS, BELANDA. DAPAT DIBAYANGKAN JIKA RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH INI MASIH SOLID DITAHUN 683 PADA MASA DAPUNTAHYANG SERIJAYA NAGA. SEDANGKAN KOMERING MANAPUNYA NYALI MENYERANG PUSAT HINDIA BELANDA DI SUMBAGSEL YANG BERKEDUDUKAN DIPALEMBANG. APALAGI LAMPUNG. RADEN INTAN ITU MASIH KETURUNAN RAJA BANTEN SESUAI DIA BERANI.
    DAERAH KOMERING/ LAMPUNG SELALU MENJADI TAKLUKKAN MULAI DARI SERIWIJAYA, MAJAPAHIT, PALEMBANG DARUSSALAM, BANTEN, BAJAK LAUT CINA BELANDA, INGGRIS.
    SEDANGKAN WILAYAH RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH TIDAK PERNAH DITAKLUKKAN MAJAPAHIT TIDAK PERNAH GAJAHMADA MEMASUKI WILAYAH RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH MEMANG MAJAPAHIT BERHASIL MENAKLUKKAN PALEMBANG HANYA SEBATAS PALEMBANG DAN KOMERING SAJA SEDANGKAN KEDAERAH ASLI SERIWIJAYA YAKNI RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH TIDAK PERNAH TAKLUK DENGAN GAJAHMADA DAN MAJAPAHIT, BEGITU JUGA DENGAN BANTEN YANG MENGHANCURKAN LAMPUNG DAN BENGKULU HANYA BENGKULU SELATAN YANG BERADA DI PESISIR SELATAN BENGKULU SAJA YG TAKLUK SEDANGKAN DIWILAYAH RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH TIDAK PERNAH PASUKAN BANTEN MENGINJAKAN KAKINYA. KEMUDIAN DATANG PALEMBANG DARUSSALAM ITU PUN MENAKLUKKAN LAMPUNG DENGAN PEPERANGAN DI MANGGALA SEDANGKAN DIWILAYAH RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH ITU MERDEKA DARI KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM. KEMUDIAN DATANG KERAJAAN PAGAR RUYNG MENGHANCURKAN ORAN KOMRING DAN LAMPUNG PULA SEDANGKAN RUMPUN SUKU BANGSA PASEMAH/ BESEMAH TIDAK PERNAH TAKLUK DENGAN PAGAR RUYNG APAKAH PANTAS KOMERING DAN LAMPUNG MENGAKU ASAL SERIWIJAYA YANG KATANYA BESAR KALAU SELALU JADI BULAN BULANAN DAN TAKLUKKAN DAN DIHANCURKAN OLEH SEMUA KERAJAAN SEPERTI KOMRING DAN LAMPUNG YANG SELALU DI HANCURKAN DAN DITAKLUKKAN SETIAP KERAJAAN. BAIK ITU OLEH SERIWIJAYA, SUNDA, JAWA, BANTEN, PALEMBANG DARUSSALAM PAGARRUYUNG

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: